Tarikan Nafas dan Rahasia Kematian


Maut memang salah satu misteri ang rapat tertutup tabir rahasia-Nya. Kapan, dimana, dan dalam kondisi seperti apa kita menghadi maut, kitapun tidak ada yang tahu. Maut adalah sebuah kepastian yang pasti akan datang, dan jika ia sudah datang maka tak seorangpun akan dapat mengelaknya. Mau orang kaya raya, pejabat berpangkat tinggi, artis terkenal, bahkan orang sholeh sholihin sekalipun tidak ada yang memiliki daya untuk menghindari kepastian maut.

Hari-hari dan detik-detik menjelang akhir Ramadhan tahun ini, saya menjadi sedikit lebih serius merenungkan tentang peristiwa kematian. Setidaknya dalam hitungan Ramadhan tahun ini, ternyata Tuhan telah memanggil beberapa kaum kerabat keluarga besar kami.

Di pekan awal Ramadhan, seorang kerabat yang merupakan suami dari Bulik sepupu ibu kami dikabulkan niatnya untuk melaksanakan ibadah umroh di Tanah Suci. Rencana untuk berumroh di bulan Ramadhan tentu sudah digagas jauh-jauh hari. Kesucian dan keistimewaan bulan Puasa tentu menghadirkan nuansa untuk lebih menunjang kekhusukan dalam berumroh. Ramadhan di kampong halaman sendiri saja sudah terasa amat sangat istimewa, terlebih ber-Ramadhan sambil berumroh. Tentu berlipat-lipat kenikmatannya. Demikian sepertinya yang menjadi impian keluarga Paklik dan Bulik saya tersebut.

Di tengah rangkaian aktivitas umroh yang baru dilalui beberapa hari, keluarga besar di tanah air dikejutkan dengan kabar meninggalnya Paklik di Mekah Al Mukarommah. Dengan segala kondisi yang ada, maka segala prosesi pengurusan dilakukan di sana. Dan tentu saja pemakaman almarhummah juga dilaksanakan di sana. Hal tersebut berarti bahwa kepergian umroh yang sekaligus mengantarkan Paklik ke kehidupan abadi tersebut hanya membawa kembali kabar kematiannya ke tanah air. Pergi bawa raga, pulang tinggal nama.

Pertengahan Ramadhan. Salah satu kerabat yang lain juga sudah berancang-ancang untuk beribadah umrah di sepertiga akhir Ramadhan kali ini. Sebelum-belumnya memang ia tengah menjalani perawatan, bahkan baru selesai operasi pemasangan ring pada salah satu saluran ke jantungnya. Operasi berjalan lancer dan tidak ada indikasi adalanya ketidakberesan apalagi kegagalan. Namun baru beberapa hari berselang kembali dari rumah sakit, ternyata Tuhan berkehendak lain. Malaikat maut keburu menjemputnya ke alam baka.

Berbeda dengan meninggalnya Paklik, mangkatnya kerabat yang satu ini masih berada di tanah air. Dengan demikian tentu saja keluarga besar berkesempatan menyelenggarakan jenazahnya. Meski sudah terpisah beda alam, namun setidaknya para kaum kerabat masih berkesempatan untuk senantiasa mengunjungi dan berziarah ke makam tempat peristirahatannya yang terakhir.

Hari ini, hanya hitungan tiga hari menjelang Lebaran. Ternyata masih ada kabar kematian yang datang lagi. Kali ini salah seorang Bulik yang juga sepupu dari ibu saya, dikabarkan meninggal dunia. Belum genap suami dari almarhummah juga berpulang karena komplikasi penyakit gula yang dideritanya. Sontak saja, berita duka kali ini sungguh mengejutkan. Namun demikian, inilah fakta kematian yang memang senantiasa menjadi misteri bagi setiap insan manusia.

Kematian adalah istirahat sekaligus penantian panjang menuju alam keabadian. Kematian sudah menjadi garis ketetapan untuk setiap makhluk ciptaan-Nya. Kematian tidak pernah memandang umur atau kondisi apapun bagi si calon mayit. Kita semua adalah calon mayat. Maka salah satu nasehat pengingat bagi manusia untuk senantiasa memperbaiki kualitas keimanan dan ibadah sebagai bekal kehidupan alam barzah dana lam setelahnya adalah kematian.

Berbicara soal kematian, saya sungguh teringat salah satu pernyataan Cak Emha Ainun Nadjib beberapa hari yang lalu. Kematian memang misteri. Kematian bisa jadi bukan berbicara soal umur manusia. Kematian bisa jadi justru berkaitan dengan seberapa banyak jatah tarikan nafas oleh hidung, paru-paru, dan denyut jantung kita. Bisa jadi untuk setiap orang kita telah dijatah sekian puluh juta tarikan nafas. Jika jatah kita sudah habis, maka finallah hidup kita. Habislah umur kita. Dan itulah titik pencapaian kematian kita.

Jikalau memang umur kita ditentukan berdasarkan jatah tarikan nafas, maka cepat atau lambatnya kematian kita bisa jadi sangat berkaitan dengan sebarapa boros nafas kita. Apabila kita sering kemrungsung, punya banyak ambisi dan nafsu duniawi sehingga seluruh daya upaya, tenaga, dan pikiran diforsir untuk mengejar dunia, kita ngosngosan dan nafas kita menjadi lebih cepat tempo atau iramanya. Bisa jadi orang yang nggragas dan kemaruk dengan dunia, hidup menjadi terburu-buru, nafaspun terburu-buru, menjadi boros dan itu berarti jatah jumlah tarikan nafas yang telah ditetapkan oleh Tuhan menjadi cepat habis. Walhasil kematian datang lebih awal.

Boros tarikan nafas mungkin bisa terejawantah dalam bentuk beragam penyakit manusia modern dewasa ini. Yang jantunglah, yang paru-parulah, yang kankerlah, yang strokelah, yang gulalah, yang asam uratlah, dan semuanya.

Sebaliknya, bagi orang yang banyak berlaku sabar dan syukur, bisa jadi tempo dan irama hidupnya lebih santai, lebih rileks, tidak ada rasa kemrungsung sedikitpun. Dunia dan segalanya isinya memang diperuntukkan manusia. Namun ia hanya mengambil bagian hadup dunianya hanya sebatas keperluanna saja. Tidak ada niat apalagi perilaku untuk menumpuk-numpuk harta dan kekayaan. Tidak ada itikad untuk mengambil, menguras, bahkan merampas segala sumber daya dunia. Hidup bagi orang seperti ini lebih dimaknai sebagai ibadah untuk lebih benyak memberi dan berbagi daripada mengambil. Hidup adalah perjalanan suci untuk menghidupi kehidupan.

Orang yang tidak kemrungsung, tidak terburu-buru, tidak mengejar hidup dengan membabi-buta, tidak serakah kepada jatah rejekinya di dunia, biasanya merasakan ketentraman hidup dalam lindungan kasih saying dari Yang Maha Kasih. Seirama dengan semboyan bahwa di dalam jiwa yang sehat terdapat raga yang sehat, maka nafas hidup seseorang yang sholih sholihah tentu tidak akan habis dengan terburu-buru. Nafas hemat, berarti jatah tarikan nafasnya yang diberikan tidak menjadi cepat habis. Ini bermakna umur lebih panjang. Demikian barangkali cara pandang baru yang bisa kita terapkan dalam melihat persoalan kehidupan dan kematian, terutama berbicara soal maut. Tabik.

Ndalem Peniten, 21 Juni 2017

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s