Marhaban Ya Ramadhan


Maha Suci Engkau wahai zat yang telah mempertemukan kembali hamba dengan Bulan Ramadhan. Bulan suci yang penuh semarak dengan berbagai kegiatan kebersamaan. Mulai ngangklang alias membangunkan warga untuk bersiap sahur di dini hari. Subuh berjamaah lengkap dengan kuliah  Subuhnya. Kemudian jalan-jalan menyusuri jalanan beraspal di desa kami sambil menyambut fajar dalam keceriaan canda muda-mudi.

Ketika matahari semakin tinggi menjelang siang, para bocah biasa berombongan pergi memancing. Menyusur kali dengan grojokan ataupun mungkin bendungan-bendungan kecil tempat ikan kotes dan wader berkumpul. Memancing adalah kegiatan pengisi waktu yang paling efektif untuk menunggu saaat Dzuhur tiba. Tengah hari kami mandi demi menyegarkan tubuh yang sedikit melemah namun sekaligus bersiap untuk Dzuhur berjamaah.

Selepas Dzuhur kami bersantai di serambi masjid, ataupun di thethekan tempat gardu ronda berpusat. Leyeh-leyeh sambil tidur-tiduran. Atau kadang kami selingi dengan sekedar iseng main kartu remi atau domino. Asharpun tiba. Semua bergegas kembali sembahyang berjamaah. Selepas itu anak-anak dibimbing para pemuda-pemudi berkumpul di serambi masjid untuk ngaji bersama, berdongeng bersama, bernyanyi bersama, belajar doa-doa pendek juga bersama-sama. Tentu saja sambil menunggu waktu berbuka tiba. Kebersamaan terindah inilah yang kami sebut sebagai takjilan.

Maghribpun tiba. Menggema suara nguuuuung dari radio yang disetel warga. Memang pathokan kami untuk berbuka adalah suara sirine yang tersiar dari Radio RRI Nusantara II Yogyakarta. Ngung adalah kata lain dari waktu Maghrib. Ngung adalah penanda selesainya puasa di hari itu. Ngung adalah saat berbuka puasa. Ngung pulalah penanda senja segera tiba dan haripun berganti, dalam hitungan tahun Hijriyah tentu saja.

Selepas turun dari sholat Maghrib kamipun biasa pulang ke rumah masing-masing. Jika pada saat takjilan sudah dihidangkan makanan nasi megono, tentu kami tidak lagi makan di rumah. Namun bila perut belum terisi nasi, kamipun berkumpul satu keluarga untuk bersantap bersama. Nuansa buka dan berkumpul bersama keluarga adalah saat-saat yang tidak akan pernah bisa terlupakan, bahkan hingga saat ini.

Ketika adzan Isya’ berkumandang, kamipun bergegas menuju masjid atau surau. Kali ini kami bersiap untuk sembahyang Isya’ yang dilanjutkan dengan sholat tarawih. Tarawih di desa kami cukup singkat. Hanya sebelas rakaat. Delapan tarawih dan tiga sholat witir. Tarawih adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi para bocah. Selepas tarawihan, sambil mendengarkan kultum alias kuliah tujuh menit dari Pak Kyai, kami menikmati jaburan. Hidangan minuman santan kelapa yang hangat nan harum aroma panili. Dan kebanggaan para bocah di desa kami adalah seberapa banyak cangkir tersisa sebagai bukti malam itu kami minum jaburan berapa banyak.

Malam memang terus menuju larut. Agendapun bergulir ke tadarusan. Tadarusan merupakan kegiatan untuk nderes atau mengaji Al Qurán secara bersama-sama. Biasanya peserta tadarusan didominasi oleh para muda-mudi. Namun demikian anak-anak juga seringkali nimbrung, ataupun sekedar turut berkumpul dan menyimak dari balik jendela serambi masjid.

Malam di bulan Ramadhan adalah malam tanpa henti. Malam Ramadhan adalah malam dimana ronda kampung diaktifkan kembali. Bagi para bapak ataupun pemuda yang mendapat giliran piket ronda, mereka berkumpul di pos ronda yang biasa juga disebut dengan thethekan. Untuk menjaga mata tetap melek dan tidak tertidur, para peronda biasa bermain kartu remi ataupun domino. Sesekali mereka patroli keliling kampung. Menjelang dini hari adalah tugas para peronda untuk membangunkan warga agar bersiap untuk kembali sahur.

Demikian siklus harianpun berulang-ulang berlangsung hingga di malam takbiran. Detik-detik dimana ummat Islam merayakan kemenangan, menyambut kedatangan hari fitri. Hari raya yang senantiasa mendatangkan kebahagiaan yang sungguh luar biasa.

Itulah siklus hari-hari kami dalam menjalani Ramadhan. Ramadhan di perantauan yang kini kami jalani tentu tidak sama dengan Ramadhan di desa kami, di waktu masa kecil kami. Namun demikian, kehadiran Ramadhan senantiasa membawa kebahagiaan tersendiri. Ramadhan telah kembali terbentang sebagai ladang amal ibadah kita. Semoa kita tidak menyia-nyiakannya begitu saja. Ramadhan ya Ramadhan. Marhaban ya Ramadhan, marhaban ya syahrosyiyam.

Ngisor Blimbing, 26 Mei 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s