Strategi Khandaq Hadapi Globalisasi


Salah satu peperangan fenomenal yang terjadi di masa Kanjeng Rasulullah Muhammad SAW dalam rangka menegakkan panji-panji Islam adalah Perang Khandaq. Kondisi ummat Islam pada saat itu sungguh serba dilematis. Dari segi jumlah, pasukan kafir Quraish berlipat-lipat jumlahnya. Demikian halnya dari sisi kelengkapan persenjataannya. Dengan demikian, ummat Islam membutuhkan sebuah strategi yang berbeda dan harus lebih taktis dalam menghadapi situasi pada saat itu.

kc-edisi-februari-2017-1

Kanjeng Nabi kemudian mengumpulkan semua tokoh muslim. Masing-masing diminta memberikan usulan maupun pertimbangan strategi seperti apakah yang akan ditempuh pasukan muslim. Ada yang mengusulkan pasukan muslim bertahan saja di dalam kota. Ada yang berpendapat agar pasukan muslim menghadang musuh di luar batas kota Madinah.

Usulan kedua ini disampaikan oleh kalangan muda yang memandang jika pertempuran terjadi di dalam kota, maka akan jatuh korban sangat banyak terlebih dari kalangan perempuan dan anak-anak. Kerusakan-kerusakan di dalam kota juga tidak akan terhindarkan. Jikapun pasukan muslim terdesak bahkan kalah, tidak ada lagi kesempatan untuk mundur dan kemungkinannya ummat Islam akan tertumpas sampai ke akar-akarnya. Sebaliknya jika pasukan muslim menghadang di luar batas kota, jikapun terdesak masih ada kesempatan untuk mundur dan menata ulang strategi perangnya, serta masih terdapat beberapa kemungkinan lain. Salah seorang yang getol dengan usulan tersebut adalah sahabat Salam Al Farizi.

Salman Al Farizi dikenal sebagai salah seorang pemuda sahabat yang berasal dari negeri Persia. Sebelum mengenal hidayah Islam, Salman menjalani tugas sebagai penjaga api persembahan. Sebagaimana kita ketahui, bangsa Persia adalah bangsa penganut ajaran Majusi yang menyembah api. Setelah mendengar dakwah Islam, Salman muda tanpa ragu mengikrarkan syahadat dan berpindah ke Madinah.

kc-edisi-februari-2017-2

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Kanjeng Nabi memilih usulan taktik yang disampaikan Salman. Meskipun ia masih sangat junior, meskipun beberapa sahabat lain mencibir tentang masa lalunya sebelum masuk Islam, namun pendapatnya lebih masuk akal. Di sinilah salah satu bukti kebesaran Islam dengan tradisi musyawarahnya.

Tidak hanya mengusulkan strategi penghadangan serangan musuh di luar batas kota Madinah, Salman juga mengusulkan penerapan strategi benteng parit. Benteng parit?Seperti apakah yang dimaksud dengan benteng parit? Kenapa strategi itu yang dipilih?Pada masa itu bangsa Arab sama sekali belum mengenal strategi perang yang diusulkan Salman. Salman adalah sosok pembaharu dalam strategi perang yang dilakukan ummat Islam pada jamannya.

Khandaq, dalam Bahasa Arab, berarti parit. Pasukan Islam menghadapi pasukan kaum Quraish di luar batas kota Madinah. Pasukan muslim berhimpun pada sebuah induk pasukan yang markasnya dikelilingi khandaq. Dari segi jumlah maupun perlengkapan pasukan, secara perhitungan di atas kertas ummat Islam kalah jauh dibandingkan musuhnya. Pendekatan kekuatan fisik hanya akan menghancurkan diri sendiri. Harus dilakukan terobosan. Akal, pikiran, kecerdikan dan kepandaian adalah kunci kemenangan. Maka perang strategi lebih dikedepankan. Di sinilah mental, emosi, dan kesabaran yang lebih menentukan.

Dengan segala keterbatasan dan ketergesaan waktu, tentu sangat tidak mungkin bagi pasukan muslim membangun benteng pertahanan yang kuat. Dinding benteng yang kokoh membutuhkan batu, pasir, dan material lainnya. Belum lagi dibutuhkan waktu yang tidak hanya seminggu dua minggu untuk membangunnya. Berapa banyak uang dinar yang dibutuhkan? Tentu tidak sedikit, dan hal itu sudah pasti bukan strategi yang paling taktis dalam kondisi yang serba mendesak. Maka khandaq-lah jawabannya.

kc-edisi-februari-2017-5

Tidak sedikit bagian dari pasukan muslim yang mencibir gagasan Salman untuk menggali parit. Pasukan perang yang siap menghunus pedang justru diperintah untuk memegang cangkul dan linggis. Tidak hanya sekedar mencibir, bahkan ada segilintir anggota pasukan yang mengundurkan diri dan memilih kembali memasuki kota. Di sinilah posisi kesulitan kaum muslim. Rupanya tidak semua pasukan memiliki tekad kuat untuk bertempur. Jadilah sesungguhnya strategi khandaq sebagai sebuah saringan alamiah yang membedakan antara pasukan yang benar-benar taat atas perintah Rasul dan pemimpinnya, dengan bagian pasukan yang ragu, yang gentar berjihad, bahkan yang bermental munafik.

