Taman Sepi di Tepi Johor Bahru


Johor Bahru memang merupakan kota ke dua terbesar di Malaysia, setelah Kuala Lumpur. Namun dengan penduduk yang tidak melebihi lima ratus ribu jiwa, kota tersebut tak ubahnya sebuah ibukota kabupaten di Indonesia. Memang pembangunan infrastruktur dalam menunjang kegiatan pemerintahan, ekonomi, bisnis, dan pariwisata terus digalakkan. Salah satu pusat keramaian yang terus menggeliat dan menjadi ikon kota di ujung selatan Semenanjung Malaya ini adalah Johor Bahru Sentral atau lebih terkenal sebagai JB Sentral.

taman-jb

Sebagai pintu gerbang dan penghubung ke Singapura, JB Sentral merupakan perpaduan dari beberapa fasilitas. Ada Bangunan Sultan Iskandar yang menjadi check point imigrasi. Ada JB Sentral Stasion sebagai stasiun kereta api lintas ke Woodlands di Singapur maupun penghubung ke Kuala Lumpur. Ada JB Sentral Terminal, sebuah terminal bus yang menghubungkan berbagai kota di Malaysia, ke Singapura, juga hingga ke Thailand. Ada JB City Square berupa mall pusat perbelanjaan yang sangat ramai. Ada pula kawasan hotel, penginapan, permukiman, dan juga sentra kuliner. Intinya JB Sentral menjadikan pusat aktivitas masyarakat maupun wisatawan di Johor Bahru. Tak heran jika di area tersebut ribuan manusia hilir mudik dengan berbagai urusannya.

Bergeser sedikit ke sisi barat dari JB Sentral sekitar 500 meter, ada beberapa bangunan megah bagian dari kantor pemerintahan Bandaraya Johor Bahru, termasuk Bangunan Sultan Ibrahim yang sangat legendaris. Dengan berjalan kaki tidak lebih dari 15 menit meninggalkan JB Sentral menyusuri sepanjang jalan di tepian Selat Johor, sore itu kami menjumpai kantor Majlis Bandaraya Johor Bahru berdampingan dengan Mahkamah Tinggi Johor Bahru di seputaran Jalan Dato’ Onn.

bandaraya-johor-bahru

Tepat di hadapan Mahkamah Tinggi Johor Bahru, berdampingan dengan Jalan Dato’ Onn, terhampar sebuah taman kota yang sungguh asri. Di bagian tengah berhadapan langsung dengan gerbang Gedung Mahkamah Tinggi terdapat patung sepasang harimau belang berwarna emas menyangga mahkota bulan bintang di atas sebuah perisai segi lima. Patung tersebut merupakan simbol Kerajaan Kasultanan Johor Bahru Darut Takwim yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari Negara Federasi Malaysia.

Dengan berpagar beberapa tonggak pohon lontar yang terawat baik, taman tersebut juga menghadirkan berbagai tanaman bunga-bungaan. Beberapa bunga yang tengah mekar seiring puncak musim hujam menghadirkan nuansa warna-warni keindahan yang sungguh sedap dipandang mata. Tatanan tanaman dan bunga-bunga di taman tersebut beralaskan padang rumput yang hijau dan menyejukkan suasana laksana hamparan permadani di tanah surgawi. Kamipun terlarut untuk menikmati keindahan taman tersebut pada suatu senja di tengah lawatan ke Johor Bahru.

mahkamah-tinggi-johor-bahru

macan-emas-kembar

Selain berfungsi untuk memperindah tata ruang pada sebuah landscape kota, sebuah taman juga berperan sebagai ruang terbuka publik dimana warga kota satu sama lain saling berinteraksi ataupun sekedar menghabiskan waktu bersama-sama. Menikmati keindahan dan kerindangan taman yang kami sambangi senja itu serasa ada hal yang kurang, bahkan janggal.

Adalah taman kota atau alun-alun sebagaimana banyak terdapat di kota-kota, utamanya di Tanah Jawa, senantiasa menjadi ajang untuk bersantai ria di kala senja. Ada yang hanya sekedar duduk-duduk menikmati suasana, ada yang momong para bocah, ada yang bersenda gurau satu sama lain, ada yang menikmati kulineran, main layangan dan lain sebagainya. Namun apa yang kami jumpai pada taman di depan Kompleks Mahkamah Tinggi Johor Bahru?

taman-jb2

taman-jb3

Tidak ada warga kota lain selain kami. Tidak ada wisatawan lain selain kami. Tidak ada para bocah berlarian kecuali bocah-bocah kami. Tidak ada penjual asongan sebagaimana di Taman Monas. Tidak ada angkringan sebagaimana di Alun-alun Jogja. Tidak ada deretan pedagang kaki lima sebagaimana di Alun-alun kami di Magelang. Tidak ada keriuhan anak-anak bermain layangan. Tidak ada kongkow-kongkow sekawanan komunitas pecinta onthel tua, ataupun yang lainnya. Benar-benar sunyi senyap, sepi tiada tepi!

Alih-alih turut hadir warga kota ataupun wisatawan lain meramaikan sunyi yang kami rasakan, justru seekor anjing hitam mondar-mandir di jalanan depan Majlis Bandaraya Johor Bahru. Tatapan yang tajam menghunjam seorang menegaskan agar siapapun yang melintas tidak boleh berlaku sembarangan. Membuang sampah sembarangan. Menyeberang jalan sembarangan. Merusak tanaman dan bunga secara serampangan. Bahkan sekedar berisik memecahkan keheningan senja di tengah taman tersebut.

taman-jb4

Memang taman yang kami sambangi senja itu bukan Dataran Utama Johor Bahru yang merupakan alun-alunnya kota Johor Bahru. Namun kesunyian dan kesenyapan suasananya justru membekaskan kesan tersendiri di kalbu kami masing-masing. Mungkin memang keberadaan taman tersebut justru menjadi tempat untuk menyepikan diri, menepi dari hiruk-pikuk tengah kota, menikmati tenggelamnya matahari di ujung senja, dan tentu saja menghirup udara sepoi Selat Johor yang sejuk menyapa.

Dengan segala pertanyaan yang tumbuh di benak pikiran kami, kami tetap menikmati nuansa sepi tersebut sebagai sebuah sisi lain dari Johor Bahru yang baru kami sambangi untuk pertama kalinya tersebut. Entah kapan, seolah kami berikrar untuk suatu saat dapat mengunjungi dan menikmati kembali nuansa taman tersebut. Ya keteduhannya. Ya kesenyapannya. Ya kekhasannya. Ya….ya….entah apa lagi!

Lor Kedhaton, 21 Februari 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s