Ngung, Tanda Buka Puasa


Di masa Bulan Ramadhan pada saat ini, konon acara yang paling fevorit dan paling dinanti-nanti oleh ummat muslim yang berpuasa adalah “saat adzan Maghrib”. Saat yang dimaksudkan di sini tentu saja bukan Bang Saat tetangga sebelah yang berprofesi sebagai tukang ojek. Saat yang dimaksud adalah waktu tiba sesuatu. Kenapa acara yang satu ini senantiasa menjadi yang paling dinanti? Ya, tentu saja karena di saat adzan Maghrib orang yang berpuasa tengah selesai menjalani puasa pada suatu hari tertentu.

Maghrib adalah wayah surup. Saat sang mentari kembali ke peraduannya. Ketika matahari turun ke batas cakrawala dan gelap mulai menyelimuti hamparan permukaan bumi. Detik-detik itulah dimana ummat yang berpuasa mengakhiri puasanya. Orang jaman sekarang lebih mengenalnya sebagai saat berbuka puasa. Saat adzan Maghrib kemudian berkumandang memuhi seluruh relung ruang darat dan udara.

Di masa lalu ketika peralatan digital dan komuikasi belum secanggih pada saat ini, tanda tibanya waktu Maghrib juga masih ditandai dengan tanda-tanda yang sederhana. Ada yang pada saat Maghrib tiba memukul kentongan, dan kemudian memukul bedug. Dan ketika belum ungsumnya pengeras suara TOA, tentu saja adzan hanya dikumandangkan sebatas volume suara yang keluar dari mulut seorang muadzin. Masih serba manual, bahkan tradisional.

Di satu sisi, pada saat saya masih kecil dahulu saluran komunikasi yang paling canggih barulah radio. Radio menjadi media hiburan dan informasi yang hamper dimiliki oleh setiap rumah tangga di dusun kami. Demikian halnya ketika menunggu detik-detik saat tibanya adzan Maghrib, kami juga mengandalkan informasi dari siaran radio.

Adalah Radio RRI Programa II Yogyakarta merupakan salah satu radio milik pemerintah yang mampu memancarkan gelombang siarannya hingga di angkasa dusun kami. Karena radio pemerintah, kami menjadi paling mempercayainya untuk urusan standar waktu. Demikian halnya untuk mengetahui saat adzan Maghrib, saat dimana kami berbuka puasa di Bulan Ramadhan juga kami kiblatkan ke RRI Nusantara Yogyakarta tersebut.

Satu hal yang paling unik mengenai tanda detik-detik menjelang adzan Maghrib yang diputar melalui RRI, adalah bunyi nguuuung. Bunyi nguuuung? Apa maksud daripada bunyi nguuuung tersebut? Alih-alih memperdengarkan bunyi putaran rekaman suara kentongan dan bedug, RRI Yogyakarta justru memutar suara meraung-raung nan nyaring bunyinya. Sebuah suara sirine dengan alunan nada tinggi menjadi penanda berbuka puasa. Karena sebab di ataslah maka anak-anak, bahkan orang dewasa sekalipun mengistilah saat tibanya waktu Maghrib sebagai ngguuuung.

Jadi kalau seseorang bertanya, ” Opo wis ngguuuuung?”, maka yang dimaksudkan adalah apakah waktu Maghrib telah tiba? Mungkin di masing-masing daerah memiliki istilah khusus tersendiri perihal saat adzan Maghrib tiba. Ada yang mengistilahkannya sebagai “dung” karena saat tersebut ditandai dengan bunyi pukulan bedug yang dipukul. Bagaimana dengan di tempat Anda semua? Adakah pula hal yang unik?

Balikpapan, 5 Juni 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s