Asmara Roma Ranah Minang


Ibarat garam di laut dan asam di gunung yang berpadu di dalam sebuah menu masakan, demikian halnya dua hati manusia yang sudah berbalut cinta asmara. Segala perbedaan latar belakang, asal-usul, suku bangsa, bahkan negarapun seakan tidak mampu menghalangi jika dua sejoli sudah ditakdirkan untuk berjodoh. Ungkapan tersebut bukan semata-mata sebuah isapan jempol belaka. Seorang rekan yang “urang awak” Minang disunting pria dari Roma – Italia menjadi salah satu kisah asmara dua negara, dua bangsa, bahkan dua benua.

nikahan-meri

Berawal dari perkenalan tatkala dua-duanya menempuh studi pasca sarjana di salah  satu universitas di Amrik, kisah itu berlanjut. Tidak pasti apakah memang kisah itu mengikuti pakem “tresno jalaran seko kulino” atau sebab-sebab yang lain, namun yang pasti akhirnya keduanya mantap dan bulat mengikat tali pernikahan. Tentu saja, kami segenap rekan kerja dan teman-teman yang lain turut berbahagia dengan pernikahan tersebut.

Adalah adat bersendi adat yang masih dipegang erat kaum kerabat di ranah Minang, maka sebagai sebuah kelengkapan “syarat” adat, digelarlah upacara resepsi adat Minang di kediaman mempelai perempuan. Sebagai wujud turut berbahagia dan melengkapi kebahagiaan mempelai berdua, sayapun kedhapuk untuk mewakili rekan-rekan sekantor untuk turut hadir. Jadilah saya dan dua rekan lain menjalani perjalanan panjang ke Payahkumbuh, tepatnya di daerah Simpang Anding, Desa Limbanang, Kec Suliki, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat.

Mengikuti prosesi pernikahan adat Minang di bumi Minang secara langsung merupakan sebuah pengalaman yang baru pertama kali saya alami. Ketika kami tiba di rumah mempelai kebetulan singgasana pelaminan masih kosong. Ternyata mempelai berdua disertai dengan kaum kerabat dan keluarga besarnya tengah menjalani prosesi arakan dari rumah Bako, rumah kakek dari ayah si pengantin perempuan.

tari-sekapur-sirih

tari-sekapur-sirih1

tari-sekapur-sirih2

Ketika iringan pengantin tiba kembali, beberapa muda-mudi berpakaian adat Minang tengah bersiap di tengah jalan tepat menuju tempat resepsi. Genderang dan talempong segera menghentak mengiringi sebuah tarian penyambutan selamat datang. Secara bergantian penari laki-laki dan perempuan memperagakan gerakan-gerakan tarian yang mempesona sekaligus sakral. Sejenak kemudian seorang gadis diiringi dua gadis pendamping berjalan anggun sambil membawa sebuah nampan. Tepat di muka pasangan pengantin yang didampingi orang tua laki-perempuan lengkap, dipersembahkanlah sekapur sirih sebagai simbol penyambutan tamu agung sepasang pengantin yang bertahta menjadi raja sehari.

Tradisi ini sangat mirip dengan penyambutan tamu dengan persembahan sekapur sirih sangat mirip di tanah Melayu, sebagaimana yang pernah saya jumpai di Batam. Setali tiga uang dengan ritual penyambutan rombongan pengantin, kita mungkin teringat tradisi buka palang pintu untuk penyambutan rombongan pengantin laki pada adat pernikahan ala suku Betawi.

Selesai ritual penyambutan, pengantinpun kemudian diarak memasuki arena resepsi. Pengantin selanjutnya menduduki singgasana pelaminan. Tentu saja di sisi kanan dan kirinya duduk mendampingi kedua pengantin, kedua orang tua baik dari pengantin lelaki maupun perempuan. Pada kesempatan selanjutnya para kaum kerabat, saudara, rekan dan handai taulan memberikan salam dan ucapan selamat kepada mempelai berdua.

nikahan-meri1

tari-selendang tari-payung

Tamu terus hadir, mengalir bagaikan aliran air di sungai menuju telaga atau lautan lepas. Untuk memeriahkan suasana, sempat dipertunjukkan tari-tarian oleh kaum muda-mudi setempat. Ada tari selendang dan ada pula tari payung yang sangat legendaris itu. Nuansa etnik yang masih sangat tradisional menghadirkan suasana kesakralan yang mengharu-biru bagi siapapun yang menghayati sebuah prosesi pernikahan yang suci. Proses yang tidak saja bermakna secara adat dan tradisi namun juga sangat penuh dengan nilai-nilai spiritualitas keagamaan yang kental.

Di samping suasana sakral penuh keharuan, pesta pernikahan juga sebuah ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan yang meluap-luap. Untuk semakin melenghkapi rasa bahagia tersebut, pada beberapa kesempatan tampil sebuah kelompok musik organ tunggal turut memeriahkan suasana. Dendang lagu-lagu populer berbahasa Minang maupun Melayu hadir berselang-seling dengan lagu-lagu pop klasik legendaris. Bahkan sempat pula terlantun musik gabus dengan nuansa padang pasirnya. Lengkaplah sebuah pesta pernikahan.

Selain berkisah mengenai kesan yang terekam di benak kami, tentu saja pada kesempatan ini kami kembali menyampaikan ungkapan turut berbahagia atas pernikahan rekan Merinda Fitri Volia dengan Alessandro, selamat menempuh hidup baru dan semoga senantiasa rukun dalam cinta kasih abadi. Menjadi keluarga yang bahagia dan selamat dunia akhirat. Dan yang pasti cepat dianugerahi momongan yang sholih dan sholihah. Amien.

Lor Kedhaton, 30 Desember 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Asmara Roma Ranah Minang

  1. Ping balik: Melanglang di Depan Jam Gadang | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s