Potret Angkutan Umum Yang Semakin Suram


Aktivitas masyarakat umum dalam kegiatan sehari-hari tidak terpisahkan dari dukungan sarana angkutan atau transportasi umum. Terkecuali infrastruktur transportasi umum di ibukota negara maupun di kota-kota besar yang terus mendapat perhatian dari pemerintah, transportasi angkutan umum di pedesaan dan antar kota antar provinsi dirasa sangat kurang mendapatkan sentuhan yang serius dari pemerintah. Berbeda dengan angkutan antar kota antar provinsi dengan bus malam, angkutan reguler justru kian merana.

Kondisi yang saya sampaikan di atas kiranya tidak berlebihan dan saya yakin juga banyak dirasakan oleh banyak orang. Beberapa minggu lalu pada saat saya menempuh perjalanan pulang-pergi dari Surakarta ke Magelang, banyak catatan ketidaknyamanan dan ketidakpastian sistem transportasi yang saya rasakan.

Pada saat tiba di Terminal Tirtonadi yang sudah dikembangkan menjadi terminal modern, memang petunjuk arah menuju peron tempat penumpang harus menunggu bus yang akan dinaikinya memang sudah jelas. Namun di tempat tunggu justru tidak ada informasi mengenai jadwal keberangkatan bus. Dulu sekitar 10 tahun silam, bepergian dari dan ke Surakarta-Magelang kami merasa sangat nyaman dengan keberadaan bus Eka yang melayani jalur Surabaya-Magelang melalui Surakarta. Setidaknya hampir setiap jam, dapat dipastikan ada bus yang melintas. Akan tetapi pengalaman terakhir yang kami alami, justru bus tersebut tidak ada di jam pagi karena bus diperkirakan melintas pada jam 11 siang. Akhirnya saya memutuskan untuk naik bus secara estafet, dari Surakarta naik bus jurusan Jogja, baru dari Terminal Giwangan Jogja bersambung bus jurusan Magelang-Semarang.

Di samping kelangkaan trayek layanan bus, nampaknya jumlah bus yang ada juga sudah sedemikian berkurang. Dulu hampir setiap 5-10 menit dapat dipastikan ada bus diberangkatkan untuk trayek layanan yang sama. Selain bus ngetem sangat lama di terminal, setelah keberangkatan bus juga hanya berjalan pelan karena jumlah penumpang juga tidak penuh. Hal ini tentu saja berimbas terhadap durasi perjalanan dari terminal asal hingga menuju terminal tujuan kita. Dengan bus ukuran 3/4 yang saya naiki, Surakarta ke Jogjakarta saya tempuh dalam waktu lebih dari dua jam.

Gambaran sarana transportasi umum jurusan Jogja-Semarang melalui Magelang juga sekali tiga uang. Bus-bus antar kota antar provinsi yang sudah nampak tua nan kusam, juga ditangani oleh para kru angkutan yang rata-rata suadah tua juga. Durasi keberangkatan bus hampir berjarak 30 menit antar bus. Dengan laju bus yang nggremet dan kepadatan lalu lintas yang cukup ramai, ditambah waktu ngetem selama hampir 30 menit di Terminal Jombor, jarak Terminal Giwangan ke Terminal Muntilan juga harus ditempuh dalam waktu dua jam. Padahal untuk jarak yang sama, 15 atau 10 tahun silam cukup dicapai dalam waktu 1 jam saja. Walhasil Surakarta-Muntilan kami tempuh dalam waktu lebih dari 4 jam.

Kondisi sebaliknya saya rasakan lebih parah lagi. Sehari berselang ketika saya akan balik dari Muntilan menuju Surakarta, saya menunggu selama lebih dari 40 menit untuk naik bus ke arah Jogja. Tentu saja bus yang saya dapatkan sudah penuh sesak dengan penumpang yang menumpuk dan sayapun terpaksa berdiri hingga Terminal Jombor. Masih menempuh jalur yang sama, bus jurusan Surakarta dari Jogjakarta yang tidak jauh berbeda kondisinya. Bus tua, mesin tua, serta para kru yang juga rata-rata sudah tua. Sudah pastinya jalan dengan pelan, dan ujung-ujungnya Muntilan-Surakarta memakan waktu lebih dari 5 jam.

Mencermati pengalaman bertransportasi umum menggunakan bus umum reguler antar kota antar provinsi beberapa minggu lalu itu tentu saja mengundang rasa keprihatinan tersendiri. Maraknya peralihan para penumpang kendaraan umum yang beralih ke kendaraan pribadi tentu sedikit banyak telah semakin menambah suramnya moda trasnportasi umum kita. Dengan penumpang yang semakin berkurang, armada buspun semakin merana. Jangankan senantiasa memperbarui armada yang ada, sekedar untuk melakukan perawatan dan pemeliharaan rutin saja sudah semakin berat.

Jumlah penumpang yang semakin sedikit dan setia menggunakan transportasi umum telah memperpanjang waktu ngetem yang berimbas bus terhadap frekuensi keberangkatan. Bus terasa semakin langka, semakin lama pula waktu antar bus, hingga semakin lama waktu tempuh sebuah perjalanan. Di sisi lain, kita saat ini justru semakin dituntut untuk bergerak cepat. Hal ini tentu saja semakin menurunkan minat penumpang untuk tetap bertahan menggunakan transportasi umum.

Peralihan penumpang kepada kendaraan pribadi juga turut memberikan sumbangan yang sangat signifikan terhadap peningkatan kepadatan lalu lintas.  Lalu lintas yang semakin padat menuntut setiap kendaraan tidak bisa bergerak dengan kecepatan yang maksimal. Bahkan sangat sering terjadinya tumpukan antrian kendaraan yang tak jarang berujung kepada kemacetan lalu lintas. Kalau sudah macet ria, tentu semua pihak turut menanggung kerugian. Ya rugi waktu, rugi bahan bakar, rugi beban pikiran akibat stress, dan lain sebagainya.

Saya jadi merasa sangat bersyukur pernah menjalani masa studi di salah satu bangku SMA di Jogja dengan masih bisa nglaju mengandalkan naik bus umum dengan murah dan nyaman sekitar 20 tahun silam. Pada saat itu lalu lintas belum seramai sekarang. Bus antar kota antar provinsi sangat banyak. Hampir tiap lima menit selalu ada bus yang siap melayani penumpang. Jarak 40 km antara kampung halaman dengan sekolah dapat ditempuh dalam waktu 45 menit adalah sebuah kemewahan tersendiri jika dirasakan pada masa kini.

Lor Kedhaton, 3 April 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s