Dunia Terbalik, Wolak-waliking Jaman


dunia-terbalikPagi menjelang siang itu nampak suatu keriuhan di sebuah Puskesmas Pembantu. Hari itu memang jadwalnya pelaksanaan imunisasi anak-anak balita. Dua orang suster dengan pakaian putih-putih khasnya sibuk mempersiapkan segala keperluan proses imunisasi. Beberapa pegawai laki-laki nampak mulai mengatur antrian calon pasien balita yang akan diimunisasi. Sementara itu di teras tempat tunggu, sudah berjejal para bapak-bapak yang menggendong anak balitanya sambil tenggelam riuh rendah dalam obrolan ngalor-ngidul. Suasana begitu ramai selayaknya pasar yang mengumandangkan gema dari orang-orang yang saling berbicara.

Jika dibandingkan dengan suasana Puskesmas atau Posyandu tempat imunisasi para bocah balita, pemandangan di Puskesmas yang saya kisahkan ini sungguh sangat berbeda. Tidak ada ibu-ibu yang biasanya setia mengantarkan anak balitanya untuk diimunisasi. Semua pengantar bocah yang ada justru bapak-bapak. Tidak ada satupun ibu yang datang di Puskesmas. Kenapa bisa sedemikian aneh? Dari riuh rendahnya para bapak berbincang yang seolah mengalahkan rumpian ibu-ibu, apakah tidak semakin aneh?

Situasi yang saya lukiskan di atas, hanyalah sepenggal adegan kisah sinetron yang tayang di sebuah stasiun tivi swasta. Kebetulan memang sekedar sejenak menyaksikan sepenggal adegan di Puskesmas tersebut, namun justru feeling saya merasakan adanya keanehan. “Kenapa tidak ada ibu-ibu? Kenapa yang mengantar imunisasi justru bapak-bapak semua?” saya langsung berkomentar.

Si Ponang yang sudah beberapa kali sempat menonton tayangan sinetron tersebut langsung memberikan penjelasan, “Lha iya lah Pak! Kan namanya dunia terbalik Pak!”

Apa? Dunia Terbalik? Oalah jagad dewa batara! Rupanya sinetron tersebut memang judulnya Dunia Terbalik. Sebagaimana judul yang diangkat, sinetron tersebut memang mengisahkan sepenggal kejadian-kejadian di jaman edan. Wolak-waliking jaman, segala hal di jaman edan seringkali serba terbalik. Yang buruk dianggap baik. Yang jelek dinilai bagus. Yang salah dikatakan benar. Yang lelaki malah keperempuan, sementara yang perempuan malah kelelakian.

dunia-terbalik1

Adalah Desa Cikadu, yang dikisahkan dalam sinetron tersebut, sudah mentradisi dan mendarah daging bahkan terkenal sebagai desa TKW. Hampir seluruh perempuan dewasa dan ibu-ibu di desa itu menjadi TKW. Ya, menjadi te-ka-we. Tenaga Kerja Wanita! Wanita yang bekerja di luar negeri.

Tentu saja tugas-tugas rumah tangga yang semestinya menjadi kewajiban kaum wanita kemudian harus dihandle oleh kaum bapak-bapak. Memasak, ya pekerjaan bapak-bapak. Mencuci, menyapu, mengepel, semua diambil alih sebagai pekerjaan kaum adam. Istri yang mencari nafkah, sementara para suami yang mengurus rumah tangga. Soal mengurus anak-anak? Tentu saja anak-anak juga menjadi urusan para lelaki. Makanya yang mengantar imunisasi ke Puskesmas sebagaimana kisah di awal tulisan ini adalah bapak-bapak, tidak ada satu ibu-ibupun.

Celakanya lagi, tidak hanya sekedar take over pekerjaan para ibu-ibu yang menjadi TKW, tabiat dan sifat para bapak-bapak itupun lama-kelamaan menjadi lebih keperempuan-perempuanan. Ya soal rumpi merumpinya. Soal kecekatannya masak-memasak, sapu-menyapu, ngepel-mengepel, dan segala soal urusan rumah tangga. Bahkan cara bicara, cara jalan, dan segenap gestur para bapak-bapak lama-kelamaan menjadi semakin feminim. Nah loe, apakah ini kisah wolak-waliking jaman. Terbolak-baliknya jaman sebagai pertanda akan datangnya kiamat?

Dalam suasa yang serba terbalik tersebut apakah tidak ada ulama yang bisa menjadi panutan dan memberikan nasihat-nasihat kerohanian? Kebetulan di desa tersebut ada seorang tetua yang dianggap sebagai ustadz. Adalah Pak Kemed, seorang yang sering keminter dan selalu banyak akal untuk menggiring keyakinan warga bahwa dirinyalah yang paling tepat menjadi imam sholat, menjadi ketua pengurus masjid, bahkan termasuk menjadi Ketua RW. Lebih heboh lagi, ustadz Kemed hanya mengandalkan ilmu sepotong-potong dari informasi yang dibrowsingnya dari Kyai Google. Maka tentu dapat dibayangkan seperti apa suasana kehidupan bermasyarakat di Desa Cikadu? Sasar-susur, kacau-balau, sebagaimana dunia yang terbalik tadi.

Penasaran dengan kasak-kusuk kisah para suami yang ditinggal para istrinya mencari nafkah di luar negeri? Seperti apa Akum, Idoy, Aceng, dan Dadang dalam peranannya sebagai “ibu rumah tangga”? Ya silakan nonton sendiri.

Lor Kedhaton, 27 Januari 2016

Sumber gambar-gambar dari Mbah Google.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s