Salah Orang Nonton Wayang


Malam selepas tahlilan Biyung di malam ke dua itu, beberapa dari kami masih berkumpul di teras rumah Pakdhe Sosro. Ada Lik Yadi, Lik Ngadimin, Lik To, Mbah Amat, dan beberapa yang lainnya. Semenjak petang hingga selepas Isya’, hujan mengguyur dengan derasnya. Malam menjadi sedekian dingin hingga kami seakan enggan untuk beranjak dari tempat duduk masing-masing. Sementara para kerabat dan tetangga yang sebelumnya turut dalam tahlilan satu per satu sudah pamit pulang ke rumah masing-masing.

Wayang2

Sambil ditemani sisa-sisa teh hangat, kamipun terlibat dalam sebuah obrolan ngalor-ngidul yang mengasyikkan. Akhir salah satu diantara kami ada yang nyeletuk ngajak nonton wayang. Kabar berita yang tersiar bahwa nun di sudut Kaki Merapi sisi ujung Kecamatan Srumbung, tepatnya di Desa Kamongan ada tanggapan wayang kulit pada malam tersebut.

Pagelaran pentas wayang kulit yang diselenggarakan Pemerintah Desa Kaomongan tersebut digelar dalam rangka acara bersih desa, atau peringatan berdirinya desa di kaki Merapi sisi tepi Kali Krasak tersebut. Gelar tontonan wayang yang sudah semakin jarang ditanggap masyarakat luas tersebut merupakan sebuah oase di padang tandus bagi para penggemar wayang. Wayangan tersebut terasa lebih greget dan istimewa karena dibawakan oleh Ki Totok Hadi Sugito, salah seorang putra dalang kondang Almarhum Ki Hadi Sugito, dalang kenamaan dari Toyan, Wates, Kulon Progo. Pentas akan lebih menarik lagi dengan kehadiran bintang tamu Mbok Beruk, seniman pendukung Obrolan Angkringan dan juga tokoh kethoprak yang dikenal luas di kalangan masyarakat pedusunan.

Meskipun tertarik, tetapi saya hanya menanggapi ide nonton wayang tersebut sepintas lalu saja. Mengingat cuaca selepas hujan yang masih digayuti mendung yang sewaktu-waktu dapat menurunkan lagi curahan hujan yang deras, ditambah dengan hawa gunung yang semakin dingin menggigit, sepertinya tidak mungkin usulan nonton wayang tersebut akan berujung dengan berangkat nonton beneran.

Seiring malam yang semakin larut, obrolan itupun buyar. Rombongan kecil Lik Yadi, Lik Ngadimin, Mbah Amat, dan Mbah Hadi meninggalkan teras dan bergegas pamit. Saya baru pulang sejenak kemudian bersama rombongan keluarga yang lain.

Di pagi hari, saya dan saudari-saudari menyambangi rumah Mbah Hadi. Sebagaimana kepulangan saya ke kampung halaman, saya senantiasa menyempatkan diri menengok Mbah Hadi Putri yang sudah beberapa tahun ini sakit. Nah, di tengah keriuhan kehadiran kami, Lik Yadi keluar masih kemulan sarung. Terlihat ia baru terbangun tidur di tengah matahari yang sudah mulai naik ke kaki langit itu. Usut punya usut, ia bangun agak siang karena nonton wayang sampai byar. What? Nonton wayang?

Saya sempat kaget dan terbengong. Rupanya obrolan ngoyoworo semalaman yang terkesan tidak serius, benar-benar mengantar rombongan kecil semalam nonton wayang di Kamongan. Kebetulan dengan mobilnya memang Lik Yadi membawa rombongan kecil tersebut jadi benar-benar nonton wayang. Mereka memang rombongan militan dalam hal nonton!

Selain sepintas lalu mengisahkan lakon wayang yang dipentaskan, ada kisah lucu nan unik yang dioleh-olehkan Lik Yadi. Justru cerita ini yang menurut saya paling menarik.

Adalah Mbah Hadi, Lik Yadi, Lik Ngadimin, Lik To, dan Mbah Amat yang turut dalam rombongan kecil yang selepas tahlil semalam benar-benar berangkat nonton wayang. Tentu saja selepas meninggalkan rumah Pakdhe Sosro, rombongan tersebut tidak mampir dulu untuk pulang ke Kronggahan. Pastinya sebagaimana adat kebiasan berpakaian orang yang turut kumpulan atau tahlilan merupakan pakaian yang paling necis. Jas atau jaket, kain sarung, dilengkapi pecis hitam nan khas.

