Etos Menanam Kebaikan


Musim penghujan senantiasa dinantikan oleh para petani kita di pelosok-pelosok desa. Hujan adalah sebuah keberkahan untuk kembali turun ke sawah. Musim tanam telah tiba, semua warga menyambutnya dengan penuh gembira. Benih padi segera ditabur. Sawah-sawah basah segera diluku dan digaru. Menanam adalah upacara suci pernikahan antara petani dan bumi pertiwi.

menanam-pohon
Sekian hari setelah tanam, benih-benih padi itupun mulai tumbuh dan berbiak. Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar. Menghijau segar bak penganten baru yang bersemangat mengarungi samudera kehidupan. Dari satu bertambah menjadi dua, menjadi empat, menjadi delapan, enam belas, dan seterusnya hingga membentuk rumpun padi yang rimbun. Rumpun-rumpun pohon padi nan hijau tersebut setiap pagi senantiasa ceria menyambut sang mentari. Dengan goyang dan lenggak-lenggok ringannya tak lupa tanamanan padi-padi itu menyapa bahkan bercanda dengan angin gunung angin lembah. Hari-hari dijalaninya dengan penuh pengharapan masa depan yang gemilang. Semua berlangsung dalam pemeliharaan sang petani yang setia dengan kewajibannya.


Jikapun rumput liar tumbuh di sela-sela gerumbulan tanaman padi, petani dengan tekun menyiangi dan membersihkannya. Air sebagai kebutuhan utama bagi pertumbuhan sang padi senantiasa dicukupi. Jikalaupun hama ulat, wereng coklat, walang sangit, hingga tikus dan burung pipit menghampiri padi yang mulai bernas berisi, petani dengan penuh kesungguhan menghalau dan berusaha memberantasnya.

Etos kerja petani adalah etos kerja menanam. Ia dengan tulus mengerjakan segala kewajibannya sebagai sebuah persembahan suci kepada Tuhan. Apakah Tuhan akan memberinya kelimpahan panen besar ataukah puso, baginya tidak perlu menjadi kerisauan yang mendalam. Apakah pada saat panen ia akan menikmati tingginya harga gabah atau justru harga yang murah, baginya tidak terlalu dipedulikan. Bagi para petani tersebut yang terpenting adalah menanam, memelihara, memberi perhatian, dan bersyukur terhadap apapun yang Tuhan berikan.

Petani

Etos petani adalah etos menunaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Etos petani memberi kepada kehidupan, menghidupi kehidupan. Sepi ing pamrih, tetapi rame ing gawe. Bekerja dengan sungguh-sungguh dalam menunaikan kewajiban dengan mengesampingkan hak dirinya. Kepentingan orang lain, masyarakat, negara, terlebih Tuhan berada di atas segala kepentingan pribadinya. Etos para petani dalam bekerja adalah etos menanam kebaikan.

Etos warga negara yang mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi kini semakin langka. Di tengah keterpurukan bangsa kita di berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara saat ini, kebanyakan dari kita sebagai warga negara justru lebih mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan bangsa dan negara. Lebih memprihatinkan lagi jika tindakan seperti itu dilakukan oleh para aparatur pemerintah atau negara. Perilaku korupsi merupakan satu contoh perilaku yang banyak dilakukan oleh oknum para pegawai di lingkungan pemerintahan. Dari hari ke hari, media tidak henti-hentinya memberitakan kasus korupsi oleh oknum aparatur yang diungkap pihak yang berwenang.

