Alumni Cah De: Sosok D#24


sarip“Handoyo mumbul-mumbul! Handoyo mumbul-mumbul!” demikian sumber kehebohan pada sebuah tenda. Usut punya usut seorang penggalang nglindur dan berteriak-teriak hingga menimbukan kegaduhan. Teman-teman lain satu regu segera terbangun dan menghambur ke teman yang nglindur tersebut. Saking hebohnya kawan-kawan satu regu ngurusi teman yang nglindur, satu regu batal mengikuti kegiatan jurit malam. Alih-alih merasa tercekam oleh teriakan si Nglindur, kami seregu justru jadi ger-geran menahan tawa yang tidak selesai-selesai. Meskipun kejadian itu menyisakan kekhawatiran regu kami akan mendapatkan hukuman dari para senior, tetapi ampun pemrentah wis, kekhawatiran menjalani hukuman luruh oleh kejenakaan kejadian kawan yang nglindur tersebut.

Kalau didata kejadian lucu nan jenaka selama menjalani tiga tahun masa bangku SMP, saya termasuk dengan ‘ainul yaqiin berani bertaruh pengalaman kawan yang nglindur di perkemahan tersebut menduduki rangking yang paling tinggi tingkat kelucuan dan juga kehebohannya. Terlebih sebagai sebuah kenanangan yang kini bangkit kembali setelah tersimpan selama lebih dari seperempat abad.

Kelas satu dan dua pada waktu itu sedang melaksanakan kegiatan Persami alias perkemahan Sabtu malam Minggu. Entah kesambet dhemit Kali Krakitan atau ulah si Hajir yang menaburi mulut Sarip dengan garam, si Sarip benar-benar meracau dalam igauannya. “Handoyo mumbul-mumbul! Handoyo mumbul-mumbul!” Sarip meringis menahan tawa saat berkisah kembali tentang kelucuannya pada suatu malam ketika saya mampir di tempatnya dines di pinggiran Jalan Blondo beberapa waktu silam. Handoyo yang disebut-sebut dalam igauan tersebut juga merupakan salah satu teman sekelas kami (bukan nama bus Handoyo lho yo).

Sarip memiliki nama lengkap Sarip Lukmawan. Terlahir 20 November 1977 di Bakalan, Taman Agung, samping Terminal Muntilan. Kenapa bukan sarif, atau syarif, tetapi sarip, tentu hanya Babenya dan Gusti Alloh yang tahu. Ketika sering nongkrong cakrukan di Taman Ismail Marzuki yang bergaul dengan Mbah Surip, terus terang ingatan saya melayang ke Sarip, salah satu teman sekelas di SMP 1 Muntilan. Semenjak perpisahan kelulusan kami, saya sama sekali tidak pernah lagi bertemu dengan Sarip hingga kurun waktu 21 tahun.

sarip-kecilDi hari pendaftaran masuk sekolah, Sarip nggruduk sekolahan kami dengan teman-teman BMX-nya. Sebagai alumni SD Gudang Uyah tentu saja ia sudah memiliki banyak teman dari satu sekolahannya yang bedhol desa mendaftar di SMP 1 Muntilan. Hal tersebut tentu saja menjadikan Sarip dan kawanannya tampil sangat percaya diri semenjak awal perkenalan kami. Jujur, sebelum berkenalan dengan Sarip saya sempat menebak nama yang cocok dengan sosoknya yang kecil ramping adalah Samsul. Ternyata dugaan saya tidak jauh-jauh amat to? Lha wong namanya ternyata Sarip je! Nasib akhirnya menyatukan kami di dalam satu kelas. Kami sama-sama menjadi penghuni kelas 1D. Dan Sarip ketiban sampur mendapat nomor absen 2, setelah Nila dan sebelum Muhtar Embut di kelas 1.

