Melanglang di Depan Jam Gadang


Sikik-sikik menyambangi Ranah Tanah Minang, saya dikenalkan beberapa istilah bahasa setempat. Salah satunya adalah kata gadang. Gadang lho ya, bukan gedang ataupun gudang. Yang pasti kalau gadang bisa jadi begadang, tetapi kalau gedang tidak menjadi kata begedang. Tentu bukan soal begadang atau begedang yang ingin saya bahas.

jam-gadang1

Monggo kembali fokus ke kata gadang. Bahkan anak usia sekolah dasar seingat saya sudah diperkenalkan dengan nama rumah adat orang Minang. Ya gadang itu tadi. Rumah adat masyarakat Minang disebut rumah gadang. Dalam khasanah bahasa Minang, gadang berarti besar. Maka yang disebut rumah gadang tentu saja sebuah bangunan rumah besar khas dengan atap gonjong (berbentuk tanduk) yang merupakan rumah induk dari sebuah kaum kerabat atau keluarga besar. Dalam beberapa kesempatan ceramahnya, almarhum Da’i Sejuta Ummat KH Zainuddin MZ pernah menerjemahkan kata Allahu Akbar ke dalam bahasa Minang menjadi Allah nan gadang.

Selain mengacu kepada rumah gadang, sudah menjadi pengetahuan umum pula ada sebutan jam gadang. Sebuah jam yang bertengger pada sebuah menara di pusat kota Bukittinggi. Jam tersebut konon sudah melewati masa satu abad semenjak dibangunnya pada masa pemerintahan Belanda. Jam Gadang merupakan landmark Bukittinggi, bahkan Provinsi Sumatera Barat. Maka bagi siapapun yang mengunjungi Sumatera Barat, tentu belum afdzol jika tidak mampir di Jam Gadang.

Semenjak di masa kolonial Belanda, Bukittinggi merupakan salah satu pusat pemerintahan di wilayah Sumatera Barat sisi utara. Di masa awal, Bukittinggi memiliki nama Fort de Kock. Berada pada ketinggian lebih dari 900 meter dari permukaan air laut, serta keberadaannya di punggung perbukitan Bukit Barisan yang diapit oleh Gunung Marapi dan Gunung Singgalang, menjadikan Bukittinggi memiliki panorama alam yang sangat mempesona dan berhawa sejuk. Keindahan dan kesejukannya itulah yang menjadikan orang-orang Belanda menjuluki Bukittinggi sebagai Parijs van Sumatera.

istana-bung-hatta

Bukittinggi merupakan kota kelahiran Bapak Proklamator kita, Bung Hatta. Sebagai penghargaan atas jasa besar Bung Hatta, tepat di depan pelataran Jam Gadang berdiri Istana Bung Hatta. Istana Bung Hatta pada awalnya merupakan kediaman para residen Belanda yang memerintah di Bukittinggi. Setelah masa kemerdekaan, gedung residen tersebut difungsikan sebagai kediaman Wakil Presiden Muhammad Hatta. Kini Istana Bung Hatta sebenarnya memiliki nama resmi Gedung Tri Arga. Nama tersebut mengacu keberadaa tiga gunung yang memagari Bukittinggi, yaitu Gunung Marapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Sago.

Pada saat terjadi Agresi Militer Belanda II terhadap ibukota RI di Yogyakarta, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta beserta beberapa pemimpin lain ditangkat dan diasing ke Perapat kemudian ke Bangka. Dalam masa yang sangat genting tersebut Mr. Safrudin Prawiranegara ditunjuk untuk mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Untuk masa kurang lebih 8 bulan, Bukittinggi sempat menjadi ibukota PDRI tersebut.

Pada kesempatan perjalanan pulang dari menghadiri resepsi pernikahan seorang rekan di Payakumbuh minggu lalu, saya sempat diampirkan ke Jam Gadang. Berbarengan dengan musim liburan dan masa akhir tahun tentu saja menjadikan pengunjung yang berwisata mengunjungi Bukittinggi menjadi membludak. Banyaknya bus rombongan anak-anak sekolah yang study tour, maupun kendaraan pribadi, menjadikan arus lalu lintas di Kota Bukittingi padat, bahkan macet di berbagai titik strategis.

jam-gadang2

Sebagai ikon dan landmark Bukittinggi, tentu saja Jam Gadang menjadi tujuan wisata utama di kota tersebut. Jalanan utama di seputaran Jam Gadang sore itu sangat padat. Kendaraan hanya bisa berjalan merayap. Bahkan sisi-sisi kantong parkir semua penuh dengan kendaraan pengunjung. Kendaraan yang mengantar kami bahkan tidak mendapatkan lagi tempat untuk parkir. Walhasil rombongan kecil kami hanya didrop di pinggir jalan tepat di seberang Istana Bung Hatta.

Sore menjelang senja itu, pelataran di depan Jam Gadang penuh dan menjadi lautan manusia. Dari rupa dan wajah-wajah mereka tersirat bahwa mereka bukan asli warga Bukittinggi. Banyak wisatawan dari luar kota menyambangi Jam Gadang sore itu. Ada yang dari Padang, Pekanbaru, Medan, bahkan Jakarta dan kota-kota lainnya. Keadaan yang sangat ramai menjadikan suasana memang sedikit kurang nyaman untuk dapat menikmati keindahan arsitektur Jam Gadang berlama-lama. Hanya sekedar mampir dan mengabadikan diri dengan berfoto di depan Jam Gadang telah menjadikan hati ini lega nan puas. Setidaknya anak Gunung Merapi di Jawa ini pernah melanglang hingga Gunung Marapi dan mampir sejenak di Bukittinggi, tepat di depan Menara Jam Gadang.

jam-gadang3

Lor Kedhaton, 6 Januari 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s