Kenangan Asyiknya Nyadran


Bulan Sya’ban dalam khasanah budaya masyarakat Jawa dikenal sebagai Bulan Ruwah. Kata ruwah sendiri mengadaptasi kata arwah, yang bisa dimaknai sebagai ruh para leluhur atau nenek-moyang. Dalam rangka birul walidain atau kebaktian untuk mendoakan arwah kaum kerabat kita yang telah meninggal yang merupakan salah satu amal jariyah yang tidak akan pernah putus aliran pahalanya, maka diselenggarakanlah tradisi sadranan atau nyadran.

Nyadran sendiri diyakini berasal dari kata sraddha, salah satu ritual ummat Hindu untuk mendoakan dan mengenang jasa para leluhur yang telah meninggal. Tercatat Ratu Majapahit Tribuana Tunggadewi menyelenggarakan upacara sraddha untuk mengenang arwah sang ibunda tercinta, Dewi Gayatri yang merupakan permaisuri Raja Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya, pendiri dinasti Majapahit.

Catatan kecil di masa kecil mengenai tradisi nyadran berkenaan dengan nyadran untuk almarhum Mbah Kakung di Dusun Karanglo. Nyadran di Makam Karanglo biasanya diselenggarakan pada hari Ahad paling akhir di bulan Ruwah. Hal tersebut konon dimaksudkan agar semua kaum kerabat dan anak-cucu para arwah di makam tersebut dapat turut bergabung dalam acara nyadran, baik yang masih tinggal di desa sekitar ataupun di perantauan.

Adalah almarhumah Biyung Tuwo atau nenek saya yang selalu mengajak saya untuk turut nyadran. Beberapa hari sebelumnya, Biyung biasanya sudah ngglepung atau menumbuk beras untuk dijadikan tepung. Tepung beras tersebut biasanya diolah menjadikan apem berbentuk bulat. Apem inilah yang senantiasa dibawa Biyung ke arena sadranan untuk disumbangkan sebagai pelengkap snack atau suguhan untuk para tamu yang lainnya.

Di sisi lain, para warga dusun induk yang meliputi Karanglo, Kiyudan, dan Karang, di samping turut menyumbang makan kecil serupa, mereka juga wajib membuat nasi ambeng yang dilengkapi dengan sayur dan segala ubarampe. Ubarampe dimaksud antara lain keper, thontho, krupuk, bakmi, umbi-umbian, bahkan buah-buahan. Nasi dan perlengkapannya ini biasanya diwadahi dengan keranjang ataupu anyaran dari daun kelapa atau daun jambe. Nah keranjang-keranjang inilah yang dibagi-bagikan, khususnya kepada anak-anak yang turut nyadran.

Adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi anak-anak yang turut nyadran apabila mendapatkan keranjang sadranan yang banyak. Tak jarang anak-anak saling bergabung dalam sebuah kelompok kecil untuk bekerja sama mendapatkan keranjang sadranan yang sebanyak-banyaknya. Pernah dalam satu kesempatan, saya dan beberapa teman berhasil mengumpulkan tidak kurang dari 10 keranjang sadranan. Nah, keranjang-keranjang tersebut kami bawa pulang dengan cara dipikul bergotongan pada sebuah bilah bambu atau galah pendek. Itulah puncak kegembiraan bagi kami kala itu.

Masihkah anak-anak di masa kini merasakan keasyikan turut nyadran sebagaimana generasi kami? Ah, saya kok sama sekali tidak yakin. Bagaimana menurut Sampeyan?

Ngisor Blimbing, 19 Mei 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s