Ciblek: Cilikan Betah Melek


Bocah kecil tersebut bernama Disa. Usianya baru sedikit lewat dari tiga tahun. Ia adalah anak dari tetangga di sebelah omah Ngisor Blimbing. Dikarena umuran yang sepantaran, maka Disa menjadi teman sepermainan Genduk Noni. Lebih dari apapun keduanya kemudian menjadi teman karib. Di saat Genduk main, Disapun ikut main. Tatkala Genduk meghriban di mushola, Disapun tak ketinggalan. Keduanya terlihat seiring seperjalanan dalam bermain dan dalam beraktivitas apapun.

Meskipun dikatakan sebagai teman karib dengan kebersamaan-kebersamaan mereka dalam bermain, ada ritme yang sangat berbeda diantara keduanya. Genduk kami adalah bocah dengan tipe seumumnya para bocah yang meskipun di waktu siang sempat tidur siang tetapi selepas Isya’ hingga Subuh waktu dilaluinya dengan tidur malam. Adapun Disa agak di luar kelaziman para bocah pada umumnya. Ia justru paling betah lek-lekan, alias begadang malam. Terkadang baru jam 1-2 dinihari suaranya baru tidak kedengaran. Kenapa hal demikian bisa terjadi?

Keluarga Disa adalah keluarga pas-pasan yang ngontrak pada tetangga kami. Ayah dan ibu Disa tergolong masih merupakan pasangan muda. Saat ini Disa adalah anak tunggal, menjadi sulung sekaligus bungsu buah hati kedua orang tuanya. Disa memang belum memiliki adik. Kebetulan kedua orang tuanya tersebut sama-sama kerja sebagai karyawan. Ndilalahnya jenis pekerjaan kedua orang tua Disa tersebut baru selesai padasaat hampir tengah malam. Ibunya bekerja dari jam 10 pagi hingga jam 11 malam.  Adapaun ayahnya bekerja dari jam 8 pagi hingga 10 malam. Praktis ayah dan ibu Disa senantiasa pulang larut malam. Di saat kedua orang tuanya kerja, Disa dalam pengasuhan Abah, kakek kandungnya sendiri.

Nah mungkin di sinilah pangkal persoalan kenapa bocah sekecil Disa betah begadang malam. Dalam keseharian, Disa tentu sangat merindukan kehadiran kedua orang tuanya setiap saat. Pada waktu malam beranjak, pada saat para bocah yang lain mulai terlelap tidur, Disa justru senantiasa menunggu kedatangan ayah-ibunya pulang dari kerja. Dengan jam kepulangan yang sudah larut malam, maka Disa memilih selalu menunggu dan menunggu. Aktivitas menunggu inilah yang menyebabkan ia begadang. Maka jadilah Disa  sebagai anak kecil yang betah betah begadang. Ciblek, cilikan betah melek! Tentu ciblek di sini bermakna denotatif, alias makna lugasnya.

Pada waktu ayah dan ibunya sudah di rumah, mereka bertoga terkadang terlibat dalam tawa dan canda sambil cekikikan. Suara mereka bahkan tergadang dirasa menganggu ketenangan malam bagi para tetangga lain yang memang membutuhkan jam istirahat di waktu-waktu tersebut.

Selepas dini hari, perlahan barulah Disa tidur. Dengan pola tidur yang demikian, tidak terlalu mengherankan jika kemudian di saat para bocah lain bangun tidur pada saat matahari terbit di pagi nan cerah, Disajustru masih tidur mendengkur. Akhirnya yang seringkali terjadi, Disa baru bangun tidur di saat hari sudah menjelang siang atau bahkan pada siang hari atau pernah pula menjelang sore hari.

Apakah hal demikian tidak menghambat perkembangan psikososial si Disa kecil? Sampai kapan Disa akan tetapmenjadi bocal cilik yang betah melek? Dunia memang sedang terbalik.

Ngisor Blimbing, 23 Februari 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s