Memaknai Kembali Pusaka di Balik Pustaka


Membaca status beberapa teman di media sosial, saya baru teringat kembali bahwa Hari ini 23 April dikenal sebagai Hari Buku Internasional (World Book Day). Semenjak di bangku sekolah kita sudah diajarkan oleh guru-guru kita bahwa membaca adalah jendela dunia. Saya kembali terkenang sebuah artikel yang pernah saya tuliskan berkaitan dengan menggugah kembali budaya membaca masyarakat kita. Sebuah tulisan yang pernah dimuat di Majalah Suara Gemilang edisi November 2011 berjudul Pusaka di Balik Pustaka. Silakan disimak dan direnungkan kembali.

Pusaka bisa diartikan sebagai senjata. Masyarakat Jawa memaknai pusaka lebih dari sekedar wujud fisik sebagai piandel atau sipat kandel, artinya sebagai tameng ataupun pelindung diri dari segala marabahaya. Jadi pusaka tidak saja hanya bermakna sebagai alat untuk bertempur apalagi membinasakan lawan, tetapi sebagai hal yang dapat menambah rasa percaya diri, kemantapan hati, serta keyakinan tekad yang bulat di dalam melakukan suatu hal. Pusaka menjadi sebuah sarana untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Oleh sebab itu, pusaka memiliki muatan makna magis, sakti, dan tentu saja keramat.

Menapaki abad modern dengan gelombang globalisasi dewasa ini, manusia dituntut untuk menghadapi persaingan hidup yang semakin ketat. Perang yang terjadi tidak lagi bersifat fisik dengan adu kecanggihan senjata semata. Perang modern lebih berdimensi perang pikiran. Persaingan antar manusia, bahkan antar bangsa, dengan mengandalkan keunggulan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi. Bangsa yang unggul di kedua bidang  tersebut akan keluar sebagai pemenang global. Adapun bangsa yang kalah dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi akan terpuruk menjadi bangsa yang tertinggal, bahkan tertindas. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah pusaka di jaman perang modern.

Di sinilah kemudian peran pendidikan menjadi sangat strategis dan menentukan sebagai pintu gerbang penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagaimana dirumuskan melalui Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan penyelenggaraan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Lebih jauh dalam Pasal 4 ayat (5) menyebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi warga masyarakat. Tulisan ini lebih difokuskan untuk membahas tentang budaya membaca.

Pemerintah, baik pusat maupun daerah, wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Berkaitan dengan layanan dan kemudahan untuk mengembangkan budaya membaca, maka ketersediaan buku atau pustaka sebagai bahan bacaan mutlak sangat diperlukan. Buku adalah jendela dunia. Melalui buku, berbagai ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi dapat dipelajari dan dikuasai. Buku adalah sumber mata air ilmu pengetahuan.

Di abad pertengahan, tatkala Eropa tenggelam dalam kelamnya jaman kegelapan, masyarakat muslim menguak tabir ilmu pengetahuan dan menjadi pemimpin dunia, sehingga mampu mencapai jaman keemasan yang gemilang. Jika kita menoleh kepada tokoh semacam Ibnu Sina, Al Khawarismi, Ibnu Kaldun, hingga Jalaluddin Rummi, semua merupakan tokoh yang memiliki tradisi literasi atau membaca yang kuat. Mereka benar-benar merupakan tokoh muslim yang sangat paham akan makna perintah iqro’ sebagaimana wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, sehingga mereka mengamalkan tradisi membaca dengan sangat istikomah.

Dalam perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, para tokoh ilmuan dan penemu berbagai teknologi mutakhir, sebut saja diantaranya James Watt, Thomas Alva Edison, Alexander Graham Bell, Ernest Rutterford, hingga Neils Bohr dan Albert Einstein adalah para kutu buku. Demikian halnya para tokoh sejarah dan panggung politik, seperti Mahatma Gandhi, Mustafa Kemal Ataturk, Lenin, Stalin, Hitler, hingga Mao Che Dong juga para penggila buku. Tak ketinggalan para tokoh pergerakan dan pendiri bangsa Indonesia juga penggelut buku yang sejati. Tengoklah Kartini, dr. Wahidin Sudirohusodo, HOS Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka, semuanya pelahap literatur ilmu pengetahuan.

