Bocah Mbeling Nginjak Beling


Beberapa hari dalam seminggu ini memang saya sedang tidak berada di rumah. Sebagai orang tua dari anak-anak yang masih bocah, tentu saja seribu kata petuah telah kami tinggalkan untuk buah hati yang ditinggal. Dari urusan keperluan sekolah, sholat, ngaji, dolan hingga dolanannya si Ponang dan si Noni. Semua tentu saja demi kebaikan bersama. Kalau yang ditinggal baik-baik saja, maka yang meninggalnyapun akan tenang di tanah seberang. Begitu kira-kira harapan kami.

Baru dua-tiga hari terdengarlah kabar si Ponang tidak masuk sekolah. Sebabnya sakit. Kelihatannya sakit memang alasan klasik. Namun dengan mengirimkan sebuah foto, anak saya tersebut menyampaikan bukti dan alibi. Dari gambar foto yang dikirimkan memang Nampak bagian kaki di bawah lutut kanan terlihat bengkak bin memar berwarna kebiruan. Usut punya usut ketika si Ponang kami desak untuk memberikan rekonstruksi cerita mengenai hal-ihwal asbabun sikil bengkaknya, ia memberikan penjelasan bahwa kondisi yang dialaminya diakibatkan terjatuh pada saat ditekel temannya pada saat bermain bola di lapangan sekolahan. Yo, wis. Alasannya memang kuat.

Kisah berlanjut pada hari ke dua setelah peristiwa kaki memar. Hari itu masih cukup pagi, ketika saya bersiap diri untuk pulang ke rumah di Bandara Sultan Thaha. Tanpa terlebih dahulu kami tanyakan, si Ponang langsung berkirim foto lagi. Kali ini sebuah foto yang memperlihatkan tumit kirinya yang dibalut kain perban. Tentu saja kepala saya langsung hanjenggelek. Saking kagetnya dan saking shock-nya. Singkat, tegas, dan teramat jelas terang benderang. Ia hanya menulis, “Mama kakiku kena beling.”

Ibune si Ponang si seberang turut menimpali, “Allaahhh dolan ndi to Le???”

Sayapun turut nimbrung, “Koki so, keno beling ning ndi Le? Wis digowo ning dokter durung?”

Mendapati pertanyaan berantai nan bertubi-tubi dari emak-bapaknya, si Ponangpun memberikan klarifikasinya. Sore kemarin ia dan teman-temannya tengah bermain betengan alias jetjetan. Sampeyan ingat permainan jetjetan? Itu lho, permainan saling kejar-kejar diantara dua regu yang saling berseberangan. Singkat cerita ketika si Ponang dikejar-kejar oleh si Reji, mlipirlah ia berlari melalui belakang pos ronda. Di situlah kaki kirinya menginjak beling. Mungkin pecahan botol atau kaca, ia sendiri tidak begitu ngemat.

Ya sudah. Musibah sudah terjadi. Tidak ada gunanya mengutuk terlebih memarahi anak-anak yang sekedar bermain dan apes nginjak beling. Saya merasa lega mendengar keterangan bahwa seketika kejadian nginjak beling tersebut, si Ponang segera mendapatkan pertolongan dari Bidan Supri. Lukanya sudah dibersihkan dan dibalut perban sebagaimana mestinya. Kini tinggal diihtiarkan menunggu kesembuhan lukanya.

Dari peristiwa si Ponang nginjak beling kemarin itu, saya jadi sedikit merenung. Saya jadi menghubung-hubungkan kata beling dengan kata mbeling. Saya tidak tahu persis historis asal-usul kedua kata tersebut. Dalam Bahasa Jawa, kata beling berarti pecahan atau serpihan kaca. Beling bisa berasal dari pecahan kaca jendela, kaca lemari, kaca mobil, botol dan lain sebagainya. Beling memiliki sifat tajam dan sangat membahayakan. Ketajaman beling bisa menyebabkan luka goresan hingga tusukan yang berbahaya.

