Nuansa Hindu di Makam Sunan Pandanaran Bayat


Tersebutlah seorang adipati pendiri Kota Semarang bernama Adipati Pandanaran I. Puteranya Adipati Pandanaran II melanjutkan tahta Kadipaten Semarang berikutnya. Ia adalah salah seorang murid dari Sunan Kalijaga. Rupanya pangkat, jabatan dan kekuasaan telah menggelincirkannya ke dalam sifat serakah dan gila harta.

Untuk menyadarkan muridnya tersebut, Sunan Kalijaga menyamar sebagai seorang penyabit rumput. Dalam setiap keranjang rumput yang kemudian dibeli oleh para pembantu Adipati Pandanaran untuk makanan kuda kadipaten, Sunan Kalijaga menyertakan emas batangan. Setiap kesempatan mendapatkan emas batangan tersebut, sang Adipati merasa sangat kegirangan.

Lama-kelamaan sifat keserakahannya muncul. Tidak hanya ingin mendapatkan sebatang-dua batang emas di balik rumput dalam keranjang, ia memerintahkan para prajuritnya untuk membawa tukang penyabit rumput yang misterius dan setiap kali pembantunya membeli rumput kepadanya selalu ditemukan emas batangan. Dengan paksaan akhirnya tukang sabit tersebut digelandang ke kadipaten.

Merasa sebagai pemegang kekuasaan mutlak, Adipati Pandanaran menginterogasi tukang sabit rumput. Ia ingin tahu, darimanakah tukang sabit yang miskin tersebut mendapatkan emas batangan. Dengan bujukan halus, si tukang sabit tidak bergeming untuk mengatakan asal-usul emas batangan yang dimilikinya. Akhirnya, naik pitamlah sang adipati. Dengan caci maki dan ancaman ia paksa si tukang sabit mengungkapkan darimana emas batangannya.

Pak tua si tukang sabit tersebut kemudian meminta cangkul kepada pembantu Adipati. Dengan gerakan ringan tukang sabit tersebut mengayunkan cangkul dan menggali tanah di halaman kandang kuda miliki Adipati. Beberapa saat kemudian, memancarlah emas dari dalam tanah. Spontan mata Adipati membelalak dan segera menghamburkan diri untuk meraup emas-emas tersebut.

Sejenak kemudian si tukang sabit rumput membuka caping lebarnya. Dengan demikian nampaklah wajah aslinya. Dengan sorot mata tajam ia mengarahkan pandangan matanya ke mata Adipati Pandanaran. Sang Adipati terkejut bukan kepalang, ia sadar bahwa tukang sabit yang ada di hadapannya tidak lain dan tidak bukan adalah Sunan Kalijaga, gurunya sendiri. Seketika itu pula emas batangan yang memancar dari dalam tanah galian yang sebelumnya membutakan mata Pandanaran berubah menjadi batu.

Adipati Pandanaran segera sadar dan menjatuhkan diri bersimpuh kepada Sunan Kalijaga. Ia sangat malu kepada gurunya. Ia sadar bahwa keserakahan terhadap harta benda telah membuatnya lupa daratan. Sebagai seorang pemimpin ia terlena untuk selalu menumpuk-numpuk harta tanpa menghiraukan kesengsaraan yang dialami rakyatnya. Akhirnya ia berjanji untuk segera bertobat.

Sunan Kalijaga dapat menerima tobat Adipati Pandanaran dengan syarat ia harus meninggalkan singgasana adipatinya. Ia harus pergi ke arah selatan dan tidak diperkenankan membawa harta benda barang sepeserpun. Kelak di tanah perbukitan yang merupakan percampuran antara tanah lempung dan tanah kapur, ia harus menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Daerah inilah yang dikenal sebagai Tembayat. Semenjak pertobatannya dan menetap di Tembayat, Sunan Pandanaran dikenal pula sebagai Sunan Bayat.

Di samping menyisakan kisah hidup yang mengharu-biru, Sunan Pandanaran  juga meninggalkan sebuah area pemakaman diri, keluarga dan para pengikut setianya di bukit Jabalkat. Bukit tersebut lebih dikenal sebagai Pemakaman Sunan Pandanaran. Area pemakanan Sunan Pandanaran terletak di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten dan berbatasan langsung dengan wilayah perbukitan Gunung Sewu Kabupaten Gunung Kidul.

