Sego Jagung ala Gunung


Nasi adalah hasil dari beras yang ditanak. Kita semua sudah mafhum dengan nasi karena saben hari kita memakannya. Tetapi ketika kata nasi disambungkan dengan kata jagung, tentu kita merasakan sesuatu yang lain. Nasi jagung. Nasi jagung harus disebut sebagai nasi jagung. Sangat berbeda dari nasi yang terbuat dari beras yang tidak perlu disebut sebagai nasi beras.

Ya, nasi jagung tentu bukan campuran antara nasi dan jagung. Namun yang disebut sebagai nasi jagung sebenarnya adalah menu makanan serupa nasi yang terbuat dari bahan jagung. Nasi jagung tidak terbuat dari beras. Orang jawa menyebutnya sebagai sega jagung.

Sebenarnya sudah sangat lama sekali saya tidak bertemu dengan makanan yang bernama sega jagung itu. Di masa kecil dahulu sega jagung adalah salah satu makanan yang lumayan saya gemari. Adalah biyung tuwo, atau nenek saya yang sering membawakannya sebagai oleh-oleh. Hampir sepekan sekali biyung tuwo pergi ke Pasar Muntilan untuk menjual cabe hasil panenan di ladang. Di samping ke pasar menjual cabe, biyung tuwo sekaligus berbelanja kedelai sebagai bahan baku untuk dibuat tempe. Biyung tuwo menghabiskan lebih dari separo umurnya untuk membuat tempe kedelai.

Kembali ke soal sega jagung. Sega jagung teksturnya sangat lembut. Tidak sebagaimana butiran nasi yang merupakan perubahan bentuk beras yang getas menjadi bulir nasi yang empuk dan lunak. Sega jagung dibuat dari tepung jagung yang direbus atau dikukus. Perbedaan cara memasak inilah yang secara prinsip membedakan kandungan air di dalam kedua jenis nasi tersebut. Hal ini menjadikan sega jagung lebih sedikit kandungan airnya sehingga ketika memakannya, kerongkongan akan terasa sedikit seret, bahkan serasa seperti kehausan.

Kalau dari segi bentuknya, nasi jagung yang lebih padat biasa dibentuk sebagai bongkahan bulat pipih. Namun demikian ada pula yang dibentuk seperti balok. Makan sega jagung jadinya seperti makan batu bata yang berwarna putih bersih.

Entah kenapa tiba-tiba ingin menulis soal sega jagung. Di samping karena pikiran sedang suntuk sehingga tidak ada ide menemukan tema tulisan, seorang aktivis penggerakan komunitas pemerhati anak-anak di lereng Merapi tiba-tiba menyinggung soal sega jagung di status media sosialnya. Status tersebut telah membangkitkan ingatan berkaitan sebuah agenda acara yang sekira lima tahun silam pernah saya hadiri di lereng Gunung Merapi.

Adalah Stabelan, sebuah desa tertinggi di lereng Gunung Merapi yang menghadap sisi Gunung Merbabu. Stabelan hanya berjarak 3,5 km dari puncak Merapi. Lingkungan di sekitar desa tersebut merupakan lahan tadah hujan yang sama sekali tidak bisa ditanami padi sebagaimana sawah di daerah dataran. Hal tersebut berkaitan dengan ketiadaan air dan sarana pengairan. Bahkan untuk sekedar kebutuhan sehari-hari, warga di dusun tersebut harus ngangsu air dari lembah yang lumayan jauh. Hampir tiap pagi dan petang akan nampak pemandangan warga yang menggendong atau menyunggi drigen untuk dibawa ke rumah masing-masing.

Lima tahun silam, sekitar awal bulan Juni 2011 Merapi masih sedikit anget dengan sisa-sisa aktivitas erupsi dahsyatnya pada akhir 2010. Adalah sangat kebetulan sekali agenda Laku Lampah sebagai gong pembuka pelaksanaan Festival Tlatah Bocah ke-V digelar di Desa Stabelan. Salah satu wujud keramah-tamahan warga yang turut guyub menyambut teman-teman yang datang dari berbagai daerah adalah sega jagung. Ya, mereka menyuguhkan sega jagung. Sebuah pengalaman sangat berharga yang tidak pernah akan kami lupakan.

Dengan kesuburan tanah vulkaniknya, di samping tanaman sayur mayu yang menjadi andalan Stabelan, warga juga menyelingi lahan dengan tanaman palawija. Salah satu jenis tanaman palawija yang cukup menjadi favorit bagi petani adalah jagung. Jagung yang masih sangat muda bisa dijadikan menu sayuran. Jagung muda bahkan bisa direbus ataupun dibakar. Jagung bakar dengan olesan keju atau madu sangat nikmat disantap menemani dinginnya hawa pegunungan di petang dan malam hari.

Adapun biji jagung yang memang sudah tua biasanya dijual ke penebas. Jagung tua pada umumnya dibuat sebagai makanan burung ataupun campuran konsentrat untuk unggas. Namun jauh sebelum era kemakmuran dengan swasembada beras, jagung menjadi salah satu makanan utama sumber karbohidrat. Bahkan makanan pokok penduduk Madura pada beberapa dekade silam adalah nasi jagung. Dengan demikian tidak mengherankan jika Stabelan sebagai daerah yang menghasilkan palawija seperti jagung juga menjadikannya sebagai selingan makanan utama, selain nasi biasa.

Akh, kapan lagi ya bisa ketemu dengan nasi jagung. Duduk melingkar dan bersila bersama-sama warga desa. Menikmati sega jagung yang putih bersih selagi hangat. Bongkahan sega jagung yang mempur bin pulen tentu mengundang selera bagi siapapun. Ditemani gula jawa pasti tambah mantep. Apalagi diiringi tembang caping gunung. Ning nggunung tak jadongi sega jagung…..yen mendung tak silihi caping nggunung.

Lor Kedhaton, 18 Januari 2017

Gambar sega jagung dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s