Sarip termasuk siswa yang berperawakan kecil. Entah karena disupiti terlalu kecil hingga bodinya tidak tumbuh optimal, atau karena sebab lain, tetapi ia kemudian dikelompokkan bersama teman-teman yang seperawakan dengannya pada setiap pelajaran praktik olah raga. Meskipun demikian, justru di kelompok teman-teman yang berperawakan kecil dan sedang inilah kami sering ketawa ngikik hingga ngakak ketika volley pada lapangan yang terasa terlalu sangat luas. Terlebih jika si “Kapten” Marjo sudah turut turun gelanggang, dijamin dech olah raga kami jadi tidak fokus.

Meski sewakti sekolah di SMP Sarip tergolong kasta ke dua dalam tim volley, namun jangan tanya ketika sudah beranjak pemuda! Ia adalah pemain yang sangat handal di lapangan volley. Tidak hanya membela klub di tempat tinggalnya, ia bahkan sering di-bon oleh klub-klub kelas utama di seputaran Muntilan. Tidak mengherankan jika ia punya pengalaman malang-melintang dari satu lapangan ke lapangan lainnya, dari satu turnamen ke turnamen lainnya. Ia adalah bintang lapangan. Ia adalah pemuda idaman mertua, mungkin demikian kesan istrinya di waktu itu.

sarip-lBeda di pelajaran olah raga, beda bagi Sarip di pelajaran Ketrampilan PKK. Ia termasuk antusias ketika secara berkelompok ditugaskan mengumpulkan kain perca untuk dikliping bersama. Ia juga tergolong sangat telaten belajar tusuk jelujur, tikam jejak, mawar, dan lainnya. Bahkan ketika tiba praktik membuat pola baju, memotong bahan, dan menjahitnya, ia sangat gigih mancal pedal mesin jahit. Namun ketika tiba saat menjahit bagian kerah baju, akhirnya ia ngaku pula dibantu oleh Babenya. Mungkin ketrampilan tersebut merupakan perwujudan ruh para bocah yang terlahir dan besar di lingkungan kampung mBakalan. Konon dari asal-usul namanya, kampung tersebut memang pernah menjadi sentra jual-beli kain atau bahan baju, termasuk banyak melahirkan para penjahit legendaris.

Meskipun tubuhnya tergolong mungil, ternyata bukan tidak berarti Sarip sama sekali tidak punya catatan “kriminal” kenakalan. Di samping urusan turun-turunan PR ataupun “kerja sama” saat ulangan, ia pernah sembrono bercandaan pada saat Jum’atan di mushola sekolahan. Pada saat adzan sudah berkumandang, dan Pak Sholeh naik mimbar menyampaikan khutbahnya, masih ada saja anak-anak yang rame-rame ngobrol di teras samping mushola. Suaranya nggre-mremeng bagaikan dengungan ribuan sayap lebah yang ngumandang sak indenging pasar

Di lain hari, Pak Sholeh yang ngampet duka, bertanya di dalam kelas, “Siapa yang kemarin jumatannya ngobrol rame-rame?” Untungnya kebanyakan teman-teman sekelas kami ngeles dengan menjawab kompak, “Kelas Ce Pak!” Sarip selamat dari amarah Pak Sholih. Padahal teman-teman kelas Ce sempat dikaploki oleh Pak Sholeh sebelumnya. Sarip sepertinya masih sedikit traumatik dengan telapak kekarnya Pak Sholeh. Slameeeet, slamet-slamet-slamet-slamet!

Pulang pergi sekolah Sarip sangat setia dengan sepeda BMX-nya. Teman-teman lain yang pulang melalui terminal dan kebetulan searahnya dengannya banyak yang pagi-pagi sekali pesan untuk mbonceng BMX-nya. Tidak Embut, Hajir, atau Doni dan teman-teman yang lainnya. Meski BMX-nya tentu saja tidak berbagasi alias tidak ada boncengannya, tentu teman yang mbonceng dengan sangat rela dan ikhlas mancat besi terusan as roda belakang yang memang dipanjangkan. Dengan teman yang diboncengkannya, Sarip sering ditraktir sekedar menyaksikan ataupun turut temannya asik main dingdong di pinggiran terminal.