Sangat berkebalikan dengan etos petani yang penulis contohkan sebelumnya, tidak sedikit aparatur negara yang secara sadar ataupun tak sadar hanya ingin menuai tanpa pernah menanam. Tidak cukup hanya dengan menuai, mereka ingin panen besar, mengambil banyak, bahkan tak segan-segan memanipulasi, mencuri, yang berujung pada tindakan korupsi tadi. Bukannya sepi ing pamrih rame ing gawe, tetapi yang terjadi adalah rame ing pamrih dan sepi ing gawe. Ingin mendapatkan bagian yang banyak tanpa pernah mau bekerja keras dan bersungguh-sungguh menjalankan tugas kewajibannya. Dengan kata lain, oknum seperti ini lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri daripada kepentingan bangsa dan negara. Akan lebih celaka lagi jika ternyata jumlah oknum yang berperilaku demikian justru banyak atau bahkan mayoritas dalam suatu organisasi. Bagaimana mungkin negara tidak bangkrut?

TB5-13

Gelombang modernisasi dengan pilar materialisme dan kapitalisme, mendorong manusia untuk berlomba-lomba menjadi orang kaya. Derasnya iklan produk maupun jasa yang hadir di berbagai media seringkali secara tak sadar mendoktrinasi suatu sistem kepercayaan terhadap gaya hidup tertentu. Akal kita menjadi goyah dalam menimbang antara kebutuhan hidup dengan keinginan hidup. Kejernihan nalar kita menjadi tertutup oleh tindakan konsumerisme. Konsumerisme adalah gaya hidup kita saat ini. Apakah menjadi orang kaya itu sebuah kesalahan?

Kekayaan sebanding dengan kemakmuran. Jika setiap rakyat di suatu negara kaya semuanya, tentu saja negara tersebut merupakan negara yang makmur. Tujuan pembangunan dari sebuah negara diantaranya adalah pencapaian kemakmuran. Hanya saja apabila kekayaan negara yang melimpah hanya dinikmati oleh segelintir oknum aparaturnya, sementara di sisi lain masih banyak rakyat yang kelaparan dan tenggelam dalam kemiskinan, pasti ada prinsip kejujuran dan keadilan yang telah dilanggar.

Kaya tidak masalah asalkan semua harta yang dimiliki tersebut berasal dari tindakan yang halal dan tidak melanggar hukum. Namun yang kini terjadi adalah semakin semaraknya para aparatur negara berlomba-lomba memperkaya diri dengan menghalalkan segala cara. Etos kerja yang ada adalah etos menuai tanpa menanam. Tak mau berlelah dengan kerja yang sungguh-sungguh namun ingin mendapatkan gaji, tunjangan, dan fasilitas yang sebaik-baiknya dari negara. Tentu kita semua prihatin dengan hal ini.

TepiMagelang3

Kembali kepada para aparatur pemerintah dan negara, apabila kita ingin bangkit sebagai negara bermartabat maka aparaturnya juga harus memiliki martabat yang luhur. Semangat pengabdian kepada negara dengan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri sendiri, keluarga, kelompok, ataupun golongan harus kembali dibangkitkan. Setiap tugas harus dikerjakan dengan penuh ketulusan, kejujuran, dedikasi, juga sikap profesionalisme. Kembangkan pola pikir, pola ucap, pola tingkah laku dan tindakan positif yang bersifat membangun. Jika hal tersebut dilakukan maka gaji, tunjangan, insentif hingga fasilitas yang layak dan menjadi hak dari penunaian kewajiban pasti akan didapatkan. Semangat mengabdi adalah semangat menanam kebaikan.

Sebagaimana seorang petani yang tulus menjalankan peranannya, jikalau kita menanam pasti akan menuai. Apabila yang kita tanam adalah kebaikan, maka kitapun akan menuai kebaikan dalam kehidupan ini. Namun apabila kejahatan yang kita tanam, maka yang merasakan kerugian adalah semua orang yang berkaitan dengan kita. Maka pilihan kita sebenarnya adalah menjadi sosok yang senantiasa menunaikan kewajiban “menanam” untuk mendapatkan hak menuai, ataukah kita menurutkan ego diri untuk menuai tanpa pernah “menanam”. Semoga menjadi perenungan kita bersama. Selamat menanam kebaikan.

Ngisor Blimbing, 11 April 2016

Tulisan dimuat di Buletin BAPETEN edisi IX tahun ke VIII-2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s