Bersama Kesulitan Ada Kemudahan


Sejujurnya teramat sangat jarang saya menuliskan hal yang tengah dialami istri dalam suatu postingan di blog. Saya biasanya lebih intens untuk menuliskan hal-hal kecil yang dialami si Kecil-si Kecil kami, ada si Ponang dan si Noni. Namun tulisan kali ini sengaja ingin membagi cerita kejadian yang kini tengah dialami istri nun jauh di negeri seberang.

Berawal dari sebuah aplikasi pendaftaran suatu pelatihan di Oak Ridge Natinal Laboratory (ORNL) di Negeri Paman Sam, akhirnya istri benar-benar mendapatkan undangan untuk menghadirinya. Dikarenakan keterbatasan kuota untuk setiap negara, istri saya tersebut menjadi satu-satunya peserta dari Indonesia. Untungnya ada salah seorang calon peserta dari Malaysia sudah dikenalnya. Namun demikian tentu saja untuk soal keberangkatan pulang-pergi ke sana tidak ada teman seperjalanan.

Sebagaimana di-arrange oleh panitia di US, perjalanan yang akan ditempuh dengan rute Jakarta-Doha-Chicago-Tenneese. Sebagamana tiket yang diberikan, istri saya dijadwalkan berangkat pada Sabtu, 22 April 2017 dini hari. Perjalanan Jakarta-Doha akan ditempuh selama kurang lebih tujuh jam. Transit di Doha Airtport selama 4 jam. Perjalanan akan disambung ke Chicago dengan durasi penerbangan sekitar 15 jam. Setelah transit di Chicago selama dua jam, perjalanan berlanjut menuju Tennessee. Chicago Tennessee ditempuh hanya dua jam perjalanan.

Sebaik-baiknya rencana manusia, ternyata benar-benar Tuhanlah yang menentukan segalanya. Pada detik-detik akhir menjelang boarding untuk keberangkatan dari Soekarno-Hatta Airport pada Sabtu dini hari lalu, pesawat mengalami insiden pecah ban. Tidak tanggung-tanggung, dua ban sekaligus pecah secara bersamaan. Meskipun hanya dua ban yang pecah, namun secara prosedural semua ban yang lain harus diganti juga. Dengan ketidaksiapan suku cadang ban, perbaikan pesawat tersebut diperkirakan memerlukan waktu paling kurang 8 jam. Akhirnya semua penumpang dievakuasi keluar pesawat. Pihak maskapai memberikan sarana akomodasi kepada semua penumpang untuk menginap di beberapa hotel yang segera dipersiapkan.

Daripada menunggu lama terkatung-katung, istri saya dan beberapa penumpang lain yang tempat tinggalnya relatif dekat dengan bandara memutuskan untuk pulang dan menunggu kabar dari rumah masing-masing. Petugas dari maskapai mencatat semua nomor telepon para penumpang dan berjanji untuk mengontak masing-masing nanti apabila penerbangan siap diberangkatkan.

Dalam masa penantian yang tidak pasti, istri saya sempat menjadi ragu. Apakah ia tetap akan berangkat atau memilih untuk membatalkannya. Hal tersebut tentu saja terus dikomunikasikan dengan panitia pelatihan di ORNL. Ada semacam firasat jika suatu rencana sudah dihadang masalah di awal, biasanya aka nada banyak imbas masalah-masalah lain yang muncul. Ibarat sebuah kriwikan dadi grojogan, berawal darii suatu masalah yang kecil bisa berkembang menjadi masalah yang besar. Mungkin orang jaman sekarang lebih akrab mengistilahkannya sebagai domino effect atau efek berantai dari suatu masalah.

Setelah lewat lebih dari 15 jam belum juga ada kabar, istri saya segera mengontak bagian customer service maskapai. Diinformasikan bahwa semua penumpang akan diberangkatkan dengan pesawat tambahan pada dinihari berikutnya sebagaimana jam yang semestinya. Bagi para penumpang yang perlu melanjutkan dengan connecting flight juga sudah diatur, tidak ada perubahan rute dan jam. Yang berbeda hanyalah soal harinya yang mundur 24 jam. Akhirnya istri saya kembali oyong-oyong koper ke bandara lagi.

Lalu apakah cerita ini berlanjut dengan mulus? Ternyata apa yang sebelumnya telah disampaikan petugas customer service bertolak belakang dengan kondisi di loket check-in. Di samping tiket tercetak tidak ada, terjadi perubahan rute perjalanan untuk istri saya. Dari yang semestinya menempuh rute Jakarta-Doha-Chicago-Tennessee diganti menjadi rute Jakarta-Doha-Washington-Tennessee. Penumpang langsung dibekali dengan boardingpass.