Di samping kesibukan sekolah sebagaimana teman-teman yang lainnya, Sarip termasuk anak yang enerjik di lingkungannya. Selain sering menyusur rel, mandi di kali ujung, dan thethek di bekas stasiun sepur Muntilan yang kemudian berubah menjadi terminal, Sarip remaja juga menekuni olah seni kobra siswa. Kobra siswa dari mBakalan memang pesaing berat kobra dari Sedayu. Keduanya sangat kondang kaloka di seputaran wilayah Muntilan pada masa itu.  Sarip teman kami adalah bagian dari pasukan pedang dan tameng. Sampeyan semua pernahkah membayangkan Sarip ndadi pada saat pentas kobra? Wah pasti ceritanya lebih seru daripada ketika ia nglindur Handoyo mumbul-mumbul tadi wis!

sarip-smk

Selepas lulus dari bangkus SMP, Sarip pernah mencicipi sekolah di SMK Muhammadiyah Mungkid. Merasa kurang sreg dengan cita-citanya, setahun kemudian ia memilih mendaftar sekolah kembali dan masuk di SMK 1 Magelang di Cawang.

Selepas menamatkan sekolah kejuruannya, Sarip pernah mencari peruntungan di tanah rantau. Sebagaimana jurusan yang diambilnya, ia bekerja di sebuah pabrik elektronik. Belum lama menikmati dunia kerja di pabrik, gelombang krisis moneter 98 turut melimbungkan pabrik tempatnya bekerja. Ia terpaksa dirumahkan untuk selama-lamanya. Iapun pulang kembali ke kampung halaman. Kepulangannya itu seolah mengukuhkan “ramalan” Mbah Kakungnya yang sedari awal lebih menasehatkan agar Sarip tidak perlu merantau. Di kampung sendiri saja bisa makan, ngopo ndadak adoh-adoh golek pangan, demikian petuah Mbahnya Sarip.

Merasa punya dasar ketrampilan dan pengalaman soal resistor, kondensator, transistor, diode, IC dan teman-temannya, Sarip pernah menawarkan jasa perbaikan alat-alat elektronik. Jadilah rumah tempat tinggalnya tersulap menjadi bengkel dan workshop sederhananya.

Bu Yayuk

Di samping lika-liku hidup yang sudah penuh warna-warni seperti warna pelangi, saya akui Sarip termasuk sosok perekam berbagai kelucuan dan kejadian fenomenal dalam tiga tahun kebersamaan kami di bangkus SMP 1 Muntilan. Kisah-kisah “kenakalan”, cerita kelucuan, bahkan soal demen-demenannya beberapa teman yang mabuk cinta monyet, Sarip masih menyimpan rekaman detailnya di memorinya. Siapa teman yang dibalang penghapus, siapa siswa yang pernah nguntit buku di koperasi atau warung Mbok Mo, siapa yang disuruh menginjan kelas sebelah, Sarip bisa memutar kembali kasetnya.

Salah satu bukti otentik yang dikoleksi oleh Sarip adalah beberapa foto-foto kenangan saat kami di bangku kelas 3D mengikuti kegiatan Study Tour di Pulau Dewata, sekitar Desember 1992 silam.

kapal-feri-gilimanuk pura-besakih

Bukan bermaksud pindah jalur dari dunia per-elektronikan yang pernah digelutinya, Sarip saat ini mengabdikan dedikasi, tenaga, dan pikirannya untuk turut mengamankan aset sebuah bank yang sangat mengakar dengan kalangan akar rumput rakyat Indonesia. Jika Sampeyan sesekali melalui pertigaan Blondo di waktu malam, sesekali mampirlah ke tempat Sarip. Dengan senang hati ia akan menerima tamunya hingga semalam suntuk tanpa tidur. Kurang gapyak semanak gimana lagi coba teman kita yang satu ini?

Ngisor Blimbing, 22 Januari 2017

Foto-foto Koleksi Sarip Lukmawan dan Sang Nanang.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Alumni Cah De: Sosok D#24

  1. Ping balik: ALUMNI CAH DE: SOSOK#D28 | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s