Kopdar Ngisor Pring


Selepas berbuka ala kadarnya dan menunaikan sholat Maghrib, kami bertiga meluncur menyusuri jalanan utama di Kota Balikpapan. Keremangan malam yang sudah menyapa sempurna menjadikan jalanan yang minim dengan lampu penerangan menjadi kian temaram. Kami sekedar ingin mencicipi sajian kuliner kota terkenal di Kalimantan Timur itu. Jadilah pilihan menu kami justru soto banjar. Meski jika dilitik dari namanya menu soto yang satu ini bukan menu asli Balikpapan, namun dikarenakan masih menyandang nama satu pulau, okelah tidak ada salahnya jika kami mencoba.

Warung soto banjar di samping sebuah masjid pada sebuah mulut gang kampung itu nampak penuh sesak dengan pengunjung yang ingin berbuka. Selain datang berombongan, ada pula pengunjung yang datang berkeluarga. Ayah, ibu, lengkap dengan anak-anaknya. Jadilah hampir semua bangku telah terisi. Untunglah kami masih mendapatkan sisa meja dan kursi yang belum terisi di salah satu sudut warung tersebut.

Sejenak memesan menu soto banjar komplit dan minuman jeruk anget, datanglah serombongan pengunjung yang lain. Mereka segera menggantikan rombongan lain yang sudah selesai makan di deretan meja sebelah kami.

Sedikit melirik rombongan yang baru datang tersebut, perasaaan saya tiba-tiba saja mak tratap. Pandangan mata saya langsung menangkap sesosok orang yang sepertinya pernah saya kenal. Saya menjadi lebih yakin dengan penglihatan saya ketika melihat kaos putih yang dikenakan orang tersebut. Sebuah kaos bergambar sederhana, khas sebuah kota di Jawa Tengah. Dan ada pula tilisan jelas berbunyi, “SOLO”. Wah jelas tak salah lagi, dialah sosok teman pengembara di dunia blogger yang menyandang gelar kondang sebagai “blogger santri”. Ada yang tahu sosoknya?

Blogger santri sebenarnya memiliki nama asli Rochmad Munawwir. Ia sering dipanggil pula sebagai Ciwir. Blogger yang orang Solo ini dulunya menjadi salah satu punggawa yang mandegani Komunitas Blogger Bengawan Solo. Ketika bergabung dengan Pattiro Regional Magelang, kami pernah terlibat secara intensif membidani kelahiran Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang. Kami dan beberapa perintis yang lain kemudian dikukuhkan sebagai sesepuh dari komunitas tersebut.

Berhubung suasana warung soto banjar yang kami kunjungi ramai, bahkan sedikit hiruk-pikuk, maka kami berdua sepakat menyingkir ke sisi sebelah gang di seberang masjid. Antara gang dan warung yang ada dibatasi dengan deretan gerumbulan pohon bambu rindang. Memang suasana menjadi agak sedikit remang nan temaram, namun setidaknya kami menjadi lebih santai untuk sedikit melakukan obrolan. Jadilah edisi kopdar kami berdua tersebut sebagai kopdar ngisor pring. Bahkan ada yang mengomentari fot temaram kami seolah-olah sedang nyakruk di kuburan (wuaduh….).

Kopdar, alias kopi darat, bagi seorang pengembara dunia maya memang sebuah pelengkap pertemanan di ranah dunia maya yang senantiasa dirindu dan dinanti. Kopdar menjadi sarana untuk mempertegas sebuah tali pertemanan, persahabatan, bahkan persaudaraan yang sebelumnya sudah terjalin. Kopdar memang hanyalah sebuah istilah yang kemudian menjadi populer seiring merebaknya budaya dunia maya. Sebelumnya kita sebenarnya sudah mengenal kultur silaturahim dengan saling kunjung-mengunjungi.

Era dunia maya masa kini memang sudah sangat jauh berbeda dengan era sepuluh tahun silam. Dengan maraknya FB, instagram, ataupun WA semakin menggeser media sosial yang telah lebih dahulu hadir, yaitu blog. Tidak perlu menulis dengan panjang lebar dan mendalam, media sosial masa kini lebih mengedepankan eksistensi seseorang meskipun semangat untuk berbagi informasi, motivasi, maupun pengetahuan lain juga masih ada. Namun demikian kami berdua mungkin saat ini hanya menjadi sekedar sisa-sisa sejarah para pioner blogger yang dulu pernah mengibarkan tulisan-tulisan yang mungkin dianggap punya arti dan kekhasan tersendiri.

Ya, beginilah dinamika dunia. Baik dunia nyata maupun dunia maya terus bergerak seiring perputaran roda waktu. Dan siapa yang tahu waktu akan mengantarkan kita kepada episode kehidupan yang seperti apa? Mungkin kita masih layak bertanya kepada rumput ilalang yang bergoyang. Salam blogger.

Lor Kedhaton, 13 Juni 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Blogger dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s