Meskipun rencana sudah dibuat sematang mungkin, kenyataannya terjadi delay keberangkatan. Hal ini berimbas terjadinya delay kedatangan di Doha, dan tentu saja penerbangan lanjutan ke Washington. Ujung-ujungnya, istri saya ketinggalan pesawat untuk keberangkatan dari Washington ke Tennessee. Disebabkan kondisi long weakend, semua jadwal sudah penuh dan hanya ada dua pilihan penerbangan lanjutan. Berangkat malam itu juga dengan penerbangan ke Chicago dan baru dapat melanjutkan perjalanan keesokan harinya ke Tennessee, atau berangkat dengan penerbangan langsung ke Tenneese keesokan harinya. Pilihan pertama mengharuskan istri saya terdampar di Chicago, sedangkan pilihan kedua berakibat istri saya harus menginap di Washington. Keduanya pilihan yang sama-sama tidak enak.

Mendengar kisah ibunya yang sedang “kesusahan”di negeri orang karena insiden ban pecah, si Ponang berkomentar, “Lha kok masalahe malah dadi mrambat-mrambat Pak!

Di tengah kondisi serba tidak menentu di negeri orang yang beru pertama kali dikunjungi seorang diri, tentu saja istri saya sempat patah arang. Namun di saat yang cukup kritis tersebut, petugas customer service melayaninya dengan cukup ramah. Usut punya usut, petugas tersebut ternyata punya nenek di Indonesia. Ia menerangkan bahwa kasus seperti itu lazim terjadi dan tidak perlu dikhawatirkan. Ia juga mempersilakan istri saya untuk jalan-jalan saja di sekitar airport ataupun Washington. Jika nanti lelah dan ingin istrirahat, bahkan ia dengan senang hati akan menyediakan selimut hangat. Usut punya usut petugas tersebut bernama Sharimah Zubaidah, seorang US muslim keturunan Arab, Thailand, dan Indonesia.

Tentang pertemuannya dengan petugas yang ramah tersebut saya hanya memberikan tanggapan bahwasanya itulah pertolongan langsung dari Tuhan. Tuhan tidak pernah diam, apalagi tidur! Tuhan senantiasa hadir dan mengurusi setiap makhluknya di setiap saat, setiap waktu, bahkan setiap detik, dan pastinya dimanapun hamba-Nya berada.

Istri saya sempat kontak dengan salah seorang temannya yang kini menjadi tentara PBB dan tinggal sekitar 1,5 jam perjalanan dari Washington Airport. Dari temannya tersebut, ia dihubungkan dengan teman lain di KBRI Washington yang hanya 15 menit perjalanan taksi dari airport. Teman di KBRI tersebut konon asli Purworejo, Jawa Tengah. Kabarnya banyak warga Indonesia yang mengalami long transit ataupun sengaja berkunjung ke Washington menginap di tempatnya. Hal yang sudah biasa saja nnampaknya. Akhirnya istri saya nekad keluar airport dan naik naik taksi ke tempat tinggal petugas KBRI tersebut.

Kisah gayung bersambut terjadilah. Di tempat tinggal petugas KBRI, istri saya diperkenalkan dengan beberapa orang Indonesia yang lainnya. Kebanyakan diantaranya adalah anggota Kagama. Bahkan mereka mengundang istri untuk hadir di acara Kagama minggu depan.

Inilah hikmah di balik setiap peristiwa. Sesuatu yang tidak mengenakkan yang menimpa kita dapat saja kita anggap sebagai suatu masalah. Namun masalah juga senantiasa bisa disikapi secara jernih sebagai suatu proses pembelajaran. Suatu proses pengkayaan pengalaman hidup. Suatu proses penempaan seseorang menjadi pribadi yang lebih matang. Pribadi yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang lebih besar lagi. Bukankah Gusti Allah menfirmankan “fainna maál úsri yusra”, maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan! Bersamaan!

Tidak setelahnya, tetapi bersamaan dengan kesulitan hadir pula kemudahan. Bersamaan dengan terkatung-katungnya istri saya di negeri orang, bersamaan dengan itu pula ia dipertemukan dengan orang-orang yang tulus ikhlas memberikan bantuannya. Dan kita semua yakin bahwa hal itu sama sekali niscaya tanpa adanya campur tangan Tuhan Yang Maha Penolong. Bahkan tidak hanya ditolog dari persoalan yang sedang dihadapi, Tuhan telah membentangkan mata dan pikiran, jiwa dan raga, lahir dan batin dengan kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas tentang persaudaraan dan kemaslahatan hidup. Maka kenikmatan Tuhan yang mana lagi yang masih perlu kita sangsikan?

Ngisor Blimbing, 24 April 2017

Gambar pesawat Qatar Airways dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

  1. @nurulrahma berkata:

    Seruuu banget cerita ngetrip istrinya. Kok ngga ikut sekalian mas?

    Suka

  2. @nurulrahma berkata:

    aku follow blog njenengan nggih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s