Salak Wetan Salak Kulon


Salak memiliki nama latin Salacca zalacca. Khusus varietas salak pondoh, salak lumut, dan salak madu, ketiganya merupakan tumbuhan endemik lereng Gunung Merapi. Adalah di sisi kanan dan kiri Kali Krasak sisi hulu diyakini sebagai daerah asal-usulnya, meliputi daerah administratif Kecamatan Turi, Pakem, dan Tempel di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, ditambah Kecamatan Srumbung yang masuk wilayah Kabupaten Magelang.

AnakAlam2

Di samping varietas atau spesies salak sebagaimana telah saya sebutkan di atas, tanah air kita sebenarnya sangat kaya dengan berbagai jenis tanaman dan buah salak lokal. Ada salak condet khas Betawi, adapula salak bali dari lereng Gunung Agung di Pulau Bali. Namun salak pondoh memiliki keunggulan tekstur buah yang renyah dan rasanya yang manis. Berbeda dengan jenis salak lain yang baru bisa dinikmati setelah tua, salah pondoh hanya perlu menunggu biji buahnya berwarna coklat maka buahnya sudah renyah dikunyah. Justru kalua buah salak pondoh terlalu matang, maka meskipun buahnya masir namun rasa manisnya justru sangat berkurang.

Beberapa malam silam seorang teman yang dulu sama-sama menumpuh sekolah di bangku SMP dan kini tinggal menetap di Bandung banyak bertanya soal salak pondoh. Di samping kaki Gunung Merapi, daerah Banjarnegara dan Wonosobo saat ini juga dikenal luas sebagai daerah penghasil salak pondoh. Salak pondoh “Banjar” bahkan dikenal sebagai salak pondoh super. Dikatakan super karena ukuran buahnya yang lebih besar, dengan kulit warna coklat cerah keemasan, dan tetu saja rasa buahnya renyah manis. Salak pondoh Banjar menurut saya justru lebih mirip dengan salak lumut yang berasal dari Dusun Lumut di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang.

Dari perbincangan yang terjadi, kami sampai pada suatu kesimpulan perbandingan harga antara salak pondoh dari Merapi (salak wetan) dengan salak pondoh banjar (salak kulon). Untuk daerah Bandung dan sekitarnya, harga dasar salak justru menunjukkan salak banjar jauh lebih murah harganya. Para pedagang mendapatkan harga salak kulon pada kisaran Rp 2.000-3.000. Adapun untuk salak pondoh wetan, sepanjang informasi yang saya dapatkan pada saat ini, di tingkat petani sudah mencapai Rp.5.000-6.000.

Menurut dugaan saya, salah satu faktor utama yang menjadikan harga kedua jenis salak tersebut sangat berbeda adalah faktor biaya transportasi untuk mengangkut salah dari daerah penghasil ke daerah pemasaran. Dari segi jarak tempuh saja, sudah pasti jarak dari Banjarnegara ke Bandung maupun Jakarta tentu lebih dekat dibandingkan dari kaki Merapi. Namun kalau dari harga salak di tingkat petani, harga salak wetan jauh lebih laku dibandingkan salak kulon. Apa pasalnya coba?

Pemasaran salak pondoh di sekitar Merapi tidak bisa dilepaskan dengan Jogjakarta sebagai daerah tujuan wisata ke dua setelah Bali. Salak bisa jadi salah satu buah yang bisa menjadi oleh-oleh yang khas dari Jogja. Kita tentu akan dengan sangat mudah menemukan lapak para penjual salak pondoh di sepanjang Jalan Magelang, mulai kawasan Sleman menuju Borobudur. Sebagian salak pondoh tentu saja terserap di pasar lokal tersebut.  Dengan maraknya wisatawan yang berkunjung tentu saja jumlah permintaan akan senantiasa cukup tinggi.  Dengan demikian petani penghasil salak tidak perlu repot-repot mengirim salak ke tempat yang jauh karena para pengupul di tingkat local biasanya akan langsung menjemput hingga ke rumah petani.

Di samping dijual langsung sebagai buah oleh-oleh, salak pondoh kini juga telah diolah menjadi berbagai varian makanan maupun camilan yang menggoyang lidah. Pernah dengar kripik salak pondoh? Mungkin bahkan pernah merasakannya? Ada lagi manisan salak pondoh. Lainnya masih ada dodol salak pondoh, ada juga wingko rasa salak pondoh. Kreasi dan kreativitas varian makanan rasa salak pondoh tersebut dikembangkan tentu tidak lain dalam rangka meningkatkan nilai tambah salak pondoh di tingkat para petani.

Berkenaan dengan siklus buah salak yang meskipun bisa dikatakan dapat berbuah di sepanjang tahun, namun pohon salak tetap memiliki bulan puncak untuk berbuah. Bulan-bulan antara Desember dan Januari merupakan puncak raya panen salak. Dengan jumlah stok yang melimpah, apabila jumlah permintaannya tetap atau tidak meningkat tentu saja pada masa panen raya tersebut justru harga salak pondoh akan merosot ke titik paling rendah.

Terkait dengan hal tersebut saya jadi teringat dengan suatu kisah di jaman saya masih sekolah di SD. Adalah Pak Marsan, salah seorang guru kelas saya pada waktu itu juga seorang petani pembudidaya tanaman salak pondoh. Guru saya tersebut tinggal di Banyuadem. Pada waktu itu tanaman salak pondoh masih tergolong tanaman langka di daerah kami. Penanaman salak pondoh baru dilakukan oleh para petani di daerah tepian Kali Krasak yang kebetulan berbatasan dengan Kabupaten Sleman. Penanaman salak juga masih terbatas hanya dilakukan di kebun sekitar rumah.

Pada akhir dekade tahun 70-an, salah seorang adik Pak Marsan mendapatkan pengangkatan sebagai guru di daerah Wonosobo. Meskipun wilayah yang ditempati berada di Kabupaten Wonosobo, namun termasuk di garis perbatasan dengan Banjarnegara. Dikarenakan didaerah asal-usul sudah menanam salak pondoh, maka ia mencoba untuk menanamnya juga di tempat tinggalnya yang baru. Maka dibawalah beberapa bibit hasil cangkokan tanaman salak ke Wonosobo. Demikian maraknya varietas salak pondoh dari Wonosobo-Banjarnegara saya yakini ada sangkut pautnya dengan cerita tentang adiknya Pak Marsan tersebut. Dengan demikian salak wetan dan salak kulon sebagaimana saya singgung di atas tentunya ada hubungan kekerabatan dari asal-usul bibit tanaman se-nenek moyang.

Ngisor Blimbing, 5 Maret 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s