Pagelaran Yang Tak Lagi Tampil Gebyar


Pagelaran adalah tempat sesuatu digelar. Pagelaran dapat pula diartikan sebagai tempat suatu pertunjukan dipergelarkan. Bahkan pagelaran di dalam kosmos tata bangunan dan tata ruang pada sebuah keraton Jawa juga dapat bermakna tempat menggelar pertemuan, sidang, pisowanan, termasuk upacara-upacara sakral ataupun upacara penobatan sang raja. Tidak mengherankan jika Keraton Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta juga dilengkapi dengan pagelaran.

Adalah Keraton Kasunan Surakarta Hadiningrat yang didominasi warna biru langit pada berbagai bangunan maupun ornamen-ornamen hiasannya, juga memiliki bangunan pagelaran. Berbeda dengan Keraton Yogya yang sisi muka istana yang berbatasan dengan alun-alun utara adalah siti hinggil, bangunan terdepan dari Keraton Kasunanan Surakarta justru langsung menghadirkan pagelaran.

Pagelaran merupakan bangunan terbuka alias tanpa dinding di sisi depan dan sebelah kanan-kirinya. Pagelaran menjadi bangunan muka keraton yang menampakkan kegagahannya, terlebih jika langsung dilihat dari tengah Alun-alun Utara. Dengan demikian, pagelaran menjadi citra dan cermin langsung dari keberadaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Namun sayang sungguh seribu sayang. Untung tak dapat diraih dan malangpun tak dapat ditolak. Bersamaan dengan tragedi kebakaran hebat yang menimpa Pasar Klewer beberapa waktu silam, wajah Pagelaran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menjadi seratus delapan puluh derajat berubah. Kemegahan, kegagahan, keanggunan, bahkan aura mistisisme pagelaran telah pudar sama sekali. Pagelaran sebagai bangunan terbuka, tanpa dinding dan berlantai sangat luas tempat berbagai pagelaran seni adiluhung dihelat kini berubah menjadi penampungan pasar sementara.

Aktivitas sebuah pasar, terlebih yang menyandang status “penampungan sementara”, tentu teramat sangat jauh dari segi kelayakan standar sebuah pasar. Penataan kios dengan blok-bloknya tidak bisa sepenuhnya tertata rapi. Demikian halnya kesunyian dan kesyahduan suasana suatu pagelaran yang membawa perasaan sunyi-sunya, berubah menjadi gegap gempita suara pedagang dan pembeli yang saling tawar menawar barang dan tawar menawar harga. Sunyi-sepinya pagelaran telah berubah menjadi riuh-rendahnya suara yang mengumandang. Terlebih ketidakdisiplinan para pengguna pasar juga telah menghadirkan onggokan sampah yang kurang terurus dengan baik.

Namun di tengah kesemrawutan yang hadir, bersamaan dengan gegap-gempita riuh-rendahnya suara pedagang dan pembeli yang menggeremang, keberadaan sampah menggunung yang kurang tertangani, ada satu nuansa batin yang memancar bagaikan pancaran mutiara sangat berharga. Pancaran itu bernama ketulusan Sang Raja Kanjeng Sunan Pakubuwono XIII yang berkenan meminjamkan pagelarannya untuk menggelar dagangan para pedagang yang tengah dirundung malam akibat pasarnya terbakar. Ada citra keluasaan hati, ada rasa kemurahan nurani, ada titah keberpihakan terhadap nasib wong cilik.

Meskipun bukan sebagai warga Surakarta, namun sudah seyogyanya jika kita semua turut memanjatkan harapan semoga proses renovasi Pasar Klewer yang terbakar segera rampung, sehingga nasib para pedagang yang sementara ini ditampung di alun-alun maupun di pagelaran dapat segera menempati tempat usahanya yang lebih layak. Dengan demikian keanggunan dan kuncaraning kewibaan pagelaran beserta keratonnya dapat segera pulih kembali.

Solo Paragon, 13 Maret 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s