Kutipan Ceramah ala si Ponang


“Tentang khutbah Rasulullah: Bulan Ramadhan bulan yang mulia dan penuh ampunan. Orang yang memberi kekenyangan dakan diberi kesempatan masuk surga.”

“Kita berpuasa untuk sabar. Orang yang sabar akan jadi nabi. Orang yang sabar kuncinya surga. Kalau kita tidak ibadah, kita yang akan rugi.”

“Waktu yang berharga harus kita manfaatkan. Rasulullah SAW mengingatkan yaitu dua, yang pertama nikmat sehat, dan yang ke dua nikmat waktu. Allah masih memberikan kita sehat agar selalu beriman.”

Namanya juga bocah. Baru umur sembilan lewat dan masih duduk di bangku SD kelas III. Maka kita tentu saja harus sangat memaklumi mengenai apa yang dikutip atau dirangkumnya ketika mendengarkan pengajian dari para ustadz. Ketiga kutipan di atas adalah kutipan singkat dari para ustadz di mushola kampung kami pada saat mengisi ceramah selepas usai menunaikan sholat tarawih.

Ya harap maklum wahai sedulur semua. Namanya juga anak-anak yang mencatat. Tentu saja mendengarkan ceramah pengajian juga masih dibawa bercandaan. Sambil bersenda-gurau dengan teman-teman sebayanya. Walhasil, jangankan konsentrasi menyimak isi ceramah dengan sebaik-baiknya, tentu yang didengar hanya separo-separo. Ibarat kata para simbah bungen tuwa, mlebu tengen metu kiwa. Masuk dari telinga kiri, sejenak kemudian segera keluar lewat telinga kanan. Sekali lagi ya kita sebagai orang yang lebih dewasa dituntut ekstra untuk memberikan permakluman. Dan justru di sinilah ladang amal ibadah kita semua untuk terus menasehati dengan mengarahkan anak-anak kita untuk melakukan sesuatu secara amanah, secara bertanggung jawab, dan penuh kejujuran.

Tahun ini adalah tahun pertama dimana si Ponang mendapatkan tugas khusus berkenaan dengan kegiatan Ramadhan yang dijalaninya dari para guru di sekolahannya. Sebagaimana sebagian besar diantara kita dulu juga pernah mendapatkan tugas untuk mencatat berbagai amalan ibadah Ramadhan yang dikerjakan. Ada catata mengenai sholat fardhu, puasa penuh atau buka di tengah jalan, mengenai sholat tarawih, ceramah kultum atau kuliah tujuh menit, tadarus, dlsb.

Tidak hanya terhenti pada sebuah catatan pengakuan, setiap pelaksanaan amalan ibadah yang dikerjakan harus diketahui oleh ustadz ataupun orang tua. Tentu saja suatu amalan yang dikerjaka baru bisa dinilai telah dikerjakan apabila disaksikan oleh ustadz maupun orang tua dengan pemberian paraf atau tanda tangan pada form yang telah disediakan. Lebih daripada sekedar merekam atau mencatat kegiatan Ramadhan yang dikerjakan, buk catatan Ramadhan sebenarnya menjadi energi penguat niat untuk anak-anak kita mengerjakan amalan di bulan mulia ini. Di samping itu akan terbina rasa disiplin, rasa tanggung jawab, dan yang jauh paling penting adalah latihan kejujuran semenjak usia dini.

Sampeyan pernah punya pengalaman berkaitan dengan buku tugas Ramadhan tersebut? Atau mungkin Anda semua juga tengah mengawal anak-anak untuk belejar dan berlatih menjadi ummat Islam yang sebenar-benarnya di bulan nan suci kali ini? Monggo yang punya pengalaman serupa dapat turut berbagi cerita di sini. Dipersilakan.

Ngisor Blimbing, 28 Mei 2017

Foto dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s