Bersiap Untuk Mudik


Ramadhan memang baru jelang terlewati dua pertiganya. Idul Fitri masih lebih dari sepuluh hari lagi. Namun entah mengapa, ada semacam perasaan kurang sronto, ingin sesegera mungkin sampai di kampung halaman. Lebaran adalah momentum yang teramat sangat istimewa bagi kami, saya, keluarga dan keluarga besar. Momentum dimana secara khusus kami dapat berkumpul, bertegur sapa dan bertatap muka secara langsung. Maka meski jauh di tanah rantau, kami senantiasa bela-belain untuk selalu mudik ke kampung halaman.

Mudik bukanlah persoalan sederhana bagi kami yang tergolong keluarga pas-pasan. Pulang bersama seluruh anggota keluarga, dari yang paling tua hingga para cindhil abang tentu membutuhkan persiapan semenjak jauh-jauh hari. Dikarenakan keluarga kami bukanlah keluarga yang memiliki kendaraan mobil pribadi untuk bermobilitas, tentu saja kami senantiasa setia dengan moda transportasi umum untuk mudik. Dan pilihan realistis dari segi keterjangkauan harga tiket maupun terbebasnya dari kemacetan lalu lintas, maka kami selalu berusaha untuk mudik dengan kereta api.

Dengan sistem reservasi tiket kereta api yang sudah bisa dipesan H-90 sebelum hari keberangkatan dan dilakukan secara online, sudah pasti persaingan atau bahkan “perebutan” tiket di dunia maya selalu terulang dan berulang setiap tahunnya. Ratusan ribu orang rela bangun tengah malam untuk memasan tiket kereta api. Nah, apesnya bagi keluarga kami. Dibela-belain bangun bahkan begadang tengah malam, namun semenjak pemberlakukan reservasi online 3 bulan sebelum keberangkata ini kami hampir bisa dikatakan tidak perah beruntung. Artinya tiket pada hari keberangkatan yang kami rencanakan senantiasa meleset. Tidak kebagian tiket!

Akhirnya strategi kompromi dengan keadaan harus dilakukan. Jika kami mengincar suatu tanggal dan ternyata tiket pada tanggal tersebut sudah ludes, maka kamipun memajukan rencana kepulangan mudik kami. Jatuh-jatuhnya kami memesan tiket untuk keberangkatan jauh-jauh hari sebelelum puncak arus mudik. Biasanya sekitar seminggu menjelang Lebaran kami sudah mudik duluan.

Strategi mudik duluan tersebut tentu saja berkonsekuensi kami harus menambahkan cuti tahunan di samping cuti bersama yang biasanya diberlakukan pada hari raya keagamaan, termasuk untuk Idul Fitri. Hal inilah yang mendorong kami untuk kemudian senantiasa “mengirit-irit” cuti tahunan untuk dipergunakan pra dan pasca cuti bersama Lebaran. Dengan demikian kami sangat jarang mengambil cuti tahunan, kecuali dirangkaikan dengan cuti bersama saat Lebaran.

Nah khusus rencana mudik tahun ini, kami sempat khawatir dan juga merasa dag-dig-dug dengan adanya surat edaran dari “pengelola pabrik” bahwasanya dikarenakan ada kebijakan terkait cuti bersama tidak mengurangi atau memotong hak cuti tahunan para pegawai, justru ada kebijakan yang menghimbau (untuk tidak mengatakan melarang) karyawan cuti sebelum dan sesudah pelaksanaan cuti bersama Lebaran tahun ini.

Edun ya! Bagi kami keluarga kecil yang mudik denga berdesak-desakan, berpanas ria, bermacet-macetan dengan trasportasi umum, kabar edaran tersebut bagaikan samberan geledek di siang bolong. Bagaimana mungkin? Apakah kami harus batal mudik? Apakah tiket yang sudah sangat susah payah kami dapatkan tiga bulan sebelumnya harus hangus bin muspra tidak jadi dipakai? Apakah kebijakan tersebut cukup adil untuk orang-orang kecil yang tidak punya kendaraan pribadi untuk mudik?

Bagi yang berkendaraan pribadi, mau pulang mudik kapanpun mungkin tidak pernah menjadi persoalan. Kapanpun ingin berangkat mudik, tinggal pancal gas mobil dari garasi rumahnya. Meskipun berisiko mengalami kemacetan parah di jalur mudik darat, mungkin bukan menjadi sebuah persoalan yang besar. Namun bagaimana dengan kami? Orang kecil yang rela “berpuasa” untuk tidak mengambil hak cuti di lain waktu dikarenakan hanya ingin berkumpul bersama dengan keluarga besar di Hari Lebaran. Orang-orang pinggiran yang rela berdesakan di kendaraan umum untuk tidak menambah kepadatan kendaran yang semakin memacetkan jalur lalu lintas. Orang pas-pasan yang tidak ingin menambah polusi akibat BBM yang terbakar dengan boros. Orang yang justru memiliki kesadaran mengenai terbatasnya sumber daya BBM cadangan yang kita miliki dan harus kita irit-irit agar anak cucu kita masih kebagian jatahnya pada jamannya nanti?

Ah, entahlah….. Mungkin pemikiran dan perasaan saya yang terlampau melankolis apa ya? Namun satu yang perlu sangat kami syukuri bahwa kami masih tetap dapat mudik pulang kampung di tahun ini. Dikarenakan tiket pesanan yang sudah kami bayar jauh-jauh hari sebelum Ramadhan, kami “diloloskan” untuk berangkat mudik pada kloter-kloter awal. Ya, pengajuan cuti kami dikabulkan oleh pihak manajemen pabrik yang berkewenangan. Alhamdulillah! Lalu nikmat Tuhanmu yang manakah lagi yang masih kita pertanyakan?

Lalu seperti apakah makna mudik bagi keluarga kecil kami? Sebuah tulisan yang pernah saya torehkan beberapa tahun silam masih senantiasa relevan untuk diperbarui kembali maknanya. Mudik bagi kami adalah titik balik siklus kehidupan.

Serpong, 15 Juni 2017

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s