Dari petikan penggalan pengalaman sejarah, kita sangat yakin bahwa minat baca sangat menentukan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai oleh sebuah bangsa. Bangsa dengan budaya literasi dan minat baca yang tinggi adalah bangsa yang memiliki peradaban tinggi sehingga unggul dalam berbagai bidang kehidupan. Membaca sangat penting untuk ditanamkan semenjak usia dini kepada anak-anak kita. Penelitian yang dilakukan oleh Wigfield dan Guthrie bahkan menyimpulkan bahwa anak usia sekolah dasar yang memiliki minat baca tinggi akan berprestasi tinggi di bangku sekolah. Sebaliknya anak yang memiliki minat baca rendah, atau tidak terbiasa dengan tradisi membaca, akan memiliki prestasi akademis yang rendah pula.

Melalui bacaan yang dibaca, seseorang akan memiliki wawasan dan pandangan yang luas tentang berbagai hal. Secara tidak langsung membaca juga mengajarkan sikap kritis, analitis, sistematis, dinamis, dialogis, dan dialektis. Dari sikap yang tertanam kemudian akan berlanjut kepada pola berpikir, bertutur, bertindak, bekerja dan beraktivitas yang dilandasi ilmu dan pengetahuan yang memadai. Hal ini terus berlanjut terhadap pembentukan kepribadian manusia yang berkualitas dan unggul dalam setiap bidang kehidupan.

Keberadaan buku tidak lepas dari perpustakaan. Perpustakaan merupakan gudang tempat berbagai bahan bacaan, khususnya buku bersemayam. Ketersediaan sarana dan prasarana perpustakaan yang memadai akan sangat mendorong minat baca masyarakat secara umum. Pemerintah pusat maupun daerah, melalui berbagai alokasi anggaran harus terus serius menangani perpustakaan dalam hal ketersediaan literatur dan penanganan perpustakaan yang profesional. Perpustakaan umum ataupun daerah harus meningkatkan pelayanan, bahkan jika perlu harus melakukan jemput bola dengan armada perpustakaan keliling. Tidak cukup hanya sampai pada soal pelayanan, namun para pustakawan juga harus menyusun berbagai program untuk menanamkan dan meningkatkan minat baca.

Keberadaan perpustakaan sekolah, perpustakaan masjid, perpustakaan warga, ormas, hingga komunitas harus mendapatkan perhatian dari dinas-dinas yang terkait. Ketidakcukupan koleksi buku pada suatu perpustakaan hendaknya bisa ditutup dengan kerja sama lintas perpustakaan. Akan sangat baik apabila perpustakaan dengan skala besar dapat mendukung keberadaan perpustakaan atau taman bacaan yang kecil dengan meminjamkan koleksi bahan bacaan dalam jangka waktu yang relatif panjang, katakanlah tiap dua atau tiga bulan. Dengan demikian, perpustakaan kecil dapat meminjam bahan bacaan untuk kemudian dipinjamkan lagi kepada masyarakat yang lebih luas. Kerja sama ini akan sangat menguntungkan kedua belah pihak. Jangkauan pelayanan perpustakaan keliling yang tidak dapat mencapai daerah terpencil dalam periode waktu yang rutin, dapat disambung oleh perpustakaan lokal setempat. Di sisi lain, keterbatasan koleksi bahan bacaan di perpustakaan kecil dapat diatasi dengan pinjaman dari perpustakaan daerah.

Segala sarana prasarana, konsep, dan program dalam rangka meningkatkan pelayanan terhadap akses buku akan sama sekali tidak berarti bila gayung tidak bersambut oleh antusiasme dan minat masyarakat untuk membudayakan tradisi membaca. Kesadaran bahwa pusaka di jaman modern adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang tersimpan di dalam pustaka, diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk bersemangat melakukan proses pembelajaran hidup sepanjang hayat. Pencanangan bulan September sebagai Bulan Membaca dan penetapan tanggal 14 September sebagai Hari Kunjungan Perpustakaan diharapkan dapat mendorong peningkatan minat baca. Ingat, hanya bangsa yang melek ilmu pengetahuan dan teknologi akan mencapai keunggulan dalam persaingan global, sehingga kesejahteraan dan kebahagiaan hidup dapat diraih bersama-sama. Bacalah! Bacalah atas nama Tuhanmu!

Ngisor Blimbing, 11 September 2011

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s