Kisah Pilu Seorang Ibu


Sore itu cuaca sedikit mendung sebagaimana hari-hari sebelumnya. Dengan segala berat hati, saya harus melangkahkan kaki untuk meninggalkan kampung halaman tercinta. Rasa berat hati itu terasa semakin berat mengingat baru beberapa hari sebelumnya kami kehilangan nenek kami tercinta. Namun bagaimanapun roda hidup harus terus berlanjut. Sehingga demi tanggung jawab pekerjaan, mau tidak mau raga ini harus kembali ke tanah rantau yang sudah menanti.

Dengan berbagai pertimbangan dan juga kesempatan yang ada, saya menggunakan bus antar kota antar provinsi untuk kembali menyambangi ibu kota. Tentu saja saya lepas landas dari Terminal Drs. Prayitno Muntilan. Kebetulan di malam sebelumnya saya juga sudah titip weling memesan tiket bus kepada salah seorang kerabat yang kebetulan turut menghadiri tahlilan nenek kami. Dengan demikian, tentu saja saya naik bus berangkat dari agen bus di Terminal Muntilan.

Setelah tiba di agen bus dan mendapatkan tiket, sayapun bergabung duduk dengan beberapa calon penumpang yang lain. Nampak di sudut ruang tunggu, seorang ibu setengah baya juga tengah menunggu busnya tiba. Sembari sama-sama menunggu bus, saya mulai membuka pembicaraan dengan ibu tersebut.

Dari sedikit pembicaraan ngalor-ngidul, ibu tersebut mengungkapkan curahan hatinya. Ia sudah tidak lagi memiliki orang tua maupun kerabat di kampung halamannya. Kepulangannya kali inipun sekedar menengok salah seorang temannya yang baru melahirkan. Namun di luar cerita kepulangannya tadi, secara garis besar iapun menceritakan kisah hidupnya yang saya rasa sangat mengharu biru.

Sebagaimana nampak di raut mukanya, perempuan setengah baya itu memang seorang pekerja keras dan nampaknya telah tertempa dalam kehidupan yang keras pula. Selama separuh lebih masa hidupnya telah dihabiskannya di lingkungan sebuah pabrik garmen di kawasan Bantar Gebang, Bekasi. Lingkungan hidup yang keras rupanya pernah menyisakan luka jiwa yang menyanyat dan tidak terobati hingga kini.

Tidak seberapa lama bekerja di pabrik yang hingga kini setiap diabdinya, ia berkenalan dengan seorang pria. Perkenalan itupun berlanjut ke tingkat hubungan yang lebih serius hingga bermuara di mahligai pernikahan. Hari-hari indahpun kemudian mengisi keseharian pasangan muda-mudi tersebut. Bahkan tidak seberapa lama usia pernikahan mereka, seorang bayi mungil nan lucu semakin melengkapi kebahagiaan rumah tangga baru tersebut.

Di luar kesibukan keseharian, rupa-rupanya sang suami memiliki kegemaran atau kebiasaan nonton ronggeng. Ibarat pepatah nasehat ojo cedhak-cedhak kebo gupak, agar seseorang pandai-pandai dalam bergaul dan mencari teman, persentuhan dengan dunia ronggeng tentu juga menyeret kepada hal-hal negatif yang “identik” dengan pandangan masyarakat secara umum kehidupan peronggengan.

Lama-kelamaan, perlahan namun pasti jagad ronggeng telah menghanyutkan sang suami hingga pelan-pelan lupa dengan keluarga kecilnya. Isu atau berita mengenai kedekatan sang suami dengan salah seorang bintang ronggeng tentu saja lama-kelamaan sampai juga ke telinga sang istri. Hal itu tentu saja menimbulkan perselisihan-perselisihan kecil yang kemudian semakin tak terkendali, dan menimbulkan pertengkaran-pertengkaran besar. Ujung dari kenyataan pahit itu adalah kepergian sang suami meninggalkan istri beserta anak semata wayang yang belum genap berusia tiga tahun. Sang suami seolah hilang ditelan rimba tanpa kejelasan. Keterangan terakhir yang diketahui sang istri bahwa sang suami pergi kabur bersama si ronggeng pujaannya.

Hidup harus terus berjalan sebagaimana roda harus terus berputar. Meyakini suratan Sang Maha Kuasa, perempuan setengah baya itupun meneruskan hidup dengan segala daya upaya untuk berjuang demi masa depan anaknya semata wayang. Hingga saat kini anaknya sudah berusia dua puluh sembilan tahun, sang suami tidak pernah berkirim kabar. Bahkan pada saat anaknya menikah beberapa tahun silam, suami tak bertanggung jawab itupun tidak pernah menampakkan batang hidungnya.

Hari itu saya pribadi mendapat pelajaran hidup yang sangat berarti. Seingin-inginnya manusia ingin hidup bahagia, ternyata Tuhan senantiasa punya kuasa atas setiap penggal jalan hidup kita. Susah dan gembira, sedih dan senang akan senantiasa menjadi warna dalam setiap episode kisah hidup kita. Barangkali yang disebut manusia bahagia tidak lagi bisa dilihat secara hitam putih sebagai orang yang sama sekali tidak pernah kesusahan. Orang yang bahagia bisa jadi orang yang mampu istikomah untuk tetap berpegang teguh kepada tali-Nya dan senantiasa mengambil hikmah dari setiap hal yang dijalani untuk terus berproses menjadi manusia yang lebih baik.

Bogor, 12 Desember 2016

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s