Qunut Kupatan


Bulan emas mengambang cemerlang. Sinar purnamanya terpancar terang benderang. Ramadhan tepat berada di puncaknya. Ramadhan telah sampai di titik tengahnya. Titik kulminasi. Semenjak siang hari menjelang purnama Ramadhan, ibu-ibu sibuk menanak nasi kupat. Meski Lebaran belum di ambang mata, tetapi ketupat itu benar-benar ditanak dan dimasak. Bukan untuk dihidangkan kepada para tamu, tetapi setelah matang kupat itu dikumpulkan ke mushola atau masjid terdekat. Ya, malam purnama Ramadhan adalah malam “Qunut Kupatan”.

Kupat atau ketupat konon menjadi menu kuliner khas yang mewakili nuansa Idul Fitri atau Hari Raya Lebaran. Tepat setelah satu bulan penuh umat Islam melaksanakan ibadah Bulan Ramadhan. Kupat, yang oleh masyarakat Jawa dimaknai dengan “ngaku lepat” menjadi simbolisasi budaya saling memaafkan diantara sesama. Kupat identik dengan Idul Fitri.

Meski kupat identik dengan menu sajian khas Lebaran, tentu bukan berarti bahwa kupat hanya disantap pada saat Idul Fitri semata. Tentu tidak ada dalil ataupun hukum yang memberikan pernyataan bahwa di luar Idul Fitri kita dilarang makan kupat. Kupat bisa saja hadir bersama dengan tahu menjadi kupat tahu. Kupat bisa bergabung dengan toge menjadi kethoprak khas Jakarta. Pun kupat bisa digabung dengan sayur lodeh labu siam atau jipang menjadi ketupat sayur.

Lain kupat opor, kupat tahu, kethoprak, ataupun ketupat sayur, lain pula “qunut kupatan”. Qunut kupatan adalah sebuah tradisi yang sudah pasti berkaitan dengan kupat. Di beberapa daerah, termasuk di kampung tempat tinggal kami. Qunut kupatan menjadi tradisi penanda titik puncak Ramadhan yang datangnya bersamaan dengan tampilnya bulan penuh alias bulan purnama.

Tarawih di malam purnama Ramadhan adalah saat-saat yang begitu istimewa. Saat dimana tradisi qunut kupatan digelar. Kupat yang terkumpul siang hari sebelumnya dibagai-bagi kepada setiap jamaah sholat tarawih. Lebih khas dari malam sebelumnya, setiap rakaat terakhir sholat witir selalu ditambahkan dengan doa qunut. Dari sinilah istilah qunut kupatan muncul.

Bagaimana dengan kampung tempat tinggal Anda? Apakah juga ada tradisi semacam qunut kupatan?

Ngisor Blimbing, 11 Juni 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s