Pesona Car Freeday Kota Surakarta


Pagi itu bertepatan dengann hari Minggu. Matahari belum lagi menampakkan sinarnya secara penuh. Dengan sebuah sepeda, saya memulai gowes dari titik Jalan Gajah Mada tepat di sisi Museum Pers Nasional. Sejurus kemudian sayapun tiba di pertigaan yang menghubungkan Jalan Slamet Riyadi, jalan protokol di jantung Kota Surakarta. So pasti, berkenaan pagi itu adalah Minggu pagi maka di ruas jalan yang saya tuju tidak ada satupun kendaraan bermotor yang diperkenankan melintas. Ya, Minggu pagi adalah momen car freeday sebagaimana telah banyak digelar di kota-kota lainnya.

Kali itu adalah kala ketiga kalinya saya mengunjungi car freeday Kota Solo. Dulu, lebih dari tujuh tahun silam, car freeday masih merupakan trend dan fenomena baru. Kala itu baru segelintir kota yang menggelar car free day di setiap Minggu pagi. Salah satunya, ya Kota Solo itu. Pertengahan Mei 2010, bersamaan dengan gelaran kumpul blogger bertajuk SOLO: Sharing Online Lan Offline, Minggu pagi kami diusuguhkan untuk turut menikmati car freeday yang memang baru berlangsung beberapa kali di Kota Solo. Tentu saja, masa itu masih masa pemerintahan Walikota Joko Widodo yang kini menjabat Presiden RI.

Kesempatan menikmati car freeday Kota Solo juga pada pertengahan bulan Mei 2013. Saat itu tengah berlangsung perhelatan ASEAN Blogger Festival chapter Indonesia (ABFI2013), selama tiga hari. Berbeda dengan car freeday Kota Solo yang saya ikuti pertama kali dimana saya hanya sekedar duduk-duduk di pinggiran tempat menginap yang kebetulan memang di salah satu sisi Jalan Slamet Riyadi, pada kesempatan kedua tersebut kami mendapat kesempatan naik Kereta Kluthuk Jaladara yang menyejarah itu. Meski hanya selintas naik dari stasiun halte Sangkrah menuju ke Stasiun Purwosari, namun sensasinya sungguh luar biasa dan tidak terlupakan hingga detik ini.

Akhir Maret 2017 yang lalu saya berkesempatan kembali menyambangi Kota Solo. Dan inilah ketiga kalinya saya kembali menyaksikan dan turut tenggelam dari even car freeday di kota yang juga memiliki nama Surakarta tersebut. Jika pada kesempatan pertama dan kedua saya menikmati car freeday dalam suasana kebersamaan rombongan blogger yang gegap gempita, kali ini saya hanya seorang diri. Maka dari itu, saya memilih untuk ambyuk ke car freeday dengan gowes sepedaan.

Car freeday nampaknya kini sudah menjadi tren yang umum, bahkan biasa di semua daerah. Namun demikian, saya merasakan banyak pesona setiap kali menyambangi car freeday di Kota Solo. Seolah teah terkomando dengan rapi, hampir semua warga kota tumplek blek memenuhi Jalan Slamet Riyadi di pagi itu. Ada yang datang seorang diri. Ada yang datang bersama temannya. Ada yang datang bersama pacarnya. Ada yang datang berombongan dengan keluarga atau para tetangganya. Ada yang datang dengan rekan sekomunitas, dan lain sebagainya.

Nafas utama car freeday tentu saja adalah gaya hidup sehat. Gerak badan pada suatu lingkungan yang bebas polusi untuk sementara waktu adalah sebuah kemewahan bagi masyarakat urban. Olah raga tentu saja menjadi pemandangan yang hampir bisa dijumpai di sepanjang jalanan. Ada rombongan senam aerobik, senam jantung sehat, senam manula, senam yoga, dan entah senam apalagi. Ada lagi rombongan tamplekan raket bulu tangkis.

Bahkan yang menurut saya paling unik adalah gelaran meja tenis di salah satu ruas jalan. Nampak beberapa meja terpasang berderet rapi dan digunakan untuk oleh kalangan anak-anak hingga para kakek-nenek. Nah hal yang paling menarik bin unik adalah keberadaan tenis meja mini. Tenis meja mini dimainkan di atas meja yang tentu saja berukuran sangat mini. Hanya dengan ukuran 100 x 50 cm, justru menantang sebuah kecermatan bermain yang tidakk gampang untuk dilakukan. Jujur, saya baru menemukan model permainan model tenis meja mini ini ya di Kota Solo ini.

Komunitas lain? Wow, luar biasa! Tak terhitung lagi jumlahnya. Ada komunitas minat baca yang menggelar perpustakaan jalanan. Ada komunitas sepeda tua. Ada komunitas penggemar reptil. Bahkan ada para ustadz muda yang menggelar belajar mengaji ala metode Iqra’. Tak perlu malu dan merasa sudah terlambat untuk bisa lencar membaca Al Qurán. Tak sedikit bapak-bapak, bahkan simbah-simbah yang menjadi “santri”pagi itu untuk belajar bacaan a-i-u, ba-bi-bu, ta-ti-tu, dan selanjutnya.

Yang paling pasti tidak pernah ketinggalan dari suatu gelaran car freeday ya orang jualan. Berbagai barang ataupun makanan-minuman dijajakan di setiap sudut jalanan. Bagi para pengunjung yang merasa haus ataupun lapar setelah turut beraktivitas olah raga, mereka tidak perlu khawatir untuk segerap mengisi perut yang terasa keroncongan ataupun tenggorokan yang kering oleh dahaga.

Meskipun saya mengendari sepeda, namun tentu saja tidak mudah untuk bergerak melintasi jalanan yang dipadati ribuan manusia. Belok kanan, belok kiri, bahkan kadang terhenti oleh kerumunan pengunjung lain adalah hal yang terjadi setiap saat. Namun demikian, pagi itu saya bisa tutug gowes dari ujung Gladag hingga Purwosari bolak-balik. Dan sudah pasti hasilnya adalah keringat yang bercucuran di sekujur badan. Meski badan terasa gerah oleh keringat, namun kehadiran saya di car freeday pagi itu benar-benar membawa pencerahan tersendiri. Beban pikiran seolah terbang, badanpun terasa ringan. Plong dan rileks pastinya.

Belum pernah menikmati pesona car freeday di Surakarta Hadiningrat? Lha sudah pasti, kapan-kapan Anda semua harus menyempatkan diri dolan ke Solo. Hayo, monggo sedoyo!

Ngisor Blimbing, 14 Mei 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s