Nah, secara logika linear, jika memang kata mbeling memiliki hubungan historis dengan kata beling, semestinya arti kata mbeling adalah memiliki sifat sebagaimana beling yang tajam dan membahayakan tadi. Namun dalam khasanah penggunaan berbahasa sehari-hari atas kata mbeling, justru mbeling sering kali termaknai sebagai mbandhel, ndablek, nakal, susah dinasehati, sering berulah, bahkan keras kepala. Sampeyan semua mungkin ingat dengan sosok Kyai Mbeling Emha Ainun Nadjib?

Lalu apakah kejadian si Ponang yang sudah sering diwanti-wanti untuk selalu berhati-hati ketika bermain dengan teman-temannya, namun akibat kesembronoannya ia sering mendapati cidera itu bisa digolongkan sebagai sifat mbeling? Kalaupun kata mbeling dimaknai sebagaimana disinggung sebelumnya di atas tadi, saya melihat mencoba melihat peristiwa yang dialami anak saya dari sudut pandang yang berbeda.

Begini lho maksud saya. Amenangi jaman gadget  canggih saat ini, hampir kebanyakan anak-anak kita sehari-hari (bahkan hampir setiap saat) disibukkan untuk nguthek-uthek ha-pe. Tentu saja favorit anak-anak itu sebagian besarnya adalah main game. Anak-anak jaman sekarang sudah sebegitu nyandunya dengan game, permainan di handphone. Game sudah menjadi menu sehari-hari. Dapat dikatakan tidak ada lagi anak yang tidak bisa nge-game.

Tentu saja keasyikan main game di handphone ini semakin menjauhkan anak-anak dari aktivitas bermain bersama di lapangan ataupun kebun samping rumah. Bisa dihitung jari anak-anak yang masih mau berpanas ria main di lapangan. Tidak ada lagi permainan gobag sodor, betengan, dir-diran, petak umpet, karet “merdeka”, kasti dan lain sebagainya. Tentu masih tersisa sedikit anak-anak yang masih mau bermain di luar rumah. Dan dari yang tersisa sedikit itulah kita dapat menemukan bocah-bocah yang luar biasa.

Nah sudah pahamkan dengan apa yang saya maksudkan. Saya sendiri termasuk orang tua yang justru mendorong kepada anak-anak untuk bermain di luar rumah di waktu-waktu senggang mereka. Untuk mengimbangi modernitas jaman, sekali-kali mengizinkan anak bermain game di handphone saya pikir fine-fine saja. Namun harus tetap ada kontrol dan pembatasan. Tidak jor-joran dan pembiaraan dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Saya masih memegang prinsip dan pendapat bahwa bermain game secara berlebih-lebihan akan cenderung membentuk sifat individualis pad diri anak-anak kita.

Berbagai permainan tradisional yang kita warisi dari nenek moyang di masa lalu sejatinya banyak menyimpan ajaran luhur sebagai bentuk pendidikan budi pekerti yang sangat mendalam. Bagaimana anak-anak diajarkan beraktivitas dalam semangat kebersamaan dalam suatu permainan, bagaimana anak-anak dilatih ketangkasan fisik dan raganya melalui berbagai gerakan yang menguras keringat, bagaimana anak-anak dididik untuk menaati peraturan permainan, memiliki jiwa sportivitas dan lain sebagainya adalah nilai-nilai moralitas yang menyertai permainan tradisional kita.

Dengan demikian, selain tentu saja prihatin dan sedih menghadapi kenyataan anak saya nginjak beling, saya jauh lebih bangga karena si Ponang nginjak beling karena aktivitas permainan tardisional yang dilakukannya bersama teman-temannya. Mungkin si Ponang mbeling karena sering abai dengan nasehat untuk berhati-hati dalam segala permainan yang dilakukannya. Namun selama sifat mbeling-nya tadi masih ndalan justru saya melihat sisi-sisi bibit kecerdasan tengah bertumbuh kembang dalam diri anak lanang saya. Bagaimana dengan Sampeyan?

Ngisor Blimbing, 30 April 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s