Kon-muter ala Commuter Line


Pada masa kepemimpinan Ignatius Jonan, kita sama-sama mencatat terdapat langkah-langkah yang sangat nyata dalam pembenahan sistem angkutan umum di PT Kereta Api Indonesia. Khususnya di ibukota Jakarta, hadir sistem kereta api yang kini kita kenal sebagai commuter line. Dengan menghapus kelas-kelas kereta dan penumpang, serta pembayaran tiket berbasis e-money menggunakan kartu, masyarakat benar-benar didorong menerapkan budaya baru. Ya budaya disiplin antri, disiplin membayar, disiplin bersih, dan lainnya. Inti cerita, banyak penumpang yang merasakan adanya kenyaman baru dalam berkereta.

Dengan pembenahan yang telah dilakukan, masyarakat ibukota semakin merasakan kereta api sebagai sarana transportasi yang semakin nyaman, tepat waktu, bebas macet, dan yang pasti murah-meriah. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya jumlah pengguna jasa layanan commuter line di ibukota. Masyarakat yang semula menggunakan kendaraan pribadi maupun naik sarana angkutan umum yang lain, kini sebagian rela beralih naik kereta api.

Kondisi kemacetan ibukota yang semakin parah akhir-akhir ini tentu saja semakin mendorong masyarakat untuk beralih naik commuter line. Kondisi ini tentu saja menuntut peningkatan layanan yang diberikan oleh pengelola commuter line. Peningkatan jumlah penumpang yang tidak sebanding dengan peningkatan jumlah kereta atau gerbong baru menyebabkan kereta harus mengangkut penumpang melebihi kapasitas angkut. Akibatnya terjadilah desak-desakan penumpang, baik di dalam gerbong kereta maupun pada saat akan naik-turun, terlebih pada saat antri untuk keluar dari stasiun.

Demi mengantisipasi dan meningkatkan mutu pelayanan terhadap para pelanggannya, tentu saja PT KAI senantiasa berbenah. Salah satu langkah pembenahan yang banyak dilakukan adalah penataan atau perluasan area kawasan stasiun. Sebagai contoh yang penulis langsung lihat sehari-hari adalah penataan di Stasiun Tangerang, Stasiun Duri, maupun Stasiun Tanah Abang.

Berkaitan dengan langkah penataan ulang di beberapa stasiun sebagaimana saya contohkan di atas, ada beberapa catatan yang saya rasakan. Hal ini terutama berkaitan dengan pengaturan arus penumpang pada saat masuk maupun keluar, termasuk penyediaan gate untuk tap masuk dan keluar stasiun.

Sangat berbeda dengan model stasiun kereta api yang sudah maju di luar negeri, di sana pada umumnya disediakan banyak akses untuk keluar-masuk penumpang ke area stasiun. Sebuah stasiun biasanya dirancang dengan pintu keluar masuk di setiap penjuru atau sudut stasiun. Paling tidak ada pintu utara, pintu selatan, pintu barat dan pintu timur. Dengan demikian, konsentrasi penumpang yang akan masuk ataupun keluar stasiun justru dipecah ke beberapa sisi stasiun. Di samping untuk menghindari antrian panjang pada pintu yang terbatas jumlahnya, hal ini sekaligus mengurangi konsentrasi kendaraan lanjutan di area luar stasiun yang mengitarinya.

Lain di luar negeri memang sangat lain pula dengan yang kita rasakan pada stasiun-stasiun di ibukota Jakarta. Kita bisa melihat bagaimana ruwetnya pengaturan arus manusia di Stasiun Tanah Abang. Meskipun saat ini sudah dioperasikan eskalator di peron utama, namun di samping ukuran eskalator yang hanya satu meter dan jumlahnya hanya dua buah tentu tidak sepadan dengan jumlah penumpang yang melaluinya. Hal ini semakin membuat antrian panjang dan penumpang yang saling berdesakan pada saat terjadi kedatangan beberapa kereta sekaligus di beberapa peron secara bersamaan.

Setelah turun dari kereta api di peron, naik eskalator, lalu kemanakah orang diarahkan? Penataan stasiun yang baru dalam proses finalisasi pada saat ini, gerbang keluar berada di sisi timur laut mengarah ke Jalan Jatibaru. Semua orang diarahkan menuju ke gerbang yang sama. Tidak ada pemecahan konsentrasi manusia. Tentu saja hal itu tetap berimbas kepada penumpang yang masih terus berdesakan. Belum lagi ketika sudah keluar dari gerbang tap, penumpang masih dibelak-belok kanan-kirikan sebelum mencapai pagar pintu keluar. Seolah setiap orang disuruh putar-puter dulu sebelum keluar area stasiun. Tidak saja naik commuter line, bahkan setiap penumpang dikon-muter alias diarahkan untuk muter-muter sambil terus saling berdesakan satu sama lain.

Lor Kedhaton, 7 April 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s