Refleksi Keledai Lestari


Keledai digambarkan sebagai hewan paling dungu. Konon binatang sejenis kuda ini sangat susah dikendalikan. Binatang yang satu ini seringkali membuat tuannya pusing tujuh keliling. Di saat keledai harus berjalan, tiba-tiba ia diam di tempat. Diberi aba-aba, diteriaki, bahkan dilecut dengan campukpun, si keledai tidak bergeming. Ia laksana berubah menjadi patung batu. Sama sekali tidak mendengar, mengindahkan, terlebih melaksanakan perintah majikannya untuk berjalan.

kc-januari-2017-adi

Di saat lain, tatkala sang majikan mempersiapkan barang yang akan dibawa di punggung keledai, atau saat rombongan kafilah berhenti untuk beristirahat, justru keledai melesat lari meninggalkan majikannya. Dengan segala cara sang majikan mengejar untuk menghentikan si keledai. Namun betatpun si keledai terkejar, namun ia tetap terus berlari. Ia sama sekali tak menghiraukan orang yang mengejarnya. Keledai akan berhenti berjalan atau berjalan ataupun berlari menuruti kehendaknya sendiri. Keledai memang kadang dirasa sangat berguna, tetapi di kala lain ia bisa menyebalkan dan serasa tidak ada gunanya.

Dengan sifat bebalnya, keledai berjalan sekehendak dirinya sendiri. Dia digambarkan berjalan cuek tanpa melihat kanan kiri, tanpa memperhatikan situasi di jalanan yang akan dilaluinya. Akibatnya seringkali kaki keledai terperosok ke dalam lubang di tengah jalanan. Anehnya, kejadian tersebut tidak membuatkan berhati-hati. Di hari atau waktu yang lain, ia kembali terperosok masuk lubang lagi. Masuk lubang, terperosok, bahkan terjerembab ke dalam lubang menjadi kebiasannya sehari-hari. Keledai kemudian disimbolisasikan sebagai binatang yang bodoh.

Hal itupun berlanjut ketika manusia menemukan manusia lain yang bebal otaknya, manusia mengandaikan manusia yang bebal tersebut sebagai manusia keledai. Adalah menjadi pengetahuan bersama, seseorang yang tidak pernah belajar dari kesalahannya di masa lalu dan terus melakukan ataupun mengalami kesialan hidup akibat kesalahan yang sama,  dipersamakan dengan keledai. Bahkan untuk menyindirnya muncul ungkapan “sebodoh-bodohnya keledai, ia tidak akan masuk lubang yang sama”.

Manusia memiliki cara unik untuk menggambarkan karakteristik atau sifat-sifat yang melekat pada dirinya. Salah satunya dengan mengidentifikasikan sifat-sifat manusia berdasarkan karakteristik binatang atau hewan. Benarkah keledai memang bodoh dan bebal sebagaimana ungkapan di atas? Atau ungkapan tersebut hanya semata-mata dalih bagi manusia untuk tidak mengakui kekurangan dan kelemahannya?

Di dalam QS Al Imron ayat 18-19 dinyatakan bahwasanya “seburuk-buruknya suara adalah suara keledai”. Sudah dikatakan bebal, bodoh, malas, masih dicap lagi sebagai makhluk yang memiliki suara paling buruk.

Adalah sebuah wacana pembelajaran yang ingin ditadaburi bersama dalam agenda bulanan Kenduri Cinta Edisi Januari 2017 di Taman Ismail Marzuki dengan mengusung tema “Keledai Lestari”. Bergulirnya masa dan waktu, ternyata tidak sepenuhnya menjadi bahan perenungan dan pembelajaran yang baik bagi manusia. Kesalahan demi kesalahan yang terjadi di tengah kehidupan manusia apabila dicermati secara seksama seringkali hanya mengulang-ulang sejarah.

Sebuah kesalahan di masa lalu sering dilakukan kembali di masa-masa selanjutnya. Kesalahan berulang bisa dilakukan oleh individu secara perorangan, secara kelompok, golongan, bahkan secara institusional di tingkat Negara. Pengulangan kesalahan sejarah bias dilakukan di tingkat rakyat jelata, hingga oleh sebuah rezim penguasa pemerintahan. Pembunuhan, kedustaan, kebohongan, pencurian, perampasan, perampokan, penjajahan, pembodohan, dan lain sebagainya hanya segelintir contoh kesalahan yang abadi berlangsung dari masa ke masa.

Manusia sesungguhnya dianugeri akal dan pikiran. Kedua hal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk Tuhan yang lain. Jika malaikat diciptakan tanpa adanya pilihan lain, kecuali hanya sebuah ketaatan untuk senantiasa melaksanakan setiap perintah Tuhan. Semenjak penciptaannya yang pertama kali, malaikat adalah makhluk yang suci dan mulia. Abadi dan tidak akan pernah berubah.

Demikian halnya dengan setan atau iblis. Iblis hanya dicipta dengan satu ketaatan untuk menggoda manusia agar tergelincir menurutkan hawa nafsunya dan kelak menjadi teman-temannya sebagai penghuni neraka jahanam. Semenjak awal penciptaannya, iblis adalah makhluk yang nista dan celaka. Tidak ada pilihan yang lain. Malaikat dan iblis, sama-sama makhluk Tuhan yang berposisi statis. Abadi dan tidak akan pernah berubah.

Sedangkan manusia? Sangat berbeda dengan malaikat maupun iblis, manusia adalah makhluk dinamis. Dengan karunia akal dan pikirannya, manusia memiliki pilihan untuk menjadi mulia atau justru terpuruk menjadi makhluk yang hina dan nista. Jika manusia taat dalam keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan, derajatnya akan suci dan mulia sebagaimana para malaikat, bahkan bisa melampaui kesucian malaikat. Manusia sholih dan sholihah adalah setinggi-tingginya kemuliaan makhluk di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Lain halnya jika manusia memilih jalan kesesatan. Maksiat, kemungkaran, kemunafikan, kekufuran dan tindakan dosa lainnya akan menjerumuskan manusia ke tempat yang hina dina di mata Tuhan. Kehinaan seseorang yang memilih bersekutu dengan iblis bisa membawa derajat manusia menjadi sehina tumbuhan maupun binatang. Dari sinilah kemudian ideom-ideom keburukan sifat binatang disandangkan kepada manusia dengan perilaku yang menurutkan hawa nafsunya tadi.

Manusia klepto digambarkan sebagai tikus-tikus kantor yang menggerogoti lumbung pangan rakyat. Orang yang dusta dan suka berbohong disejajarkan dengan ular berbisa yang bercabang lidahnya. Sangat beracun dan mematikan. Demikian halnya dengan kebebalan dan kebodohan manusia yang diidentikkan dengan ketololan keledai tadi.

Jika kita mau jujur bercermin kepada tingkah laku dan perbuatan kita sehari-hari, betapa akan banyak kita temukan perbuatan kesalahan yang senantiasa kita ulang-ulang dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, dari masa ke masa. Males sholat, enggan bersedekah, tak mau belajar, berkata dusta, dan lain sebagainya. Jika kesalahan-kesalahan yang sama it uterus menerus kita lakukan, bukankah kita mirip dengan keledai yang bebal dan bodoh tadi? Bukankah kita sekedar keledai abadi dan lestari dari masa ke masa. Lalu bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan karunia akal dan pikiran yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kasih?

Semoga kita dapat merenungkan diri kita masing-masing dan sedapat mungkin memperbaiki diri demi kemaslahatan yang lebih luas.

Ngisor Blimbing, 22 Januari 2017

Foto Kenduri Cinta dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s