Bingung Mikir Sarung


Sarung hanyalah selembar kain yang dipersatukan ujungnya. Ya, hanya perlu satu jahitan lurus dan tidak ruwet untuk menyatukan kain terbuka menjadi sebuah lingkaran kain. Satu dan kesatuan adalah filosofi jahitan pada selembar kain sarung. Sarung juga bisa dimaknai sebagai roda kehidupan yang siklis, melingkar, bundar bagaikan roda sehingga kadang ada yang di bagian atas namun di lain waktu harus legowo untuk berada di bagian bawah. Dinamika hidup adalah lingkaran. Hidup bukanlah bentangan garis lurus tanpa ujung,. Hidup adalah lingkaran kenyataan.

Sarung mungkin hanya dianggap sekedar kain biasa. Ada yang menganggapnya sekedar simbol masa lalu, sisi primitif, budaya desa daripa kota. Sarung adalah wujud nilai tradisionalisme. Orang modern mungkin memang jarang bahkan tidak pernah mengenakan sarung. Tetapi Mbah Warno, Lik Jumino, Wo Karso, atau Pakdhe Mento masih berjamaah di masjid dengan senantiasa bersarung. Demikian halnya sebagian masyarakat di kampung kami. Kampung Kosong di pinggiran lajur tapal batas ibukota.

Di dalam sanubari terdalam, di bawah kesadaran jiwa yang tertinggi, sadar atau tidak sadar ternyata sarung tidak terhenti hanya sekedar sarung bagi saya. Ternyata sekedar sarung kotak-kotak dengan warna yang sudah kusam karena umurnya yang sudah lumayan lama mampu menggetarkan hati dan perasaan. Bukan isapan jempol maupun omong kosong, perasaan ndredhek melihat sarung ini saya rasakan saat taraweh tadi di mushola kami.

Bagaimana bisa? Saya justru balik bertanya kepada Anda semua. Apa yang terbayang di pikiran sampeyan jika melihat sarung kusam yang selam ini setiap menemani kita bersembahyang tiba-tiba melekat di tubuh orang lain yang tepat berdiri pada baris di depan kita? Kalau kepindahan kepemilikan sarung tersebut melalui hal yang sewajarnya sih no problem. Tetapi kalau kepindahan tersebut tanpa pernah ada ijab dan kabul yang memenuhi syarí, kasarnya melalui tindak laku clemer alias laku tangan panjang, bagaimana coba? Tentu saja meskipun bukan sulap dan bukan sihir, tetapi saya yakin akan ada hal yang mengganjal di dalam perasaan kita.

Memang sarung yang tengah saya bicarakan memang hanyalah sarung. Beberapa bulan silam, saya memang merasakan ketiadaan sarung kesangan tersebut. Istri juga berpikiran sama. Sarung yang itu kok nggak pernah terlihat lagi. Perasaan terakhir masih sempat mencuci dan menjemur sarung kotak-kotak bercorak kusam tersebut. Hingga pada suatu hari kecurigaan timbul. Kok tiba-tiba sarung tersebut dikenakan tetangga sebelah rumah?

Pada awalnya saya tidak mau berburuk sangka dengan tetangga sendiri. Saya selalu menekankan mungkin memang sekedar kebetulan saja corak sarungnya sama. Tokh bukankah sangat banyak sarung dengan corak yang serupa diproduksi, dijual-belikan, dan dipakai orang-orang? Akhirnya sayapun lebih memilih bersikap untuk melupakannya saja.

Namun ketika malam ini saya bertarawih pada barisan tepat di belakang orang yang bersarung yang ini, ada semacam pancaran gelombang kedekatan perasaan dengan sarung itu. Ada getar gelombang entah seperti apa rupa dan warna. Ada frekuensi terpancar yang memberikan kedekatan hai tersendiri. Ada bau dan aroma kuat yang sepertinya sangat saya kenal, sangat saya pahami, sangat saya hayati sehingga tiada kesimpulan lain yang mampir di benak saya bahwa sarung itu memang sarung saya yang dulu itu.

Ah, sudahlah. Lebih baik jangan diterus-teruska berburuk sangkanya. Kalaupun memang sarung itu adaah sarung yang dulu pernah saya miliki, mungkin yang memakainya sekarang jauh lebih memerlukannya. Atau bisa jadi ia sengaja “ngalap berkah” karena melihat saya hidup bahagia dengan sarung itu. Maafkan! Nyebar godhong koro, sabar sakwetara wektu.

Ngisor Blimbing, 31 Mei 2017

Foto dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s