Negara dalam Gelembung, Indonesia Terkotak-kotak


Gelembung merupakan fenomena fisika dimana sejumlah volume udara tertentu terjebak oleh suatu lapisan pembatas yang sangat tipis. Seiring dengan terjadinya pengembangan tekanan dan udara di dalam gelembung yang menyebabkan gelembung bertambah besar, maka lapisan pembatas yang dimaksud di depan justru semakin menipis. Pada suatu batas kritis dimana lapisan pembatas tersebut sudah tidak dapat lagi menahan tekanan udara di dalam gelembung, terjadilah ledakan gelembung. Gelembung udara yang sebelumnya ada menjadi tidak ada. Hilang tiada berbekas. Yang tertinggal hanyalah kehampaan. Kosong!

Dalam konteks demokratisasi yang tengah berlangsung di negara kita, terapan demokrasi telah menghadirkan ekslusivisme masyarakat atas nama kelompok, golongan, atau partai tertentu. Suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, mau atau tidak mau, rakyat akan terbawa kepada arus polarisasi atas nama demokrasi. Orang-orang dengan kesamaan pandangan hidup, kesamaan kepentingan idealism ataupun pragmatisme, kesamaan warna, dan lain sebagainya cenderung akan berdiri di bawah panji-panji kelompok, golongan, atau partai yang sama. Sayangnya pihak atau bagian masyarakat lain yang berada di luar panji-panjinya dianggap sebagai pesaing, bahkan musuh. Demokrasi justru telah mengkotak-kotakkan masyarakat. Demokrasi telah memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat.

Demokrasi di negeri kita akhir-akhir ini telah memicu terbentuknya gelembung-gelembung atas nama kelompok, golongan, ataupun partai sebagaimana terurai di atas. Demokrasi dalam aura negatif persaingan tidak sehat diantara anak bangsa telah menghadirkan ketegangan-ketegangan ataupun friksi dan benturan diantara para pihak yang berlainan dalam pandangan politik. Alih-alih memperkuat bangunan kebangsaan kita, demokrasi tidak sehat telah menggiring negara kedalam fatamorgana gelembung-gelembung politis yang terus membesar dan tinggal menunggu saat kritisnya untuk meledak. Dengan demikian sesungguhnya masyarakat, bangsa, dan negara kita benar-benar dalam suatu kondisi yang sungguh-sungguh gawat keliwat-liwat. Kondisi demokrasi kacau-balau yang kontra produktif terhadap pembangunan yang dicanangkan.

Sebagai wujud keprihatinan kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin suram, Majlis Masyarakat Maiyyah senantiasa istikomah untuk mengambil jarak dari karut-marutnya lingkungan sekitar. Segala pengetahuan dan pengalaman yang dirasakan senantiasa dijadikan cermin untuk terus menata hati, menjernihkan pikiran, serta merencakan langkah agar paling tidak bagian dari Masyarakat Maiyyah tidak turut menambah masalah bangsa dan negara. Tentu akan jauh lebih baik lagi, apabila melalui pertapaan-pertapaan ketika berseberangan dengan suatu parameter keumuman di tengah masyarakat dapat mencetuskan pencerahan bagi suatu peluang untuk turut mengatasi permasalahan bangsa dan negara.

Adalah diskusi rutin Majlis Masyarakat Maiyyah Kenduri Cinta Jakarta yang pada edisi April 2017 mengusung tema “Negara dalam Gelembung”. Gelembung-gelembung yang hadir sebagai efek negatif praktik demokrasi yang kita laksanakan semakin menjadi-jadi. Kita dapat membayangkan betapa dalam penyelenggaraan pemilukada masyarakat kita benar-benar tercabik-cabik dalam suasana perbedaan pendapat yang sangat tajam dan telah menjelma menjadi energi perpecahan yang luar biasa. Karena pilihan warna yang berbeda, karena pilihan calon yang tak sama, ikatan sanak saudara dan keluarga dapat pudar seketika. Tekanan perpecahan semakin dahsyat dengan polesan isu SARA, suku, ras dan agama.

Sebagai inti pembicaraan yang diurai Cak Nun, saya menangkap pesan mendalam bahwasanya demokrasi hari ini telah mendatangkan gelembung-gelembung ketegangan yang mengarahkan situasi kepada kehancuran. Rakyat dan masyarakat dikotak-kotakkan ke dalam situasi dukung-mendukung calon atau kelompok tertentu. Simbol baju kotak-kotak secara langsung atau tidak telah menggambarkan dengan sangat gamblang fenomena tersebut.

Indonesia adalah bangsa besar. Kejayaan Sriwijaya, Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram merupakan catatan sejarah yang sangat berharga dalam pembinaan kerukunan dan persatuan rakyat bangsa, serta negara. Keragaman suku bangsa, ras, dan juga kepercayaan maupun keyakinan agama bukanlah hal yang baru. Semenjak masa nenek moyang, kita sungguh-sungguh telah sadar dengan berbagai perbedaan yang ada. Semenjak itu pula kita telah terdidik untuk saling menghormati, saling bertoleransi, saling menghargai. Dengan sikap demikian terciptalah sebuah kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang rukun, damai, tentram, adil makmur. Maka tidaklah berlebihan jika Mpu Tantular mencatatkan “Siwatattwa tunggal, Bhinneka tunggal ikha, tanhana dharma mangrwa” dalam Kita Sutasoma yang termasyur itu.

Akankah kita terus-menerus menciptakan gelembung-gelembung yang mengungkung udara kebebasan demokrasi kita? Ataukah kita segera menyadari kesalahan pilihan dan berusaha menciptakan demokrasi yang sesuai dengan kepribadian ketimuran kita? Demokrasi hanyalah alat dalam kebersamaan menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kita boleh berbeda pendapat. Kita tidak salah berselisih ide dan gagasan. Kita tidak masalah berseberangan pilihan dan keyakinan. Namun satu yang harus kita pegang bersama bahwa kita satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Perbedaan adalah rahmat. Perbedaan adalah anugerah terindah untuk saling mengisi dan melengkapi satu sama lain diantara sesama anak bangsa.

Monggo kita renungkan bersama.

Ngisor Blimbing, 15 April 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s