Ibu, Pemangku Agung Peradaban Masa Depan


Ibu adalah sosok yang menjadi perantara kehadiran kita ke dunia. Sembilan bulan sepuluh hari kita berada di dalam kandungan ibu. Dengan segala jerih payah, bermandi peluh bahkan darah, dan dengan taruhan antara hidup-mati, ibu melahirkan kita. Pun setelah kita hadir sebagai bayi nan mungil, air susu ibu jugalah yang mengantarkan kita ke jenjang pertumbuhan selanjutnya. Ibu adalah sosok yang sangat dominan dan paling setia mendampingi setiap tahapan hidup kita.

Melalui ibu kita mulai mengenal cakrawala dunia. Ibu mengajarkan ungkapan kasih dan sayang yang tulus. Air susu ibu adalah tetesan embun kehidupan tiada batas. Dengan belaiannya, dengan dekapan dan peluknya, seorang bocah tumbuh semakin lincah. Ibu, sosok “malaikat” yang tiada henti selalu berbagi cinta kepada setiap anak-anak yang diamanahkan Tuhan kepadanya.

Tatkala seorang bayi menangis, maka hati seorang ibu akan tersentuh dan sangat trenyuh. Dibelainya sang buah hati. Disodorkannya kuncup kembang dadanya. Dialirkannya air susu tanpa ragu dan malu-malu, bahkan di hadapan khalayak sekalipun. Diusapnya dengan lembut helai rambut, kepala dan ubun-ubun anak kesayangannya. Sang bayipun terhenti tangisnya. Jiwanya menjadi lapang. Hatinya menjadi tenang. Setenang lautan dalam, tanpa ombak, dan tanpa gelombang. Iapun terlelap dalam dekap ibu tersayang. Mengembarai alam mimpi seraya berdendang. Melagukan sukma dalam kedamaian abadi.

Jikapun pada suatu ketika sang buah hati sakit oleh demam ataupun meriang, siang malam ibunda tercinta tiada memejamkan mata. Saat anaknya merintih, bahkan menangis, hati seorang ibu akan terasa pilu tersayat-sayat. Teramat sedih ia merasakan kepedihan. Teramat perih ia tanggungkan sakit anaknya. Jikapun Tuhan mengizinkan, sangat ingin rasanya seorang ibu menggantikan sakit anaknya. Biarlah ia yang sakit, biarlah ia yang pedih, biarlah ia yang merintih, biarlah ia yang menangis, asalkan diangkat semua rasa sakit dan pedih yang dirasa anaknya. Ia rela menjadi tumbal pengganti bagi setiap jalan menuju kesembuhan untuk anaknya.

Itulah kasih sayang ibu yang tiada berbatas. Ibarat kata, kasih ibu sepanjang jalan. Tidak mengenal pangkal, tidak mengenal ujung, tidak mengenal terminal. Kasih ibu sepenuh udara yang mengisi alam semesta. Hati ibu seluas cakrawala angkasa. Perhatian seorang ibu sedalam samudera. Dialah sosok insan teramat istimewa. Penuh cinta, kasih, nan suci. Di bawah telapak kakinyalah surga ditahtakan.

Ibu mengenalkan anaknya kepada kata, kepada bahasa, dan kepada dunia semesta seisinya. Seorang ibu adalah guru perdana bagi setiap anak manusia. Sebagaimana para bijak di tanah Arab berucap,”Al-ummu madrasatul ula.” Ibu adalah sekolah pertama. Ibu adalah sekolah utama bagi anak-anaknya. Sebelum mengenal taman kanak-kanak, sebelum mengenal sekolah dasar, seorang anak berada penuh dalam pengawasan dan asuhan seorang ibu.

Karena ibu adalah sekolah pertama dan utama, maka ibu pulalah gerbang ilmu dan pengetahuan. Melalui kelembutan dan sikap welas asih, ibu tanamkan budi pekerti dan sifat keutamaan. Ibulah pangkal dan dasar bagi tumbuh-kembangnya benih-benih kedamaian. Di pangkuan ibu pulalah pilar-pilar penyangga peradaban dan kebudayaan manusia telah mulai dipancangkan.

Jika desa adalah simbol tradisi. Jika kota adalah simbol modernitas budaya manusia. Kota sebagai pusat peradaban dunia. Ibu kota adalah ibu dari segala modernitas budaya. Ibu kota adalah ibu dari segala macam peradaban manusia.

Jikapun capital city dinusantarakan menjadi ibu kota. Capital city tidak pernah kita artikan sebagai kota tempat mengumpulnya kapital alias modal dan uang. Dalam konsep kesadaran budaya kita, kita memang ingin mengkonsep kota sebagai pusat peradaban, bukan pusat modal. Kota adalah pencapaian manusia pada tataran budaya yang luhur. Kota adalah peralihan dari pola pikir primitif menuju pola pikir yang penuh dengan nilai-nilai humanisme.

Jika kota negara kita sebut ibu kota. Jikapun tanah air, tanah tumpah darah kita sebut sebagai ibu pertiwi. Jika jempol tangan dan jempol kaki kita sepakati sebagai ibu jari.  Tentu saja penggunaan kata “ibu” itu sendiri bukan tanpa sebab dan alasan yang tidak jelas. Semua mengandung makna dan hakikat yang sangat dalam.

Kita tidak pernah mengenal istilah bapak kota, meskipun ada ibu kota. Kita tidak menyebut bapak pertiwi, meskipun ada ibu pertiwi. Demikian halnya dengan bapak jari, tidak pernah ada! Ibu begitu teristimewa dalam wacana dan dialektika kebudayaan kita.

Dan di penghujung akhir setiap tahun, tepat pada tanggal 22 Desember kita senantiasa memperingati hari tersebut sebagai Hari Ibu. Tidak pernah ada hari bapak nasional. Tiadakah ibu-ibu di masa emansipasi dan kesetaraan gender saat ini pernah terpikir dengan itu semua?

Melalui khasanah budi pekerti dan budi bahasa ketimuran kita, para leluhur kita ingin menekankan pesan yang teramat sangat penting dengan keberadaan Hari Ibu tersebut. Ibu adalah sekolah yang perdana bagi putra-putrinya.

Al ummu madrasatul ula, idza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibil a’raq. Ibu adalah sekolah utama. Bila seorang ibu mempersiapkan pendidikan anak-anaknya dengan sebaik-baiknya, maka ia telah mempersiapkan generasi masa depan yang terbaik. Ibu adalah pemangku agung peradaban manusia. Selamat Hari Ibu. Semoga menjadi renungan bersama.

Lor Kedhaton, 21 Desember 2016

Gambar dipinjam dari sini dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s