Alumni Cah De: Sosok#25


Sosoknya bulat besar. Kekuatannya luar biasa. Selera makannya tentu juga di luar keumuman. Ia termasuk siswa yang bertubuh bongsor di kelas kami pada waktu itu. Dengan kekuatan fisiknya itulah, ia tak jarang “mengintimidasi” siswa lain yang lebih kecil ukuran badannya. Kini, setelah lewat lebih dari 25 tahun, ukuran tubuhnya seolah tidak bertambah tinggi. Namun justru lebar tubuhnya semakin menjadi dan tidak menampakkan bertambah ramping. Mengamati secara seksama sosoknya pada saat ini, mungkin kita langsung teringat dengan kisah Joko Kendil.

muhtarhadi

Pada suatu siang yang cukup terik, saya sedang leyeh-leyeh sambil menggantikan tugas menjaga warung kelontong keluarga kami. Sesosok tubuh gelap dan keringatan mendatangi saya. Dengan senyum dan tatapan lebar ia menyodorkan sebuah undangan pernikahan. Seingat saya, dialah teman SMP yang pertama kali menyodorkan undangan pernikahan kepada saya. Ia termasuk angkatan generasi yang menikah cukup gasik diantara teman-teman sekelas kami.

Di tengah derai hujan yang sangat deras di hari pernikahannya, saya, bersama dengan Heru dan Erwin sempat mendatangi acara resepsi pernikahan teman kami itu. Di tengah rinai hujan justru ada pemandangan yang sungguh menakjubkan. Di pelaminan duduk sepasang penganten dengan pakaian kebesaran gaya solo basahan. Dengan mahkota kebesaraan seorang raja sehari, ia justru mbledhing, tanpa mengenakan baju. Teman saya sungguh-sungguh menjelmakan dirinya sebagai Joko Kendil, bahkan selintas juga mirip dengan Kiai Semar Bodronoyo. Kejadian itu sudah berlalu sekitar lebih dari lima belas tahun silam, di bawah rimbunan Gunung Gono.

Duren ya duren, roti ya roti. Mbiyen ya mbiyen, saiki ya saiki. Namun bayang Joko Kendil yang membungkus sosok teman SMP yang satu itu tidak pernah berubah. Pada saat kami disambungkan melalui kecanggihan halaman facebook, saya tetap mengidentikkannya sebagai Joko Kendil. Terlebih pada saat ia berpose dengan sangat pedenya di depan gunungan duren, saya semakin ‘ainul yaqiin bahwa diri teman tersebut memang titisannya Joko Kendil. Apalagi sosok yang satu ini saat ini menjadi salah seorang pemangku, bahkan pawang duren dari Candimulyo. Ingatkah sampeyan dengan sosok yang saya maksudkan? Anda semua bisa mulai menelusur jejaknya di halaman berikut.

embut

Jika ada teman SMP satu kelas yang memiliki nama bapak sama-sama teman satu sekolah, maka dialah pria yang bergelar Muhtarhadi. Muhajir adalah nama bapak kandungnya. Muhajir pulalah nama salah satu teman sekelas kami di saat duduk di bangku kelas 1D. Bahkan, Muhajir dan Pak Muhajir termasuk tetangga dusun dan masih sama-sama warga Banyubiru. Muhajir dari Dusun mBrajan, sedangkan Pak Muhajir dari Dusun mBiru-nya.

Muhtarhadi dipanggil Muhtar. Ada pula sebagian teman SD-nya ataupun para tetangga dekatnya memanggil dengan sebutan Adi. Namun nama gelar tenar bin kondhang kaloka di sekolah kami yang dimilikinya adalah Embut! Entah siapa yang mengawali, nama Muhtar disambungkan dengan Embut sehingga menjadi Muhtar Embut. Muhtar Embut merupakan nama salah seorang pujangga atau sastrawan yang kami kenal melalui pelajaran Bahasa Indonesia yang diajar Pak Kusno. Sebutan Embut ini juga masih sering terngiang diantara teman-teman sealumni saat ini.

Dengan tubuhnya yang super bongsor waktu itu, tentu saja Embut menjadi salah satu siswa yang cukup diandalkan dalam pelajaran olah raga. Ia termasuk anggota tim inti dari regu bola basket maupun bola volley kelas kami. Ia juga terlibat sebagai regu intin dalam kesatuan penggalang Pramuka yang dulu sangat terkenal dengan sebutan “LT”.

Mengenai sosok Muhtarhadi alias Embut ini, saya cukup hapal dengan nomor induknya yang tercantum di buku raport maupun di ijazahnya, yaitu 6522. Pada saat di kelas 1D ia memiliki nomor absen 3, setelah Nila dan Sarip. Kemudian di kelas 2D dan 3D, ia menyandang nomor absen 25. Saya sangat hafal dengan nomor-nomor tersebut karena nomor saya persis membuntutinya.

embut-ngebut-piring

Urutan nomor induk sekaligus nomor absen sudah pasti berkonsekuensi kami selalu berdekatan kursi setiap kesempatan semesteran maupun Ebta/Ebtanas. Dengan demikian sayapun masih sangat ingat bagaimana teman gembul saya tersebut senantiasa berstrategi untuk mendapatkan nilai bagus di buku raportnya. Mulai dari aksi kode-kode jari-jemari menari, lempar-melempar gumpalan kertas, hingga pinjam-meminjam mistar penggaris. Nasib akhirnya mencatatkan NEM kami pada saat kelulusan hanya berselisih 0,5 saja.

