Pesan Peradaban dari Sangiran


Manusia modern adalah spesies yang langka kalau bukansatu-satunya. Hanya manusia yang dapat berbahasa, menciptakan teknologi, berkarya seni, memiliki ilmu pengetahuan, dan belajar dari masa lampau. Dengan kata lain, satu-satunya spesies yang menghasilkan budaya. Sejarah evolusi manusia mengajarkan kepada kita, bahwa semua keunggulan itu adalah hasil suatu proses panjang yang terjalin oleh keberuntungan, kecerdasan, dan keberhasilan manusia menjalin hubungan sosial. Karena itu, hakekat kemanusiaan tidak terletak pada keberhasilannya memenuhi kebutuhan ragawi, tetapi justru pada kemampuan manusia untuk belajar terus memelihara kepedulian sosial, saling menghormati, tenggang rasa, dan memiliki cinta kasih. Itulah yang membedakan manusia dari makhluk lain.”

Baris kata dan kalimat di atas jika kita cermati secara seksama menyimpan pesan yang sangat mendalam. Entah siapa yang merumuskan baris kata dan kalimat tersebut, tetapi setiap pengunjung di Museum Purbakala Sangiran dapat menemukan sebuah lempeng prasasti yang mengguratkan pesan-pesan tersebut.

Dalam berbagai kesempatan kita diajarkan untuk tidak pernah melupakan sejarah. Sejarah merupakan akar asal-usul keberadaan kita hingga pada saat ini. Sejarah, bahkan semenjak masa prasejarah, telah banyak memberikan pembelajaran dan pengalaman yang membawa manusia mencapai kemajuan berpikir, berbahasa, berbudaya, dan selanjutnya berperadaban. Dengan cipta, rasa, karsa, serta akal budinya, manusia menjadi satu-satunya spesies makhluk hidup yang paling istimewa. Istimewa karena ia mampu berbahasa untuk saling berkomunikasi satu sama lain, menciptakan teknologi untuk mempermudah hidupnya, berkarya seni untuk keseimbangan jiwa dan batinnya, serta memiliki ilmu pengetahuan untuk memecahkan berbagai permasalahan hidup yang dihadapi.

 

Dengan kecerdasan yang dimiliki, manusia mampu belajar dari berbagai hal yang ditemuinya, termasuk belajar dari masa lampau. Melalui exsperiments dan/ataupun experiences-nya, manusia dapat menilai sesuatu hal yang merugikan kehidupannya sehingga hal tersebut dapat dihindari, atau tidak dilakukan dan diulanginya. Sebaliknya terhadap sesuatu yang bermanfaat baginya, manusia menjadi tahu mengenai apa yang perlu dilakukan dan dikembangkannya lebih lanjut. Masa lampau, demikian halnya masa pra-sejarah dansejarah itu sendiri,menjadi titik pijak untuk menjalani hidup di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Pencapaian manusia menjadi makhluk yang bebahasa, berbudaya, dan berperadaban merupakan sebuah proses yang teramat sangat panjang. Proses tersebut sangat diwarnai dengan unsure keberuntungan, kecerdasan, serta interaksi hubungan sosial-personal diantara manusia dengan manusia yang lain, maupun antara manusia dengan masyarakat sekitar serta lingkungan hidupnya. Manusia baru akan dikatakan sebagai manusia apabila ia mampu untuk belajar terus memelihara kepedulian sosial , saling menghormati, tenggang rasa, dan memiliki cinta kasih.

 

NgisorBlimbing, 29 Maret 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s