Candi Lumbung, Candi Gelandangan Pasca Erupsi Merapi


Candi Lumbung terletak pada celah kaki Merapi dan Merbabu di wilayah Kabupaten Magelang. Candi tersebut merupakan tiga kesatuan candi yang mendiami delta pertemuan sungai Tlingsing dan sungai Senowo, terdiri atas Candi Asu, Candi Pendhem, dan Candi Lumbung itu sendiri. Pada awalnya ketiga candi tersebut berada di wilayah Desa Sengi, Kecamatan Dukun. Namun karena alasan terancam dari erosi aliran lahar dingin Merapi, semenjak 2011 Candi Lumbung ngungsi sementara di Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan (sekitar 1 km dari lokasi lama).

candi-lumbung-magelang

Menurut sumber sejarah, baik Candi Asu, Candi Pendhem, maupun Candi Lumbung dibangun pada abad VIII pada masa Dinasti Sanjaya berkuasa. Melihat dari ciri bentuk arsitektural dan pola ukir hiasan candi, ketiga candi tersebut diyakini sebagai candi beraliran Hindu. Sangat besar kemungkinannya, ketiga candi tersebut sengaja dibangun sebagai tempat pemujaan di kaki Gunung Merapi.

Dari segi bangunan, ketiga candi di atas memiliki kesamaan sebagai sebuah candi tunggal. Hal ini berarti bahwa ketiga candi tersebut tidak dilengkapi atau memiliki candi perwara. Candi perwara biasanya merupakan bangunan candi yang lebih kecil yang berdiri sebagai gerbang ataupun pagar samping. Dengan demikian nampak secara nyata adanya bangunan candi induk yang merupakan tempat utama pemujuaan yang biasanya berposisi lebih tinggi, lebih besar, dan tentu saja lebih sakral.

Kembali berbicara mengenai Candi Lumbung. Sebelum peristiwa erupsi besar Gunung Merapi pada akhir tahun 2010 silam, Candi Lumbung berada tepat di tepian Kali Tlingsing. Akibat derasnya banjir lahar dingin yang menyusul peristiwa erupsi Merapi, tebing di sekitar keberadaan Candi Lumbung terkikis, longsor, bahkan runtuh. Hal tersebut tentu saja sangat mengganggu keberadaan dan kelestarian bangunan Candi Lumbung. Alasan ancaman lahar dingin inilah yang memaksa bangunan Candi Lumbung harus diungsikan ke lokasi yang lebih aman.

Secara prinsip peraturan perundang-undangan mengenai bangunan cagar budaya sekaligus warisan sejarah, keberadaan lokasi candi tidak diperkenankan berpindah dari lokasi awal penemuannya. Candi Lumbung yang saat ini untuk sementara waktu “mengungsi” di Dusun Tlatar sebenarnya juga masih bersifat sementara waktu. Tanah atau lahan yang kini ditempati Candi Lumbung sejatinya adalah tanah kas desa milik Desa Krogowanan.

candi-lumbung-magelang1

Penggunaan tanah lokasi Candi Lumbung tersebut berdasarkan hubungan keperdataan sewa-menyewa atau kontrak tanah untuk lima tahun penggunaan. Dengan demikian, apabila masa waktu kontrak lima tahun tersebut selesai, ada kemungkinan kontrak diperpanjang ataupun dihentikan. Jika yang kemudian terjadi adalah kontrak tidak diperpanjang atau pemilik lahan tidak mau lagi menyewakan tanahnya, lalu kemanakah gerangan Candi Lumbung harus mengungsi untuk ke sekian kalinya? Apakah akan ada kejadian sebuah candi menjadi gelandangan tanpa alamat yang jelas?

Akibat erupsi yang disusul dengan ancaman banjir lahar dingin di beberapa sungai yang berhulu di puncak Merapi ternyata tidak hanya mengancam jiwa penduduk sekitar yang terpaksa diungsikan untuk beberapa lama. Peristiwa tersebut juga menyebabkan terjadinya pengungsian sebuah candi. Sebuah kejadian yang baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah negara kita.

Sebagaimana nama yang disandangnya, Candi Lumbung di samping menjadi tempat pemujaan atau peribadahan juga diperkirakan berfungsi sebagai lumbung. Lumbung adalah tempat atau bangunan yang difungsikan untuk menyimpan berbagai hasil bumi. Adalah adat dan tradisi masyarakat Jawa yang secara turun-temurun berprofesi sebagai petani, setiap habis masa panen tidak semua hasil bumi dikonsumsi secara langsung. Sebagian diantara hasil panen tersebut disimpan untuk mencukupi kebutuhan pangan hingga masa panen di musim berikutnya.

Lokasi Candi Lumbung yang sekarang ini tepat berada di pinggiran jalur utama Blabak-Ketep Pass. Dari pertigaan Blabak di Jalan Jogja-Magelang, kita dapat menyusuri jalan tembus arah Boyolali yang melewati celah Merapi-Merbabu. Sekitar 8 km, selepas melewati pertigaan Pasar Tlatar, Candi Lumbung berdiri dengan megah pada sebuah pelataran di pinggiran kiri jalan.

candi-lumbung-magelang2

Meskipun memiliki nilai sejarah yang sangat penting, keberadaan Candi Lumbung belum begitu diketahui masyarakat umum, terlebih para wisatawan dari luar daerah. Hal ini menyebabkan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui keberadaan Candi Lumbung dan berkesempatan mengunjunginya. Hingga saat ini tidak dikenakan tiket maupun retribusi apapun bagi para pengunjung candi.

Bagi Anda yang mengunjungi Magelang, jangan hanya singgah di Candi Borobudur saja. Magelang memiliki puluhan candi di samping candi Budha termegah tersebut. Terlebih jika Anda berwisata menikmati keindahan panorama Gunung Merapi melalui Ketep Pass, sangat sayang jika tidak menyempatkan diri untuk sekaligus singgah di Candi Lumbung. Candi Lumbung akan sangat tersanjung dengan kedatangan Anda semua. Monggo.

Lor Kedhaton, 14 Desember 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Candi Lumbung, Candi Gelandangan Pasca Erupsi Merapi

  1. Eko Magelang berkata:

    mas Nanang saya kok lagi tahu ada candi di ungsikan sementara, lha piye satu candi dipindahkan, trus bagaimana dengan nilai sejarah dan (mungkin) magis suatu candi dengan tanah mereka awal dibangun……..

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Kalau dari perspektif asal-usul kesejarahan dan nilai magisnya tentu menjadi tidak sama sebagaimana awalnya…tetapi fakta obyektif lingkungan tapak candi yang berbahaya juga harus direspon dengan kebijakan penyelamatan bangunan

      Suka

  2. Yeni Setiawan berkata:

    Kasihan candinya harus ngontrak, tapi bagaimana lagi, daripada longsor dan rusak..

    Suka

  3. Penasaran nih sama Candi Lumbung. Apalagi kalau tau untuk masuk nggak dikenakan biaya masuk. Harus coba nih untuk penikmat akrya candi seperti saya. Makasih infonya, pak. Pas tahun baru ke sana pasti ramai nggak ya?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s