Sensasi Teh Racikan ala Bontank Tea


Teh, bagi beberapa bangsa, termasuk suku bangsa Jawa, merupakan sajian minuman khas yang tidak terpisahkan dalam kehidupan keseharian. Teh menjadi menu minuman yang paling sering muncul di setiap rumah tangga, baik sebagai menu harian maupun untuk menjamu tamu yang singgah. Minuman atau wedang dalam Bahasa Jawa memiliki makna tidak hanya sekedar sebagai minuman suguhan semata. Wedang mengandung makna ngawe kadang atau bisa juga nggawe kadang, artinya mengajak atau membuat suatu hubungan persaudaraan. Suguhan minuman menjadi pralambang keramah-tamahan seorang tuan rumah dalam memuliakan tamu yang berkunjung.

Teh, bagi sebagian orang Jawa merupakan minuman yang paling sering dinikmati. Bahkan kopi atau jenis minuman lainnya belum bisa menggantikan rasa nggathok atau kecanduannya terhadap teh. Bersama dengan datangnya gema adzan Subuh, masyarakat Jawa biasanya sekaligus sudah menjerang air. Ketika air mendidih, diseduhlah teh di dalam teko ataupun termos. Teh seringkali menjadi minuman pembuka hari. Teh hangat, terlebih yang panas, legi dan kenthel (nasgithel) akan membuat perasaan dan pandangan mata peminumnya menjadi pyar, dunia padhang njingglang bin terang benderang. Mata yang sudah pyar menjadi modal utama untuk memulai dan menjalani rutinitas keseharian. Tidak saja mata kepala, namun terlebih lagi adalah matahati.

Selain sebagai sajian privat di setiap rumah tangga, teh juga hadir sebagai jamuan minuman dalam sebuah hajatan. Dari hajatan mantenan, khitanan, pengajian, hingga sripahan orang meninggal, teh senantiasa hadir sebagai suguhan minuman. Dalam kegiatan hajatan bahkan teh dipersiapkan secara lebih khusus. Melengkapi bagian dapur, hadir bagian khusus yang bertugas menyiapkan hidangan teh. Karena minuman yang paling umum disajikan dalan suatu hajatan adalah teh, maka bagian tersebut disebut sebagai bagian patehan.

Berbeda dengan kepraktisan hidup manusia modern, sebagian besar masyarakat Jawa khususnya yang masih tinggal di wilayah pedesaan, baru akan merasa mantap jika teh yang diminum berasal dari racikan daun teh kering yang diseduh dengan air mendidih. Dengan demikian kehadiran teh celup tetap tidak bisa menggantikan teh seduh. Beda cita rasa, beda tingkat derajat panas yang dicita-rasakan membangkitkan rasa pyar itu tadi. Bahkan rasa pening atau pusing kepala bisa hilang seketika ketika kita menikmati sajian teh seduh dalam kondisi panas maupun hangat-hangat kuku.

Saya dan keluarga besar kami termasuk orang-orang yang nggathok atau berselera dengan minuman teh. Hampir bisa dikatakan tiada hari kami tanpa menikmati nikmatnya sajian teh panas nan kenthel. Teh sangat nikmat diminum mulai pagi hari, siang, sore, bahkan malam hari.

Minum teh dari teh kemasan yang diproduksi oleh pabrik adalah hal yang sudah sangat biasa. Akan tetapi jika kita mencermati sajian teh yang hadir di angkringan sekitar wilayah Jogja maupun wedangannya khas Solo, kita akan merasakan sensasi teh yang berbeda daripada yang sehari-hari kita seduh di rumah. Dimanakah kunci perbedaannya? Rupanya pada kebanyakan warung angkringan atau wedangan itu menghadirkan seduhan teh yang diramu atau dicampur dari beberapa produk teh sekaligus. Jadi ada campur tangan peracikan ala angkringan dan wedangan yang mencipatkan sensasi rasa teh tersendiri.

Mungkin terinspirasi dari adanya olah racik teh yang dilakukan oleh para pemangku angkringan dan wedangan tersebut, Pak Dhe Blontank Poer menyajikan kemasan teh racikan komplit dengan wangi melatinya. Bahkan demi memanjakan cita rasa para penikmati teh seduh yang beragam, ia ciptakan ragam komposisi racikan yang menghadirkan beragam varian rasa menurut selera para penikmat teh. Konon hingga saat ini, sudah diracik 14 varian rasa yang berbeda.

Teh racikan Pak Dhe Blontank Poer yang selenjutnya dibranding sebagai Blontea, kini terus tersebar luas pangsa pasarnya dengan dukungan promosi yang gencar di dunia maya. Di samping semakin moncer dan dikenal sebagai branding teh racikan istimewa yang menjadikan urusan ngeteh bukan sekedar urusan remeh-temeh lagi, Blontea kini juga menjadi sajian istimewa di beberapa kafe terkemuka. Jangan tanya lagi soal harga untuk varian Blontea yang hadir di kafe, tentu super istimewa juga.

Beberapa hari menyambangi Kota Bengawan, saya sempat diwanti-wanti Pak Dhe untuk wedangan bersama di malam terakhir kami. Sambil menikmati sajian nasi kucing dan uba rampe-nya di Wedangan Gareng, saya disodori sebungkus plastik racikan the Blontea. “Untuk sekedar icip-icip dan oleh-oleh buat yang di rumah,” demikian pesan Pak Dhe pada saat memberikan teh istimewanya.

Pagi ini, selepas bersepedaan melatih badan yang semakin membutuhkan olah fisik secara rutin, dalam derai tetesan keringat yang belum sempat mongering, istri tercinta langsung menyodorkan segelas Blontea istimewa. Dengan rasa penasaran sayapun segera menyeruput the di dalam gelas tersebut. Baru pada seruputan pertama sudah langsung terasa sensasi istmewanya teh Blontea. Rasa sedikit getir berbalut wangi melati langsung menghadirkan rangsangan urat syaraf otak yang mengendor dan terasa rileks. Benar-benar langsung pyar. Terasa terang benderang dunia seisinya.

Mungkin Blontea akan membuat kami sekeluarga ketagihan dengan menu racikan teh melati yang satu ini. Matur nuwun Dhe Blontank atas kesempatannya untuk turut icip-icip Blonteanya. Ojo kapok-kapok ngirimi kami lagi ya…

Ngisor Blimbing, 26 Maret 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s