Tujuh Belas Tahun Kenduri Cinta


Salah satu simpul awal Majlis Masyarakat Maiyah yang saya tergabung di dalamnya adalah malist Kenduri Cinta. Dalam rangka persiapan pagelaran gamelan Kiai Kanjeng di Istora Senayan Jakarta pada pertengahan tahun 2000-an, kelompok musik yang dibidani Penyair Emha Ainun Nadjib melaksanakan gladi resik di salah satu auditorium yang ada di UNY.

Selepas geladi, sambil mendiskusikan berbagai masukan untuk penyempurnaan penampilan (seperti dari Mas Widjayanto dan Mbah Gati), hadirin disuguhi nasi tumpeng lengkap dengan segala kelengkapan sayur dan lauk-pauknya. Kenduri tersebut dimaksudkan sebagai perwujudan doa agar pagelaran yang akan dilakukan dapat berjalan dengan lancar dan sukses.

Sehari berselang, sebuah tulisan mengenai geladi resik Kiai Kanjeng tersebut terpampang pada salah satu surat kabar lokal Kota Gudeg. Judul yang terpampang dalam tulisan tersebut Budayawan Emha Ainun Nadjib Menggelar Kenduri Cinta. Tak seberapa lama muncul malist bertajuk Kenduri Cinta yang digawangi oleh para penggiat maiyah di ibukota Jakarta yang tumbuh dari embrio Himpunan Masyarakat Sholawat (HAMAS). Sayapun turut bergabung dalam mailist tersebut.

Tak berapa lama berselang ternyata istilah Kenduri Cinta ditetapkan sebagai nama forum diskusi rutin jamaah maiyah di Jakarta. Forum bulanan rutin tersebut digelar pada setiap Jumát malam Sabtu Minggu ke dua di Plaza Taman Ismail Marzuki.

Pada saat saya mulai merantau di ibukota Jakarta pada tahun 2003, salah satu forum yang selalu ingin saya datangi adalah Kenduri Cinta tersebut. Namun sungguh sayang, Kenduri Cinta sempat vakum untuk beberapa waktu. Sayapun terus menunggu sambil masih terus turut bergabung dengan mailist Kenduri Cinta.

Penantian yang cukup panjang itupuan akhirnya berakhir. Pada Agustus 2005 Kenduri Cinta kembali digelar. Pada saat pengaktifan kembali Kenduri Cinta, Cak Nun hadir bersama rombongan gamelan Kiai Kanjeng. Tema diskusi yang diusung pada waktu itu “Yang Mengejar Dikejar”. Seingat saya narasumber yang banyak menguraikan mengenai kemungkinannya negeri Indonesia menjadi the fail state (negara yang gagal) adalah peneliti LIPI, yaitu Bang Ikrar Nusa Bakti dan Ibu Siti Zuhro. Itulah saat-saat benar-benar mulai hadir dan bergabung dengan diskusi-diskusi di Kenduri Cinta.

Keberadaan Kenduri Cinta bagi saya yang seorang anak gunung yang kesasar menjadi perantau di rimba raya Jakarta merupakan oase di tengah kegersangan jiwa yang pada umumnya menimpa kalangan masyarakat urban. Kenduri Cinta menjadi metode untuk mempertahankan diri agar tetap waras dalam lingkungan ganas ibukota yang lebih kejam daripada ibu tiri.

Di Kenduri Cinta, kita berbicara dan belajar tentang bagaimana menjadi manusia utuh dengan segala dimensinya. Belajar tentang ketuhanan sekaligus tentang kemanusiaan. Belajar mengenai Islam, mengenai Indonesia, mengenai negara, dan mengenai apapun sepanjang dalam koridor dan batasan ruang segitiga cinta antara Allah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dan kita selaku masing-masing individu. Dari spirit segitiga cinta itulah lahir visi untuk Menegakkan Cinta Menuju Indonesia Mulia.

Kini, pada malam ini, segenap keluarga besar Majlis Masyarakat Maiyah Kenduri Cinta mengenangkan kembali jejak perjalanannya setelah 17 tahun melangkah. Refleksi dan evalusi tentu saja menjadi bagian terpenting untuk terus meneguhkan kembali keyakinan dan nilai-nilai yang senantiasa ingin diperjuangkan. Selaku hamba yang fakir, saya harus senantiasa bersyukur telah diperkenalkan dan diperjalankan untuk turut bergabung dalam berbagai tema diskusi yang diusung di Kenduri Cinta pada setiap bulannya. Secara jujur saya sampaikan bahwasanya telah banyak mutiara ilmu kehidupan yang telah saya reguk dari forum mulia ini.

Akhirul kalam, bersamaan dengan gemerisik dedaunan di paruh akhir Ramadhan 1438 H kali ini, izinkan kami menyampaikan Dirgahayu Kenduri Cinta. Kenduri Cinta, Kenduri Islam, Kenduri Indonesia, Kenduri Nusantara kita. Dari Kenduri Cinta, menegakkan cinta menuju Indonesia mulia. Sedekahmu untuk agama, untuk bangsa, untuk negara, untuk Indonesia, untuk dunia, untuk kemanusiaan, dan untuk Tuhan masih senantiasa akan dinanti. Monggo…..

Ngisor Blimbing, 16 Juni 2017

 

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s