Di sekeliling pangkalan pasukan muslim digali parit. Dibandingkan mendirikan, merancang dinding benteng, menata batu, membuat parit hanya tinggal menggali tanah. Parit berfungsi sebagai garis demarkasi, pembatas antara pasukan muslim dan musuh. Hanya dalam lima hari, parit itupun telah tergali. Dengan dikelilingi parit justru pasukan muslim mengurung diri sendiri. Mereka berpuasa untuk tidak terlebih dahulu memancing pertempuran. Mereka juga tidak memiliki keleluasaan untuk keluar-masuk sembarangan dari batas demarkasi. Urusan logistik tentu harus ditangai secara khusus. Di sinilah mental, niat, serta tekad pasukan muslim yang benar-benar ingin berjihad membela Islam benar-benar diuji. Inilah perang mental yang luar biasa dibandingkan pertempuran adu senjata dan kekuatan fisik secara langsung.

Dalam tempo hingga 25 hari, pasukan muslim bertahan. Memang pada selang hari-hari tersebut terjadi beberapa pertarungan antar beberapa pemimpin pasukan. Setelah hampir satu bulan sama-sama beradu mental, pasukan musuh terlihat semakin kehilangan kesabaraannya. Beberapa kelompok pasukan tersebut mulai nekad menyerang. Mereka terjebak saat berani terjun ke dalam parit. Di samping atas jasa strategi parit yang diterapkan, pada kesempatan selanjutnya Allah SWT memberikan bantuan kepada kaum muslim dengan menghadirkan badai gurun pasir yang sangat dahsyat dan menggulung habis pasukan kafir Quraish. Akhirnya pasukan muslim menang dengan gemilang.

Strategi khandaq adalah strategi kesabaran, strategi puasa, strategi mengisolasi diri. Strategi khandaq adalah strategi membentengi diri dari pengaruh-pengaruh jahat dari dunia luar. Hanya manusia yang memiliki niat lurus dan tekad yang kuat yang akan berhasil memenangkan pertempuran. Jika di masa Rasulullah, Perang Khandaq benar-benar beradunya dua pasukan yang saling siap menyerang, maka perang khandaq-perang khandaq di masa kini menjelma menjadi berbagai serangan ideologi yang semakin menyudutkan dan melemahkan ummat Islam.

kc-edisi-februari-2017-3

Kemajuan jaman di era globalisasi saat ini juga menghadirkan serangan dusta, hasutan, bahkan fitnah. Sehari-hari, berjuta-juta informasi hadir di dunia internet, khususnya media sosial. Setiap detik, setiap waktu, bahkan setiap saat kita dapat mengupdate status, membaca berita dan status orang lain, bahkan mengunduh data dan informasi yang sangat beragam. Jika di masa lalu, dusta kata hanya sebatas celotehan lidah dan ucapan mulut, hari ini huruf, kata dan kalimat terangkai dalam suatu kedustaan, kebohongan dan fitnah yang menyebar demikian hebatnya dalam selang waktu yang sangat singkat. Hasutan dan fitnah tersebut bagaikan setitik api yang tersulut bensin dan menyala semakin besar, semakin menjalar, membakar apapun benda yang diterjangnya.

Di tengah gempuran informasi kedustaan dan fitnah, lalu bagaimana ummat Islam menyikapinya? Strategi khandaq bisa kita jadikan rujukan dari sejarah masa silam. Membatasi diri, membentengi diri, mengisolasi dalam konteks yang setepat-tepatnya. Bukan berarti kita sama sekali tidak mempedulikan kemajuan teknologi informasi yang semakin deras, tetapi setiap diri kita harus punya disiplin diri untuk menyaring, untuk senantiasa sebisa mungkin men-tabayuni informasi yang datang, kemudian memilah dan memilih informasi yang berguna untuk kemajuan kita. Dengan demikian ummat Islam tidak akan terlarut atau hanyut dalam jaman edan yang salah-salah dapat menjadikan manusia yang mulia akhlaknya menjadi wong edan yang lupa jaman.

Demikian sedikit catatan yang sedikit dapat saya ingat dari diskusi bulanan Kenduri Cinta edisi Februari 2017 yang mengambil tema Fundamentalisme Khandaq. Strategi khandaq tentu bisa kita kontekstualisasi terhadap berbagai permasalahan lain yang kini mendera ummat muslim. Salam maiyyah!

NgisorBlimbing, 12 Februari 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Strategi Khandaq Hadapi Globalisasi

  1. Ping balik: Isolasi Informasi – Prie GS dan Cak Nun | ngalor ngidul ketemu kiblat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s