Menikmati Keanggunan Bangunan Sultan Ibrahim Johor Bahru


Bangunan itu sudah nampak selintas jika kita melintasi Johor-Singapore Causeway ke arah Johor Bahru. Meskipun sedikit tersembunyi diantara bangunan gedung tinggi yang lebih modern, namun justru bangunan tersebut memancarkan aura arsitektural yang klasik. Bentuk bangunan tersebut seolah perpaduan sebuah menara dan sekaligus istana. Salah satu ikon dan landmark Bandar Johor Bahru tersebut terkenal dengan nama Bangunan Sultan Ibrahim. Sebuah bangunan sangat monumental dan bersejarah yang menjadi bangunan tertinggi di Johor Bahru hingga tahun 1970, sebelum akhirnya disalib oleh Menara Merlin.

bangunan-sultan-ibrahim

Mencermati nama Bangunan Sultan Ibrahim, tentu saja tidak bisa dilepaskan dari nama Sultan Ibrahim itu sendiri. Sultan Ibrahim ibnu Abu Bakar merupakan penguasa Kasultanan Johor yang membangun bangunan “istana” tersebut pada tahun 1936-1939, bersamaan dengan masa pendudukan Kolonialis Inggris di Semenanjung Malaya. Kasultanan Johor Darul Ta’wim sendiri merupakan kelanjutan dari Kesultanan Riau yang sebelumnya pernah berpusat di Riau Daratan, Singapura, dan pada akhirnya Johor Bahru.

Selepas sejenak melepas lelah di hari ketibaan kami di Johor Bahru sore itu, kami berjalan-jalan menikmati suasana sore di seputaran Hotel Citrus, tempat penginapan kami. Menyusuri gang-gang yang dipenuhi kedai dimana para warga kota sedang duduk-duduk santai menikmati sekedar kopi atau teh hingga makan-makan, kami melangkah mengitari jalanan sejajar pantai. Tak sebearapa lama kami menjumpai jalanan yang di pinggir kanan-kirinya diwarnai pemandangan para pedagang yang tengah mempersiapkan lapak jualannya. Ini mungkin yang disebut sebagai Johor Night Market, pikir kami. Tentu saja menjelang senja yang namanya pasar malam memang belum buka, dan yang nampak ya baru para pedagang yang sedang menata dagangannya.

Sekilas dari balik rumah-rumah bergaya klasik yang memenuhi kanan-kiri jalan dalam suasana kesibukan para pedagang tadi, saya menangkap dua bangunan yang cukup menarik perhatian. Pertama adalah sebuah kubah masjid berwarna hijau. Satunya lagi justru sebuah bangunan tinggi mirip menara atau benteng tua berwarna coklat terang.  Di puncak menara tertancap sebuah tonggak berujung sebilah bulan sabit bintang. Bangunan tinggi tersebut seolah berdiri di tempat yang lebih tinggi dari kawasan di sekitarnya. Tentu saja hal tersebut mengundang hasrat kami untuk melihatnya dari dekat. Namun melihat situasi jalanan di depan kami, kami belum bisa menemukan akses jalanan yang langsung menuju bangunan menara tinggi tersebut.

pecinan-johor-bahru

Sejurus kemudian, masih di kawasan calon Johor Night Market, kami memasuki ruas jalan yang dipenuhi aura warna merah ngejreng. Kawasan pecinan, itulah kesimpulan yang dapat kami pikirkan. Secara jelas warna merah menyala itu berasal dari lampion-lampion bergelantungan dengan hiasan lampu warna-warni yang belum dinyalakan. Dan menilik dari bentuk arsitektur bangunan rumah-rumah dengan atap berbentuk pelana kuda dan dekoratif naga api di beberapa sudut, bahkan ada satu bangunan rumah yang mirip klentheng, tentu anggapan bahwa kami tengah berada di tengah kawasan Pecinan Johor tidak berlebihan.

Keluar dari gang Pecinan, terbujur seruas jalan yang menanjak menuju ke atas. Setelah mengamati lebih cermat, ternyata ada bukit di sisi kanan kami. Kamipun menuruti kata hati untuk mengikuti tanjakan jalan tersebut. Beberapa saat kemudian di balik gerumbul pepohonan mulai menyembul bilah bulan sabit bintang. Ya kami yakin, bilah bulan sabit tersbeut merupakan puncak menara yang sebelumnya menarik perhatian kami.

pecinan-johor-bahru1

bangunan-sultan-ibrahim1

Tidak lebih dari 30 meter menyusuri jalan menanjak, kami benar-benar dipertemukan sengan sebuah “harta karun” pemandangan yang sunggug menakjubkan. Sebuah bangunan bergaya sangat klasik berada dalam pagar bak istana sang raja. Terdapat dua ruas jalan di kanan-kiri yang mengapit sebuah pos penjagaan. Di sisi kedua jalan kanan-kiri itulah terdapat sebuah tulisan berwarna kuning emas tepat di bawah simbol Negeri Malaysia. Tulisan emas tersebut berbunyi Bangunan Sultan Ibrahim. Saya hanya bisa membatin, pasti inilah istana yang dulu ditempati Sultan di Kesultanan Johor Darut Ta’wim yang termasyur itu.

Selepas pusat pemerintahan Kesultanan Johor sebagai bagian dari Negara Federasi Malaysia dipindahkan ke kawasan Kota Iskandar beberapa waktu silam, konon Bangunan Sultan Ibrahim kini difungsikan sebagai museum. Kedatangan kami yang sudah menjelang senja tinggal mendapati pintu gerbang hitam yang sudah tertutup dan beberapa penjaga yang nampak berbincang lirih di pos penjagaan, tepat di jalan masuk Bangunan Sultan Ibrahim. Akhirnya demi menuntaskan kebahagiaan kami dapat menikmati nuansa senja di depan bangunan yang sangat bersejarah tersebut, kami menyempatkan diri mengambil beberapa foto dari beberapa titik yang berbeda.

bangunan-sultan-ibrahim2

Senja semakin larut, mataharipun perlahan menggelincir ke arah peraduaanya. Sejenak puas memandangi Bangunan “Istana” Sultan Ibrahim, kamipun memutuskan untuk melangkah turun. Diiringi senja yang semakin temaram, nampak lampu-lampu berwarna kencana di puncak menara mulai dinyalakan. Sinarnya yang lembut memancarkan keanggunan yang luar biasa. Seolah sebuah aura magic nan sakral memancarkan keteduhan yang menentramkan. Kami hanya berharap suatu saat kelak kami dapat lebih menikmati keutuhan Bangunan Sultan Ibrahim dari berbagai sisi secara lebih dekat dan utuh, syukur-syukur bisa masuk dan menikmati suasana dalam bangunannya.

Lor Kedhaton, 9 Februari 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s