Sangat berbeda dengan teman-teman sekelas yang selepas lulus dari bangku SMP 1 Muntilan melanjutkan ke jenjang sekolah SMA, STM, atau SMEA, Muhtar justru melanjutkan ke sekolah menengah bidang farmasi. Kalau tidak salah singkatannya ya SMF. Kalau dari penjelasan Pak Hajir pada suatu kesempatan, ia menyekolahkan anaknya ke SMF agar anaknya cepat segera lulus dan langsung mendapatkan pekerjaan sebagai apoteker. Dan memang setamat dari sekolah farmasi tersebut, Embut langsung bekerja di RS Ludira Husada di kawasan Wirobrajan Yogyakarta.

Meskipun kami tak lagi bersekolah bersama, namun saya termasuk teman yang lumayan rutin mengunjungi rumah Muhtar di Banyubiru pada saat-saat Hari Lebaran. Kadang sendirian, kadang barengan Kuntar. Pernah pula mengajak Marjiono. Namun demikian, kami ndilalahnya jarang bisa bertemu juga dan saya lebih sering bersilaturahmi dengan kedua orang tuanya ataupun dengan adik laki-lakinya. Pertemuan seolah semakin menjadi sebuah kemustahilan setelah Embut menikah dan lebih sering berada di Candimulyo.

Pernah suatu kali pada kesempatan Lebaran ia kebetulan sedang di mBiru. Mungkin di tahun 1999 atau 2000-an. Kesempatan ngobrol ngalor-ngidul mengenai berbagai hal melarutkan kami hingga hari petang. Satu hal yang paling saya ingat pada saat itu bahwa obrolan kami diiringi beberapa kali dengan lantunan Duta Shelia on Seven yang baru merilis lagu terbaru “Sahabat Sejati”. Lagu tersebut seolah menjadi simbol persahabatan kami yang ingin senantiasa kami sambung selama-lamanya.

Sekian tahun nglaju ke Wirobrajan, Embut akhirnya boyongan kerja ke BKIA Kendalgrowong yang kini lebih dikenal sebagai RSIA “Muhammadiyah” Muntilan. Di samping tidak perlu lagi nglaju antar kota antar provinsi ke Jogja, Embut Nampak semakin krasan dan menikmati tempat kerjanya saat ini karena di sana juga ada beberapa nama alumni SMP 1 Muntilan. Di samping Mbakyu Erni yang satu kelas, konon ada pula beberapa alumni adik kelas.

Selain disibukkan dengan urusan pekerjaannya dalam seni meracik obat, di lingkungan tempat tinggalnya Embut tercatat sebagai salah seorang pamong desa. Pilihan tersebut tentu saja sebagai wujud pengabdiannya untuk masyarakat sekitar dan lebih luas lagi untuk bangsa dan negara yang sangat dicintainya.

Sekian lama hanya tersambung silaturahmi melalui dunia maya, pada Lebaran 2015 yang silam akhirnya saya diperkenankan Gusti Kang Hakarya Jagad untuk dapat bertemu kembali dengan Muhtar Embut, sahabat kami. Melalui obrolan langsung pada saat nglegake menyambanginya di RSIA maupun kontak sms, Embut benar-benar menepati janji dan nongol di tempat saya bersama Kuntar dan Sarip, plus Triyono. Hari itu hari ke-3 Hari Lebaran 2015 silam. Kami bahkan kemudian menyambangi beberapa rumah teman yang, seperti Rollied, Beni, Erwin, Nila, Prapti, termasuk Bu Yayuk guru Bahasa Inggris kami.

Pasca pertemuan reuni seangkatan lulusan SMP 1 Muntilan 31 Desember 2016 yang digelar di Progowati beberapa waktu silam, Embut berinisiatif membentuk grup WA Cace cade 93 smp 1 mtl. Tentu saja itikad dan niat baik untuk ngumpulke balung pisah alias menautkan kembali paseduluran diantara sesama teman-teman sealumni kami sambut dengan antusias.

embut-tubingMeskipun sebagai inisiator dan eksekutor terbentuknya grup WA alumni, Embut tergolong adem ayem saja dalam berkomentar maupun terlibat dalam diskusi-diskusi yang terlontar. Namun dalam soal gasak-gasakan, justru Embut sering diguyoni oleh teman-teman yang lainnya. Cilakanya, guyonan di grup WA yang hanya dimaksudkan sebagai sekedar guyonan waton gayeng bin nggasak menggasaki pernah menimbulkan sedikit kesalahpahaman yang membuat Embut harus ngrayu dan mengklarifikasikan segala duduk persoalan kepada permaisurinya tercintah. Dan konon drama itupun berakhir dengan berlangsungnya ciblon bareng bin basah-basahan tanpa busana solo basahan sebagaimana pada saat pasangan tersebut melangsungkan pernikahannya. Happy ending love story always ya Mbut. Ampuun pemrentah!

Ngisor Blimbing, 26 Februari 2017

Foto-foto koleksi pribadi Muhtarhadi dan beberapa dari teman alumni.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s