Alumni Cah De: Sosok#D27


Erwin saya kira kembarannya Erwan. Pertama kali mendengar nama kawan saya yang satu ini ada sedikit perasaan aneh. Seperti mendengar nama anak perempuan, padahal jelas kawan saya tersebut sosok cowok tulen. Mungkin hal itu terbawa karena pada masa-masa sebelumnya saya memiliki kawan sekolah Wiwin yang tentu saja seorang perempuan. Erwin yang memiliki nama lengkap Erwin Susanto ini merupakan kawan yang senantiasa berada tepat di bangku belakang saya setiap tes semesteran hingga Ebtanas. Ya, dia menyandang nomor absen 5 di kelas satu dan nomor 27 di kelas dua dan kelas tiga. Yang jelas dari awal masuk hingga lulus bangku SMP 1 Muntilan ia memiliki nomor induk 6524.

Menilik nasab dari kakeknya, Erwin menyandang gelar lengkap Erwin bin Mursidi bin Mbah Jayus. Mbah Jayus? Bukan Jayusrono dan bukan Jayuskusumo lho ya! Hanya Jayus thok! So pasti jika kita mendengar nama Mbah Jayus kita mungkin langsung ingat sebuah plang di sisi Jalan Pemuda bilangan Pasar Jambu. Lho? Mbah Jayus yang itu kan Jayus Gudeg nyamleng. Yes, you right! Erwin adalah trahnya Mbah Jayus sang gudeg expert from Karaharjan, Gunung Pring.

Erwin tergolong siswa yang seneng ngemong kawan-kawan yang lain. Jika kawan-kawan lainnya tidak ada yang mau memimpin doa di saat awal pelajaran pagi dimulai, maka ialah yang memimpin doa. Jika kawan-kawan tidak ada yang mau menjadi pemimpin barisan kelas pada saat upacara, Erwinlah yang berdiri di barisan depan sisi kanan. Jika kelas kami kebetulan mendapat giliran tugas upacara dan kawan-kawan lain tidak ada yang mau menjadi pemimpin upacara, dia pulalah yang mengambil komando di depan berhadapan langsung dengan pembina upacara. Lha gimana dia tidak mau melakukan semua hal itu, lha wong dia selalu kita dhapun sebagai ketua kelas dari kelas satu hingga kelas dua.

Di samping menjadi pengurus kelas abadi, Erwin juga pernah menjadi ketua regu Pramuka. Saya masih saya ingat, regu Pramuka yang dipimpinnya beranggotakan anak-anak yang relatif bertubuh kecil. Ada Isnaini, Wihastantri, Ahmad Kusaeri, dll. Yang terus terang lupa nama atau bendera regu yang dipimpinnya. Namun hal yang paling saya ingat adalah perihal tongkat regunya. Tongkat dengan ujung atas dan bawah dicat biru pelet putih, namun di sisi tengah warna coklat kayu alias sama sekali tidak tersentuh warna cat apapun.

Melampaui pengalaman sebagai ketua regu Pramuka, Erwin bahkan termasuk salah seorang anggota regu inti atau yang dulu sangat tenar dengan sebutan LT. Saya sendiri hingga saat ini kurang paham dengan LT tersebut. Regu inti inilah yang senantiasa mewakili sekolah kami dalam beberapa kesempatan lomba ketangkasan kepramukaan di tingkat Kecamatan Muntilan maupun Kabupaten Magelang.

Erwin terlahir dari sebuah keluarga yang tinggal di Krajan atau Karaharjan. Bapaknya bernama Pak Mursidi. Konon pada waktu itu ia seorang anggota Yang Berwajib. Erwin terlahir sebagai empat bersaudara. Ada satu kesamaan antara saya dan Erwin dilihat dari sisi saudari yang dimiliki. Saya dan dia sama-sama seorang kakak dari sepasang adik-adik perempuan kembar. Hanya bedanya jika Erwin anak sulung, saya bukan. Adik satunya lagi seorang lelaki yang tidak terlampau terpaut jauh dari segi umur.

