Menikmati Keteduhan Singapore Botanic Garden


Kota tanpa taman kota tentu saja ibarat manusia tanpa paru-paru. Keropos, sesak, hingga sering batuk-batuk dan gangguan saluran pernafasan lainnya. Kepadatan populasi penduduk kota dengan segala aktivitas modernnya yang serba bermesin menimbulkan emisi gas buang yang mencemari udara di kawasan kota. Tata keseimbangan lingkungan menjadi terganggu. Hal ini tentu saja tidak sehat bagi manusia.

singapore-botanic-garden1

Keberadaan pepohonan untuk menyerap dan mentralisir berbagai macam polutan udara menjadi sangat penting untuk tetap mempertahankan tata keseimbangan alam. Hutan atau taman kota kemudian dihadirkan untuk hal tersebut. Konsep menghadirkan hijaunya pepohonan di tengah lanskap wilayah perkotaan kemudian lebih dikenal sebagai tata kelola ruang terbuka hijau. Secara ideal, keberadaan ruang terbuka hijau pada suatu kawasan perkotaan tidak boleh kurang dari 30% wilayah yang ada.

Singapura dikenal tidak saja sebagai sebuah kota, namun Singapura adalah sebuah negara kota. Dengan satu pulau utama dan yang terbesar, menjadikan tingkat kepadatan penduduk kota paling modern di Asia Tenggara ini sangat tinggi. Dengan segala kesibukan transportasi dan geliat industrinya tentu saja menjadikan Singapura rawan dengan polusi udara, rawan dengan kemacetan, rawan keamanan, dan segala macam kerawan yang timbul pada sebuah kota megapolitan. Namun dengan segala konsep tata kota dan tata ruang yang memadukan segala kebutuhan manusia, terutama yang berhubungan dengan alam telah menghadirkan Singapura yang serba tertib, serba indah, serba bersih, serba sejuk, sehingga siapapun kemudian merasakan kenyamanan.

Salah satu penyangga hadirnya kesejukan udara di jantung kota Singapura adalah Singapore Botanic Garden. Taman hutan kota ini memiliki kemiripan konsep dengan Kebun Raya Bogor yang menjadi kebanggaan negara kita. Hanya saja dari segi ukuran luasnya, saya rasa Singapore Botanic Garden melebihi Kebun Raya Bogor.

singapore-botanic-garden-map

Salah satu agenda yang kami canangkan dalam kunjungan kami ke Negeri Lie Kuan Yu yang ke dua adalah menyambangi Singapore Botanic Garden. Pagi itu adalah hari ke dua kami tiba di Singapura, semenjak matahari baru merekah di ufuk timur kami sudah meninggalkan tempat menginap untuk menikmati kesegaran suasana pagi di taman hutan kotanya Singapura tersebut.

Dengan bus SBS Transit kami menuju Stasiun Bugis (DT14). Dengan melewati stasiun antara, meliputi Stasiun Rochor, Little India, Newton, Stevens, kami langsung dihantarkan menuju Stasiun Botanic Garden (DT9). Dengan kartu Singapore Tourist Pass yang ada di tangan kami, tentu kami dapat menikmati pelayanan berbagai moda transportasi publik yang ada di Singapura dengan lebih mudah, praktis, dan pastinya sangat menghemat pundi-pundi uang saku kami. Keterpaduan segala moda transportasi massa inilah yang manjadi keunggulan kota paling maju di Asia Tenggara ini yang menarik minat jutaan wisatawan luar negeri untuk mengunjunginya.

Selepas turun dari MRT kami keluar stasiun menuju arah Bukit Timah Road. Begitu keluar melalui gate stasiun, kami langsung disambut salah satu pintu gerbang Singapore Botanic Garden di sisi ujung sebelah utara. Tentu saja untuk menikmati keteduhan dan kesejukan Singapore Botanic Garden sebagai ruang terbuka hijau-nya Singapura, termasuk untuk para turis asing, tidak dikenakan biaya tiket sepeserpun. Tiket hanya khusus dikenakan pada area atau wahana yang bersifat khusus.

singapore-botanic-garden2

Mencermati peta Singapore Botanic Garden yang terpampang di sisi lorong masuk taman menghadirkan kesan pertama betapa sangat luasnya bentang taman yang ada. Dengan pertimbangan keikutsertaan para bocah, si Ponang dan Genduk Noni, kami langsung sepakat dan memutuskan untuk fokus menyambangi Jacob Ballas Children’s Garden di sisi utara sebelah timur. Di samping segementasi tematik taman yang dikhususkan untuk anak-anak, perkiraan kami letak taman tersebut tidak terlampau jauh dari titik keberadaan kami. Bayangan kami di segmen taman tersebut tentu banyak wahana yang berkaitan dengan edukasi kepada anak-anak mengenai betapa pentingnya fungsi dan kegunaan alam bagi kehidupan manusia.

Lor Kedhaton, 27 Februari 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s