Ramadhan Obat Hati


Sekedar mencatat ceramah Ustadz Agus SH bakda sholat tarawih di mushola kampung kami malam ini. Tema yang diangkat adalah soal obat hati. Ramadhan adalah obat hati, pelipur hati, penentram kalbu, penenang hati, penyejuk hati. Para simbah mengajarkan di masa kecil kami sebagai tombo ati, sebagaimana syair sholawatan yang kerap kami senandungkan diantara adzan dan iqomad. Konon syair tersebut dirangkai oleh Kanjeng Sunan Ampel atau Sunan Bonang. Saya sendiri tidak tahu pasti.

Tombo ati iku ana limang perkara. Penentram hati ada lima hal. Yang pertama membaca Qurán lengkap dengan maknanya. Ke dua, mendirikan sholat malam. Ke tiga, berkumpul dengan orang-orang sholeh. Nomor empat, menahan lapar alias berpuasa. Dan yang ke lima berlama-lama tenggelam dalam berdzikir malam. Lalu bagaimana bisa disimpulkan bahwasanya Ramadhan adalah obat hati?

Coba kita cermati secara seksama. Dari kelima unsur penyejuk hati tersebut apa yang tidak ada di Bulan Ramadhan ini. Membaca Qurán? Bukankah pada malam-malam di Bulan Puasa ini, di kala lepas sholat tarawih ditunaikan, banyak diantara kita yang bertadarus. Menderas bacaan kita suci ummat Islam tersebut? Di samping, pada bulan ini juga hampir setiap hari kita turut mendengarkan berbagai ceramah, pengajian, tausiah yang mendalami kembali arti, makna, dan kandungan suci dari setiap ayat-ayat Allah? Ya, pada Ramadhan pulalah Al Qurán mulai diturunkan sebagai pembeda antara urusan yang haq dan urusan yang batil.

Pelipur hati yang ke dua adalah mendirikan sholat malam. Masih di Bulan Suci Ramadhan, kita setiap malam diajarkan untuk menunaikan qiyamul lail, alias sholat tarawih. Urusan sholat fardlu lima waktu, mungkin masjid dan mushola kita masih tetap biasa-biasa saja di bulan ini. Tetapi lihatlah wahai saudaraku! Gilirannya sholat tarawih, masya Allah betapa penuh sesaknya masjid, surau dan langgar-langgar di lingkungan kita. Hampir setiap ummat Islam, lelaki-perempuan, tua-muda, besar-kecil, semua tumplek blek mengikuti sholat tarawih. Hal ini nampak sekali terasa di awal-awal penggal Bulan Ramadhan.

Obat hati yang ke tiga adalah berkumpul dengan orang-orang sholeh. Pada Bulan Ramadhan intensitas kita pergi ke masjid, mengikuti pengajian, mendengarkan ceramah tentu menjadi lebih sering kita lakukan dibandingkan di waktu-waktu lain. Dan pastinya dalam setiap pelaksanaan ibadah itu sebagain besar diantaranya kita lakukan bersama-sama dengan orang lain, dengan berjamaah. Tentu saja orang-orang yang berbarengan dengan kita dalam sholat, dalam tadarus, dalam tarawih, dalam pengajian dan lain sebagainya tidak pernah kita ragukan sebagai orang yang tidak sholeh. Mereka adalah orang-orang sholeh. Kita semakin intensif berkumpul dengan orang-orang sholeh di bulan nan mulia ini. Bukankah demikian?

Kemudian puasa. Bulan Ramadhan adalah bulan puasa. Selama sebulan penuh ummat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa atau shaum. Dari mulai terbit fajar di ufuk timur hingga matahari tenggelam di ufuk barat, kita dilarang untuk makan-minum dan segala hal yang membatalkan puasa. Berlapar dan berdahaga mengajarkan kepada ummat untuk berempati dengan saudara-saudara kita yang kurang beruntung nasibnya hingga tidak pernah berkecukupan soal makan dan minumnya sehari-hari. Puasa juga mengajarkan kejujuran. Puasa adalah inti daripada Bulan Ramadhan.

Terakhir dzikir malam. Selepas sholat fardlu kita berdzikir. Selepas tarawihan kita berdzikir. Selepas mengaji Al Qurán kita berdzikir. Bahkan bacaan Al Qurán itu sendiri adalah dzikir. Dzikir pada intinya adalah mengingat Allah, dalam setiap kesempatan, pada setiap waktu dan dimanapun kita berada. Bahkan di Bulan Ramadhan ini tidak siang tidak malam kita lebih-lebih lagi memperbanyak dzikir kepada Allah.

Jadi saya pastinya sangat setuju dengan ungkapan Ramadhan adalah obat hati. Selama sebulan ini kita digembleng dengan berbagai amalan ibadah yang dapat membentuk ummat Islam menjadi pribadi-pribadi yang muttaqien, bertaqwa kepada Allah SWT. Semoga. (Sekedar catatan malam sebagai pengingat jiwa).

Ngisor Blimbing, 29 Mei 2017

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Ramadhan Obat Hati

  1. Arif Wahyu berkata:

    Manteb Mas.. setuju dengan ungkapan tersebut, makanya rasa2nya pengen bulan ramadhan itu berlaku untuk semua bulan, serasa adem hati dan pikiran..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s