Selain cerita soal ketua kelas dan pramuka ataupun OSIS, Erwin juga sosok anak yang cukup menonjol dalam olah kanuragan. Eh…maksudnya olah raga. Olah raga bola volley, jangan nanya masbro dan mbaksis. Dia termasuk sosok tosser yang sungguh lihai memberikan operan bola lambung yang siap di-smash oleh partner yang lain.

Olah raga lainnya, sudah pasti bola basket. Pada jaman sekolah kami, dua olah raga yang dianggap paling favorit ya volley dan basket. Pelataran di belakang sekolah terdapat dua lapangan volley. Adapun di pelataran tengah, di samping dipergunakan untuk kegiatan upacara dan senam pagi juga difungsikan sebagai lapangan bola basket. Dengan tubuh yang relatif jangkung, Erwin sudah pasti memiliki kelihaian dalam men-drable ataupun men-shoot bola ke dalam keranjang.

Di samping olah raga bola volley dan bola basket, nampaknya semenjak kecil Erwin juga sudah lincah namplek bulu ayam. Ia termasuk terlatih untuk bermain bulu tangkis. Ketrampilan bermain bulu tangkis sudah pasti tidak pernah kami dapatkan di lingkungan sekolahan. Sekolah kami memang tidak dilengkapi dengan fasilitas lapangan bulu tangkis. Namun Erwin lebih sering bermain badminton di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan dari beberapa kisah yang pernah dituturkannya, Erwin sering berpatner main bulu tangkis dengan bapak-bapak yang melampaui usianya. Salah seorang diantaranya adalah Lik Marno yang masih termasuk paklik saya.

Selepas lulus bangku SMP 1 Muntilan. Saya dan Erwin termasuk segelintir rombongan yang kompak melanjutnya sekolah ke seberang Kali Krasak. Kami sama-sama bersekolah di SMA 4 Yogyakarta. Namun demikian, selama tiga tahun di bangku SMA yang sama, kami sama sekali tidak pernah menjadi teman satu kelas lagi. Akan tetapi kami sama-sama sebagai siswa penglaju Muntilan-Jogja yang kala itu mengandalkan angkutan bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) jurusan Jogja-Semarangan.

Singkat cerita, kami lulus dari SMA yang sama dan masih diberikan kesempatan kuliah di kampus yang sama pula. Meskipun demikian, kali ini kami dipisahkan oleh pagar fakultas yang tak sama. Kami berbeda pilihan program studi dan disiplin ilmu yang dipelajari. Erwin di Fisipol di sisi timur kawasan kampus kami. Adapun saya terdampar di Fakultas Teknik di sisi barat kampus. Hal ini sudah pasti menjadikan kami jarang bersua.

Setelah tiba masa masa masing-masing dari kami berkarya dan luru pangupa jiwa, sebagian dari kami merantau keluar daerah Magelang. Sebagian yang lain masih tetap menetap di wilayah Magelang, bahkan tetap berada di Muntilan. Erwin termasuk salah seorang yang hingga kini masih setia menetap di kampong halamannya. Di samping meneruskan bisnis kulinerannya Gudeg Mbah Jayus yang kondhang kaloka itu, kawan saya yang satu ini juga ulet berwira usaha. Kini ia telah memiliki belahan jiwa dan dua sosok buah hati yang semakin melengkapi hari-hari bahagianya.

Tulisan sekedar catatan kecil pengingat kawan dan salah seorang sedulur sak lawase ini saya tuliskan bertepan dengan hari ulang tahunnya yang ke-39. Tentu saja di hari bahagianya kali ini, saya hanya dapat turut memanjatkan doa kehadirat Gusti Allah Kang Mubeng Dumadi, “Semoga sedulurku yang satu ini senantiasa diberikan gangsar dan lancar dalam ngupadi pangupa jiwa, serta pastinya umur yang dianugerahkan semakin berkah dan mberkahi kepada sak padhaning urip.” Wis ngono wae. Sugeng tanggap warsa ya Bro!

Jambi, 29 April 2017

Sumber foto dan gambar dari FB Erwin Susanto.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s