My Family WA Group Created by si Ponang


Senja itu saya tengah membelah rimba saya di jantung Pulau Sumatera. Kanan kiri jalanan yang kami lalui dipagari dengan deretan pohon sawit dan pepohonan hutan akasia. Berada di pedalaman menjadikan berbagai sinyal saluran telekomunikasi tentu saja angot-angotan, alias byar-pet karena blackspot area. Jalanan Trans Sumatera Lintas Timur yang mengubungkan Jambi dengan Pekanbaru, sore itu tentu saja sangat lengang. Meskipun jalanan tidak terlalu lebar, namun kondisinya yang sepi menjadikan mobil kami dapat dipacu selayaknya pada jalan tol di Pulau Jawa.

Ketika memasuki wilayah Muaro Jambi, sinyal telekomunikasi yang kami butuhkan terdeteksi. Bagaikan pucuk dicinta ulam tiba, saat itu memang kebetulan saya sedang ingin menghubungi anak-anak di rumah. Sesaat setelah alat komunikasi terhubung ke jariangannya, sayapun segera mengecek saluran WA. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, nampak muncul undangan untuk bergabung dalam sebuah grup dengan judul My Family. Tentu saja hal ini membangkitkan rasa penasaran tersendiri. Siapakah di balik grup baru tersebut. Namun sebelumnya pertanyaan tersebut menemukan jawabnya, saya segera setuju untuk bergabung ke grup tersebut.

Usut punya usut, hanya ada tiga nama atau tiga nomor saja yang tercatat di My Family. Ada istri saya, ada Nadya Radya. Setelah bergabung tentu saja ada nama saya juga. Saya langsung sampai pada satu kesimpulan, tentu istri saya yang meng-create grup tersebut. Keberadaan kami masing-masing dan anak-anak yang terpisah ruang dan waktu yang cukup jauh memang saat itu membutuhkan sarana komunikasi bersama yang cukup efektif. Dan tentu saja, WA dapat memenuhi kebutuhan kami tersebut.

Chatting-pun dimulai. Namun satu hal yang langsung membuat saya heran adalah pertanyaan pertama yang mengawali chattingan kami. Istri saya menuliskan pertanyaan, “Sopo sing gawe grup iki?” Kesimpulan saya langsung buyar. Berarti bukan istri saya yang mengcreate grup My Family ini. Lalu siapakah gerangan? Saya jelas-jelas bukan. Istri juga bukan jika menyimak kalimat tanya yang muncul. Pertanyaan inilah yang kemudian saya tuliskan.

Sesaat kemudian dari seberang terkirim sebuah jawaban. “Sing gawe aku Pak!” jawab si Ponang lugas nan polos.

What? Si Ponang membuat grup WA? Anak kelas 3 SD yang baru kemarin sedikit diajari ber-WA itu mengaku membuat My Family? Antara percaya dan maido sayapun bertanya, “Emange iso Le? Sopo sing ngajari?

Dari seberang si Ponang menjawab, “Iso dong! Aku ajar dhewe kok Pak!” Masya Allah, duh Gusti Kanjeng Pangeran Kang Murbeng Dumadi! Saya hanya bisa ndomblong bin mlongo untuk sesaat. Saya menjadi tertampar dan tersadar! Anak-anak sekarang memang anak-anak generasi Y (baca why). Generasi dengan rasa ingin serba tahu dan mencoba sesuatu yang baru dengan sungguh luar biasa. Anak-anak masa kini adalah anak-anak yang tumbuh kembang disandingi oleh teknologi komunikasi yang luar biasa maju, canggih, dan sudah pasti sangat-sangat berpengaruh dalam aktivitas keseharian mereka.

Di samping rasa kekaguman tersendiri terhadap kemampuan si Ponang meng-create grup WA, satu hal yang bagi kami menjadi aneh dan nyleneh. Bagaimana si Ponang terbersit ide untuk menamakan grup WA tersebut dengan My Family? Kenapa tidak dengan kata-kata lain. Kenapa sok pakai bahasa Inggris lagi! Memikirkan hal itu, seketika saya menjadi tertawa sendiri. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan “ulah” anak mbarep saya tersebut.

Jaman memang jaman kemajuan. Segalanya berubah dengan sangat cepat. Hidup menjadi sangat dinamis. Perubahan besar senantiasa terjadi dalam hitungan hari, jam, menit, bahkan detik. Dinamika perubahan itu tentu saja membawa sisi kebaikan sekaligus keburukan, sisi positif di samping sisi negatifnya, sisi manfaat di samping sisi mudharatnya. Sekarang kembali kepada kita semua. Apakah dinamikan perubahan itu akan kita dayagunakan untuk memperbesar sisi kebaikannya, sisi positifnya, sisi manfaatnya. Atau sebaliknya, dinamikan perubahan yang ada kita biarkan menimbulkan keburukan, sisi negatif, serta mudharatnya. Semua tentu saja kembali kepada kita semuanya. Monggo kita renungkan bersama.

Jambi, 28 April 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s