Datangnya sebuah mobil berplat “Jakarta” yang diisi oleh orang-orang rapi berpecis, beberapa petugas penerima tamu langsung mengarahkan mobil ke tempat parkir khusus. Begitu satu persatu penumpang mobil keluar, para penerima tamu itupun mempersilakan rombongan kecil tersebut untuk langsung menuju tempat pementasan wayang. Lik Yadi yang thingak-thinguk mencari penjual rokokpun tidak berkutik dan harus menuruti protokoler yang ada.

Monggo Pak, langsung mawon tindak lebet!” demikian para penerima tamu mempersilakan tamunya sambil ngapurancang

“Kebetulan bintang tamunya juga masih dalam perjalanan”, sergah seorang penerima tamu yang lain.

Akhirnya rombongan penonton wayang itu justru digiring ke rumah salah seorang warga. Tentu saja mereka kikuk dan merasa diperlakukan dengan aneh. Sejenak kemudian tibalah mereka di dalam sebuah ruangan. Lebih mengherankan lagi justru di dalam ruang tersebut telah tertata hidangan makanan lengkap dengan minuman dan uba rampenya. Merekapun langsung dipersilakan untuk menikmati makan malam. Haduh?

Meskipun penuh tanda tanya dan teka-teki di hati, namun Lik Yadi dan kawan-kawan toh akhirnya hanya manut mengikuti ajakn si tuan rumah. Merekapun makan, meski dengan rasa pekewuh dan serba tidak enak hati.

Ketika makan usai, petugas yang lain segera menuntuk “penonton wayang nyasar” tersebut mendekati panggung arena pentas wayang. Tentu saja pentas wayang sudah berlangsung sekian lama dan tiba di tengah adegan. Rombongan Lik Yadi tersebut langsung ditempatkan di deretan kursi tamu kehormatan sisi depan. Setelah mereka duduk, hidangan minuman dan snackpun segera dihamparkan di meja kecil depan mereka.

Meski penuh tanda tanya bin bengong di hati, tetapi tokh “penonton spesial” tersebut nonton wayang hingga tuntas selesai di pagi hari. Dalam perjalan pulang konon Mbah Amat dan Lik Ngadimin nyeletuk, “Wah nonton wayang kayak tadi enak yo?”

Sudah tentu saya turut ngekek tak ketulungan mendengar kisah nyata bin lucu tersebut. Mungkin inilah salah satu sindrom orang Jawa yang kurang trep menerapkan unen-unenajining dhiri ana ing busana“, derajat seseorang terletak pada pakaian yang dikenakannya. Maksud utama dari ungkapan tersebut bahwa berpakaian pantas, sopan dan rapi sedikit banyak akan menunjukkan kepribadian seseorang.

Namun justru yang sekarang menjadi salah kaprah, kalau pakaian orang rapi bin necis selalu dianggap orang kaya atau orang berpangkat yang harus dihormati. Sementara kalau pakaian seseorang compang-camping, kusut dan tidak rapi, langsung divonis sebagai orang yang rendah derajatnya dan tidak perlu dihormat-hormati. Orang hanya dilihat dari sebatas tampilan luarnya semata. Padahal yang disebut sebagai maling negara dan orang-orang koruptor justru orang yang berpakaian nejis, berjas, dan berdasi. Inilah fenomena jaman yang sudah semakin terbolak-balik di era wolak-waliking jaman.

Tetapi lepas dari segala sudut pandang dan pendapat Anda tentang kisah penonton wayang nyasar di atas, mereka adalah orang-orang yang sedang bejo!

Lor Kedhaton, 16 Desember 216

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Salah Orang Nonton Wayang

  1. jarwadi berkata:

    menonton wayang secara langsung saya sudah jarang mas, mungkin satu sampai 2 kali per tahun. kadang mendengarkan mp3 wayang untuk melatih keterampilan berbahasa jawa

    Suka

    • sang nanang berkata:

      yang nanggap juga semakin jarang ya, btw bukannya di daerah GK banyak desa yang rasulan dgn nanggap wayang? saya dulu sekali pernah nonton dalang dari Wiladeg pas rasulannya Giripanggung

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s