Etung-etungan Sama Tuhan


masjidkudus1Selepas sholat Isya’ di malam Jum’at silam, si Ponang bertanya kepada saya, “Pak, surat yang tadi dibaca itu surat apaan sih?” Ia sudah pasti menanyakan ayat pendek yang kami baca pada saat melaksanakan sholat Isya’. Tanpa disadarinya, sebenarnya si Ponang sudah hafal di luar kepala perihal ayat yang kami baca tersebut. Namun secara utuh ayat tersebut bagian dari surat apa, dia mungkin tidak begitu ngeh.

Ooo, itu bagian dari Surat Yasiin Le,”jawab saya dengan pasti. Memang semenjak si Ponang khatam buku Iqra 6 dan mulai menderes Qur’an, kami biasa membaca Surat Yasiin bersama di hampir setiap malam Jum’at. Karena berulang-ulang membaca, tidak mengherankan jika bacaan tersebut sadar tanpa sadar ternyata tertanam di ingatannya.

Tidak hanya terhenti di pertanyaan pertama, pertanyaan selanjutnya segera meluncur dari si Ponang, “Kok dibacanya hanya ayat itu. Emang boleh membaca surat tidak utuh semua ayatnya?”

Ya boleh to Le. Bahkan seandainya setelah surat Al Fatihah kamu membaca ayat pertama surat Yasiin juga boleh. Jadi setelah amin, langsung bismillah hirahmaa nirrahiim….yaaasiiin. Allahu akbar! Langsung rukuk. Boleh kayak gitu Le,” jawab saya agak panjang lebar.

Si Ponang sempat ndomblong. Ia kemudian menyahut, “Wooo, enak dong kalau begitu. Berarti nanti kalau sholat habis Al Fatihah langsung baca, aliif laam miiim boleh kan?

Saya hanya menggut-manggut pertanda membenarkan kesimpulan yang ditarik si Ponang. Raut mukanya begitu sumringah. Seolah ada suatu pencerahan yang baru saja ia dapatkan. Namun di sisi lain saya juga menangkap kesan dari sorot pandang mata anak saya. Ia sepertinya berpikir untuk mengetrapkan jurus irit membaca ayat sangat pendek agar sholatnya bisa semakin ringkas. Dengan ayat yang singkat, otomatis sholatnyapun akan semakin kilat. Semakin cepat!

Beberapa malam berlalu, muncul kembali pertanyaan yang serupa dari si Ponang. “Pak, kalau baca doa dalam sholat boleh juga diringkas ya?”

Saya sedikit mengerutkan kening mencoba memahami pertanyaan anak sulung saya tersebut. “Maksudnya doa diringkas yang bagaimana to Le?” saya mencoba menggali keterangan lebih dalam.

Ya, misalnya membaca doa pada saat sujud.” Ia langsung mengambil sikap posisi sujud. Sejurus kemudian terdengar ia merapal doa, “A’la hamdi…a’la hamdi…a’la hamdi. Allahu akbar.” Begitu terbangun dari sujud dan terduduk, si Ponang langsung nyengir.

Waduh? Jagad dewa batara! Saya hanya mampu mlongo bin ndomblong. Bacaan doa sujud yang selengkapnya subhana rabbiyal a’la wa bii hamdi dan harus dibaca tiga kali hanya dibacanya a’la hamdi…a’la hamdi…a’la hamdi. Bolehnya anak kecil kalau berlogika mungkin memang demikian. Kalau bacaan surat boleh ringkas dipilih ayat manapun, bahkan jikalaupun ayat tersebut hanya terdiri atas satu huruf atau dua tiga huruf. Berarti bacaaan doa juga bisa diringkas dengan hanya merapalkan kata-kata tertentu saja.

Saya paham sepenuhnya dengan logika polos yang tengah diterapkan oleh si Ponang. Namun demikian, sepanjang pengetahuan yang pernah saya dengar dari para guru alim ulama, nalar demikian tidak sepenuhnya bisa diterapkan untuk semua hal dengan segala kondisi dan keadaannya. Maka dengan tegas sambil tetap tersenyum saya kemukakan kepada anak saya, “Ya, nggak boleh to Le. Itu namanya pelit sama Gusti Alloh. Mongsok membaca doa diirit-irit, diringkas-ringkas. Lha wong kita pinginnya minta banyak hal kepada Tuhan kok nembungnya asal cepet-cepatan saja.

Saya terkenang kembali dengan pesan khutbah pada Hari Jum’at sebelumnya yang menyampaikan fenomena ummat Islam pada saat ini yang pinginnya serba instan. Pinginnya amal sedikit, tetapi rejekinya berlimpah ruah. Pinginnya malas kerja tetapi kaya raya. Pinginnya pandai tetapi belajarnya tidak mau. Pinginnya gaji besar tetapi melakukan pekerjaannya ogah. Inginnya masuk surga tetapi amal ibadahnya tidak mau mengerjakan. Kalau urusan soal kebaikan, soal beramal ibadah kepada Tuhan ingin serba irit, serba cepat, serba mudah, serba ringan, serba enak, dll. Tetapi dengan amal yang serba enak serba mudah tersebut inginnya Tuhan mengabulkan setiap keinginan kita. Kita sangat perhitungan dalam “bertransaksi” dengan Tuhan.

Kita terlanjur menerapkan prinsip ekonomi dimana dengan modal yang sekecil-kecilnya ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Tanpa sadar kita telah mengesampingkan sama sekali porsi dan peran bahwa setiap sesuatu harus dicapai dengan kerja keras, dengan pengorbanan, dengan ihtiar dan usaha kita, bahkan terkadang dengan sepenuh jiwa raga yang kita miliki. Hal ini barangkali sudah semakin jamak kita temukan dalam diri kita masing-masing, pada diri saudara dan keluarga kita, bahkan pada setiap masyarakat dan bangsa kita. Kita sudah semakin terseret jauh ke lembah materialisme sehingga sedemikian mengesamping nilai-nilai kesejatian religiusitas.

Lor Kedhaton, 7 Maret 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s