UDD: Ujung dan Duit


Manusia modern sebagai human economicus tentu saja tidak bisa dipisahkan dengan uang, alias duit. Duit merupakan sarana transaksi modern. Berbagai barang dan jasa untuk pemenuhan kebutuhan kita sehari-hari bisa mudah didapatkan dengan duit sebagai alat tukarnya. Butuh makan, pakai duit. Butuh pakaian, beli dengan duit atau pesan ke tukang penjahit juga pakai duit. Ingin pergi ke suatu tempat, butuh kendaraan ataupun naik angkutan umum juga perlu duit. Ingin sekolah, berwisata, dolan-dolanpun tidak luput dari duit. Duit ibarat kata sudah menjadi kebutuhan primer manusia dewasa ini.

Apa-apa pakai duit. Apa-apa butuh duit. Ada manusia yang berpandangan duit hanyalah sekedar sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun tidak sedikit pula kalangan manusia yang berpendapat bahwa duit itu sendiri yang menjadi kebutuhan. Bahkan tidak sedikit diantara kita yang sudah sedemikian menjadi hamba uang. Seolah-olah tanpa duit dunia telah kiamat. Bagi kelompok manusia yang terakhir, hidup kemudian seolah-olah hanya menjadi ajang untuk menumpuk duit. Setiap hal yang dilakukan selalu dikonversi menjadi seberapa rupiah atau dollah duit yang bisa diraup. Setiap hal selalu berujung ke duit. Setiap hal dihitung ke ujung-ujungnya duit, alias UUD.

Lain UUD, lain pula UDD. Jika UUD yang kita bahas dalam tulisan kali ini mengacu kepada gejala sosial kemasyarakatan yang mendewa-dewakan uang, maka UDD yang ingin saya ketengahkan masih berkaitan erat denga tradisi Lebaran dan Idul Fitri. Ya, UDD yang saya maksudkan adalah Ujung dan Duit. Lha memang ada hubungan antara ujung dan duit?

Bagi kalangan kelompok penganut UUD alias ujung-ujungnya duit, urusan hidup adalah urusan bagaimana mengumpulkan, mendapatkan, menumpuk, menguasai, bahkan jika perlu merampas dan merampok duit. Namun sebaliknya, dalam konteks ujung dan duit atau UDD yang ingin saya bahas justru lebih menonjolkan perilaku dan semangat untuk berbagi duit. Nah kan relevasinya seperti apa kira-kira ya?

Ujung dalam khasanah masyarakat di seputaran kampung halaman kami adalah aktivitas tradisi untuk saling berkunjung di kalangan sanak saudara dan kerabat pada khususnya, hingga kepada teman, sahabat, rekan kerja ataupun sekedar kepada kenalan pada saat Hari Raya Idul Fitri. Adapun maksud atau tujuan di samping untuk mengukuhkan dan menyambung tali silaturahim, utamanya adalah untuk saling memohon maaf dan memberi maaf. Saling bermaafan satu sama lain.

Dalam perspekstif anak-anak atau para bocah, aktivitas ujung sangat berkaitan erat dengan uang saku yang dibagi-bagikan oleh para simbah, pakdhe-budhe, paklik-bulik, ataupun kalangan yang lebih tua lainnya yang disambangi atau disowani. Adalah sebuah kelaziman bagi tuan rumah yang didatangi kaum kerabat yang ujung, senantiasa memberikan uang sekedar bentuk tali asih kepada anak-anak yang turut datang berkunjung.

Sebagaimana kita ketahui bahwasanya di dalam ajaran agama Islam diajarkan bahwasanya bagi seseorang yang rajin menjalin silaturahim dengan sesama manusia, maka salah satu hikmah yang akan didapatkannya berupa kemudahan pintu rejeki dari jalan manapun, bahkan melalui cara-cara yang tidak terduga sama sekali. Setidaknya bagi anak-anak, wujud kelimpahan rejeki yang langsung didapatkan dan dirasakan pada saat bersilaturahmi melalui tradisi ujung itu tadi adalah uang saku. Maka tentunya tidak berlebihan jika ujung dapat selalu dikaitkan dengan duit, Ya itu tadi ujung dan duit, alias UDD.

Ngisor Blimbing, 13 Juli 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke UDD: Ujung dan Duit

  1. achmadmuttohar berkata:

    Wah, jadi mengingatkan masa kecil dulu. Tiap kali ujung ke rumah sanak saudara pasti dapat sangu. Lumayan buat tambahan uang jajan. Itu juga menjadi semangat di kala hari raya idulfitri. Hehehe.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Kalo anak sekarang, bukan lagi sekedar nambah uang jajan lho! Bayangkan, setiap orang ngasih sangu rata-rata antara 2.000-5.000 kali sekian rumah.Anak saya saja setiap Lebaran panen sangu bisa sampai orde jutaan lho.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s