Tradisi Among-among Lebaran


Dulu, semasa masih kecil, banyak sekali saya menjumpai berbagai tradisi dalam rangka penyambutan Hari Raya Idul Fitri atau Hari Lebaran. Salah satu diantaranya adalah among-among. Among-among sendiri sebenarnya serupa dengan kenduri. Namun among-among biasanya merujuk kepada kenduri yang diperuntukkan bagi anak-anak atau para bocah.

Secara kultur, masyarakat di pedesaan sangat lekat dengan berbagai kebiasaan untuk mensyukuri kelimpahan kenikmatan yang diterima, sekaligus sebagi wujud permohonan keselamatan. Termasuk tentu saja dengan tradisi among-among sebagaimana saya singgung di atas. Lahiran anak, bikin among-among. Neton atau hari kelahiran dalam hitungan selapan hari juga dibikin among-among. Hajatan manten hingga kematian juga tidak lepas dari among-among. Maka jangan heran jika kedatangan Idul Fitri juga disambut dengan among-among.

Among-among lebaran sedemikian istimewa. Sebagaimana disunahkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad agar sebelum mendatangi masjid atau tanah lapang untuk menunaikan sholat Idul Fitri untuk terlebih dahulu sarapan pagi, maka sejalan dengan itu among-among lebaran juga ditujukan untuk memberikan sarapan pagi kepada para bocah sebelum mengikuti sholat sunnah yang hanya setahun sekali tersebut. Hal ini yeng membuat selang waktu pelaksanaan among-among lebaran menjadi terbatas antara bakda Subuh hingga pelaksanaan sholat Ied.

Di samping diniatkan sebagai penyambutan datangnya Idul Fitri dan memberikan sarapan pagi kepada para bocah, among-among yang dilakukan juga diniatkan untuk selamatan anak-anak dari keluarga yang menyelenggarakan among-among. Demikian kira-kira ungkapan doa keselamatan yang senantiasa dipanjatkan oleh Bapak saya bagi para cucu-cucunya, mulai dari Citra, Cintya, Radya, Nadya, Daffa, Raka, Raven, dan Rantika.

Dari segi menu among-among yang dipergelarkan, sebenarnya sangat sederhana. Among-among lebaran khusus para bocah hanya menyuguhkan nasi liwet dengan sayur urap atau disebut juga sebagai kluban. Sebagai lauknya sekedar irisan telur asin dan kerupuk. Wis itu saja! Namun yang selalu menjadi magnet dan dinanti para bocah peserta among-among adalah dibagikannya uang jajanan. Untuk jaman sekarang, meskipun hanya sekedar Rp. 2.000,- atau Rp. 5.000,- namun sungguh sudah meluapkan kegembiraan yang sungguh luar biasa bagi para bocah.

Among-among khas yang dulu pernah saya dijumpai semasa masa kecil, bahkan nasi kluban dan lauk-pauknya dihidangkan beralaskan daun pisang pada sebuah nampan atau lemper (nampan tradisional terbuat dari tanah liat).  Di bawah lembaran daun pisang tersebut biasanya dikasih beras barang beberapa jimpit, arang, dan uang. Nah yang paling ramai pada saat mengikuti among-among lebaran adalah pada saat “menjarah” alias rebutan uang receh yang dicampur dengan beras dan arang itu tadi. Tak jarang pada saat berebut tangan menjadi belepotan dengan warna hitam kelam dari arang yang ada. Eloknya lagi, satu sama lain diantara para bocah kemudian saling mencorengkan tangan yang belepotan arang ke muka teman-teman yang lain.

Lain dulu memang lain sekarang. Di samping tradisi among-among lebaran semakin punah, tidak ada lagi beras dan arang. Soal uang jajan, tentu saja masih eksis sebagai prasasti tradisi untuk senantiasa menarik para bocah ngepung among-among. Setahu saya di kampung halaman tempat tinggal kami, kini hanya tersisa keluarga kamilah yang masih rutin menggelar among-among lebaran. Entah karena sebab apa sehingga berangsur-angsur tradisi yang satu ini semakin langka. Entahlah.

Lor Kedhaton, 7 Juli 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s