Nadya, Kereta Api, dan Jokowi


Niat pulang mudik dengan kereta api yang sudah diniatkan dan digadang-gadang lebih dari tiga bulan silam akhirya terlaksana. Dengan kereta Argo Muria, kami start dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Tawang Semarang. Ya, kami memang sengaja ingin transit sejenak di ibukota Provinsi Jawa Tengah. Tentu saja ada agenda untuk lebih mengenalkan para bocah dengan Simpang Lima, Masjid Baiturahman, Tugu Muda, Klentheng Sam Pho Kong, hingga Masjid Agung Jateng yang memiliki menara sangat tinggi dan payung megar-mingkupnya itu.

Juga-juga…..jug-jug! Juga-juga….jug-jug!” demikian Gendhuk Nadya sangat riang ketika kereta kami mulai melaju menjauhi bayangan Tugu Monas yeng berdiri angkuh di pusat ibukota Jakarta. Sudah pasti fantasi si Gendhuk langsung membayangkan petualangan Dora ketika naik kereta api. Bukan lagi suara “ojo jajan-ojo jajan……nguk-nguk” yang difantasikan anak sekarang tetapi ya itu tadi, “juga-juga…..jug-jug, juga-juga…..jug-jug!

Kira-kira kereta melaju belum genap sampai setenga jam, si Gendhuk berbisik-bisik, “Pak ada Jokowi! Ituu…….” Secara spontan sudah pasti saya segera mengo dan merasa penasaran. Ternyata Nadya menunjuk seseorang yang berpakaian sangat necis. Berdasi dan berjas lengan panjang. Bertopi khas dan dikawal oleh beberapa orang berseragam di belakangnya. Saya sempat berpikir apakah mungkin Presiden kita tengah melakukan inspeksi mendadak dalam rangka persiapan angkutan Lebaran tahun ini? Atau jangan-jangan ia tengah melaksanakan OTT untuk pegawai yang tetap diberikan izin cuti tambahan selain cuti bersama Lebaran sebagaimana yang sudah dilarang oleh berdasarkan edaran yang telah disebarkan oleh salah seorang pembantunya?

Ketika mendengar si Gendhuk menyebut nama Presiden kita, tentu saja saya sangat terkejut. Ing atase bocah umur tiga tahun kok yo tahu-tahunya sama yang namanya Jokowi. Mungkin sedikit banyak si Gendhuk menyimak berita di tivi kali ya. Setidaknya ia bahkan perna memprotes tayangan upacara bendera 17 Agustus 2016 karena melihat Jokowi hormat menggunakan tangan kiri. Tentu saja ini hal tersebut sekedar sebuah perspektif seorang bocah yang membandingkan gambar tayangan shootingan tivi dengan dirinya sendiri ketika bersikap memberi hormat. Nah, terus kalau soal Jokowi di atas kereta yang kami tumpangi di hari kemarin? Hayo, penasaran juga nggak Sampeyan semua?

Nah, usut punya usut trenyata yang ada di benak si Gendhuk dengan sosok Jokowi adalah seseorang yang berpakaian seragam jas rapi. Menurut dia itulah Jokowi! Jadi, tentu saja yang dimaksudkan dengan Jokowi yang berdasi, berseragam jas lengan panjang, memakai topi khas dan dikawal petugas khusus di atas kereta ya tidak lain dan tidak bukan adalah pak kondektur kereta yang sedang berkeliling memeriksa tiket para penumpang. So, yang kebetulan sosok bernama Jokowi yang sedang menjadi Presiden nampaknya tidak bisa ber-GR untuk merasa dikenal di setiap bocah Indonesia. Terlebih di hadapan si Gendhuk.

Pandanaran, 18 Juni 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s