Sekedar Mengenang Sepenggal Kenangan Masa Silam


Rasa Kangen untuk Sedulur Alumni SMP 1 Muntilan Angkatan 1993 Dari Rantau

Tiga tahun bisa jadi hanya sepenggal pendek dari episode umur kita. Namun tiga tahun kebersamaan di bangku SMP senantiasa memberikan kesan tersendiri. Sangat istimewa seolah terukir abadi di hati dan ingatan kita masing-masing. Sebuah kesan dari masa silam yang tidak akan pernah usang untuk selalu dikenang. Bahkan setelah kurang lebih seperempat abad kebersamaan itu, kisah-kisah itu seolah baru kemarin terjadi dan masih hangat di ingatan kami masing-masing. Dan kesempatan menghadirkan sosok-sosok pemeran kenangan itupun hadir pada gelaran Reuni Temu Kangen SMP 1 Muntilan Tahun Kelulusan 1993, Sabtu, 31 Desember 2016 di Progowati, Mendut.

smp-1-angk-93

Bertemu kembali dengan kawan lama. Berbincang mengenangkan kejadian-kejadian lucu nan jenaka. Membicarakan kembali “kenakalan-kenakalan” kepada teman lain maupun para guru. Mengisahkan lagi skandal contek-mencontek ataupun “kerjasama” dalam ulangan dan ujian. Membisikkan kisah-kisah beberapa sosok yang mulai merambah dunia asmara ala cinta monyet. Tentu masih banyak seribu satu kisah yang bisa diputar ulang dari memori teman-teman yang bisa hadir.

Bagi saya pribadi yang kini lebih sering di rantau dan jauh dari kampung halaman tercinta, kesempatan reuni semacam itu tentu menjadi momen yang sangat dinanti-nanti. Begitu beberapa rekan panitia mengontak, tentu saja saya menyambut kabar itu dengan sangat antusias dan bahagia. Ketika ditanya kesediaan untuk turut bergabung, tentu saja seribu persen saya langsung mengiyakan. Seolah mendapatkan oase di tengah padang pasir nan tandus, kegiatan reuni merupakan kesempatan emas untuk menyambungkan kembali tali silaturahmi yang sudah sekian lama tidak menjadi perhatian bersama.

cah-a

cah-b

cah-cd

Perkawanan di bangkus sekolah bagi sebagain besar diantara kami tentu tidak hanya dimaknai sebagai sebuah kebersamaan semata. Lebih dari sekedar menjalani kebersamaan, tiga tahun beriring dalam menuntut ilmu juga menghadirkan ikatan persaudaraan yang tiada akan mengenal batas. Memang kami beranjak dari asal-usul dan lingkungan yang berbeda, termasuk berbeda agama dan keyakinan. Namun ikatan persaudaraan selama tiga tahun itu menjadi sebuah benih ikatan yang abadi di sanubari kami hingga saat ini. Hal itu tentu sangat tidak berlebihan jika diangkat sebagai tema reuni dengan tajuk “Seduluran Saklawase“.

Rencana memang tinggal rencana. Secermat dan seteliti manusia membuat rencana dan mematrikan sebuah keinginan, segalanya tentu tidak lepas dari campur tangan Yang Maha Kuasa. Akhirnya Gusti Allah jualah yang belum memperkenankan saya untuk turut hadir di acara reuni yang digelar tepat di penghujung tahun 2016. Karena satu dan lain hal, serta ada bentrokan dengan acara lain yang tidak kalah pentingnya, saya “dipaksa” menunda kesempatan untuk menuntaskan kerinduan berjumpa dengan kawan-kawan seperjuangan semua.

Jaman dulu memang sudah sangat berbeda dengan jaman masa kini. Dengan kecanggihan teknologi komunikasi kini kita bisa langsung mendengar kabar cepat dari suatu tempat kejadian. Tidak sekedar kabar, bahkan foto-foto ter-update juga bisa langsung dikirimkan ke belahan bumi yang sangat jauh. Ketika tidak lama berselang, beberapa teman yang turut hadir di acara reuni mengunggah foto-foto di dunia maya, kami yang tidak bisa turut hadir di acara tersebut seolah-olah langsung bisa memantau secara “live“, bahkan merasakan suasana dan nuansa yang ada di tempat reuni.

rumpi-ibu-ibu ono-sing-mlongo

cah-d1 makelar-reuni

komandan-asmuji sopo-meneh-ki

Sekedar hanya melihat foto-foto reuni itu telah menjadi pelepas dahaga kerinduan saya kepada teman-teman yang lain. Melihat betapa teman-teman masih akrab berbincang. Mengamati kontak mata satu sama lain yang sangat berbinar. Memperhatikan senyum bibir yang mengembang. Menyaksikan tawa lebar yang menggelegar. Saya ataupun teman lain yang hanya turut menyaksikan lewat foto sangat meyakini bahwa kegembiraan itu hadir dan memancar kepada siapapun. Semua happy, semua gembira, semua bahagia, dan itulah makna terdalam dari semangat Seduluran Saklawase itu tadi.

Waktu memang terus berjalan. Putaran masa tidak akan pernah berhenti pada titik lintasan yang sama. Dinamika hidup mungkin telah membawa kita ke kehidupan masing-masing yang berbeda. Betapapun terentang jarak dan waktu yang memisahkan kita. Biarpun kesibukan menenggelamkan kita sehingga hanya menyisakan sedikit kesempatan untuk bersama-sama lagi. Namun harus senantiasa kita yakinkan di hati masing-masing bahwa kita masih senantiasa terikat sebagai saudara yang tulus dan ikhlas. Persaudaraan tiada batas, bahkan hingga kita meninggalkan dunia sekalipun. Persaudaraan selama-lamanya. Persaudaraan yang abadi, seduluran sing saklawase.

cewek-smp-1-angk-93

cowok-smp-1-angk-93

panitia-reuni-smp-1-angk-93

Matur nuwun untuk sedulurku, Erwin Susanto dan Martika Kentyastuti Saptorini Utomo yang telah mengunggah banyak foto di FB dan menjadi inspirasi bagi saya untuk mengungkapkan spirit indah yang terpancar dari reuni kemarin. Mohon izin pinjam foto-fotone nggih.

Selamat berkarya di bidang pengabdian masing-masing. Semoga kita dipertemukan kembali dalam kesempatan-kesempatan indah selanjutnya. God bless to you all.

Lor Kedhaton, 3 Januari 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s