Menapai jalanan yang menuju area makam di atas bukit, peziarah harus menapaki ribuan anak tangga yang menanjak. Hal yang paling unik pada saat peziarah berada di area parkiran kendaraan adalah keberadaan gapura batu berbentu candi bentar. Meskipun tidak seberapa tinggi, namun gapura bentar tersebut menghadirkan gerbang masuk sebuah area pura atau candi. Beberapa langkah selanjutnya ternyata dijumpai lagi gapura bentar yang lain. Gapura ke II tersebut disebut sebagai Gapura Dhudha.

Dhudha berarti duda, yaitu seorang suami yang telah berpisah dari istrinya. Baik berpisah karena kematian maupun berpisah karena perceraian. Gapura Dhudha seolah menjadi pralambang ketika Sunan Pandanaran memasuki fase hidup dengan berpisah atau meninggalkan gemerlap kehidupan duniawi. Ia berpisah dari kekuasaan dan semua harta benda yang dimilikinya.

Dari samping Gapura Dhudha, barulah pendakian ribuan anak tangga yang cukup curam dimulai. Perjalanan menapaki anak tangga seolah sebuah perjalanan perjuangan yang maha berat. Tidak saja membutuhkan kekuatan fisik tungkai dan lutut kaki, pendakian tersebut juga memerlukan konsentrasi pikiran yang jernih. Salah-salah melangkah dengan teledor, peziarah bisa saja tergelincir ataupun terpeleset.

Sesampainya pada ujung atas anak tangga, peziarah diharuskan untuk melepas alas kaki. Alas kaki dapat dititipkan di tempat penitipan yang telah disediakan. Dari tempat penitipan alas kaki terhubung beberapa anak tangga lebar yang menghantarkan ke pelataran sebuah masjid. Masjid tersebut bernama Masjid Makam Sunan Tembayat. Peziarah biasanya mengambil air wudhu di pasucen yang ada di samping masjid. Untuk menghormati jasad dan arwah penghuni makam, pengunjung memang dianjurkan dalam keadaan suci.

Di sekitar pelataran masjid terdapat papan informasi yang memaparkan sejarah hidup Sunan Pandanaran dan keberadaan makamnya di bukit Bayat tersebut. Tepat di sisi masjid, terdapat lagi sebuah gerbang bentar yang tinggal separuh utuh. Gerbang ke III tersebut bernama Pangrantunan. Pangrantunan berarti perantauan. Setelah melepaskan jabatan adipati, mulailah Pandanaran merantau menuju tanah yang dijanjikan untuk selanjutnya berdakwah menyebarkan agama Islam.

Dalam perjalanan ziarah menuju makam Sunan Pandanaran yang berada di puncak bukit, pengunjung akan menjumpai beberapa gerbang candi bentar yang lainnya. Ada gerbang Panemut, Pamuncar, Kencur, dan lainnya. Total gerbang yang ada berjumlah tujuh buah. Gerbang candi bentar mengingatkan kita kepada gerbang sebuah pura. Masa hidup Sunan Pandanaran memang masih merupakan masa transisi antara kekuasaan Majapahit yang Hindu-Budha menuju kekuasaan Kasultanan Demak Islam.

Keberadaan Makam Sunan Pandanaran dengan segala pernak-pernik gapura candi bentar yang mencirikan ornamen Hindu dapat diartikan sebagai simbol akulturasi budaya Hindu dan Islam. Betapapun hakekat perbedaan ketauhidan sangat hakiki, namun dalam pergaulan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, bahkan dalam berbudaya, satu sama lain harus saling toleransi dan hidup secara rukun nan damai. Bagiku agamaku, adapun bagimu agamamu. Demikian batasan yang jelas dan tegas soal akidah yang tidak pernah sama sekali membatasi pergaulan sosial-kemasyarakatan diantara manusia yang berbeda keyakinan dan agama satu sama lainnya.

Betapa sangat berharga pesan mulia melalui berbagai simbol gerbang candi bentar yang ada di area Pemakaman Sunan Pandanaran Bayat, Klaten. Semoga pesan tersebut bisa diresapi oleh setiap generasi anak bangsa.

Lor Kedhaton, 24 Maret 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s