Kerukunan Beragama Ala Desa


Petang selepas Maghrib itu langit mencurahkan air hujan dengan sangat lebatnya. Hujan sedikit reda selepas sembahyang Isya’. Namun demikian hujan deras lebat masih menyisakan gerimis miwis yang sedemikian panjang.

Malam itu adalah malam ke dua kepergian Biyung Tuwo Hardjo Pawiro. Sebagaimana tradisi yang hidup di kampung kami, maka hingga di hari ke tiga dari meninggalnya seseorang, semua kaum kerabat dan tetangga berkumpul untuk memanjatkan doa bersama. Acara semacam itu biasa disebut slametan atau tahlilan, atau ada juga yang mengistilahkan yasinan.

Adalah diajarkan oleh para alim ulama bahwasanya salah satu amalan yang tiada akan putus mengalirkan pahala kepada seseorang yang telah meninggal sekalipun adalah doa-doa dari anak yang sholeh dan sholihah. Mengacu kepada ajaran itulah, selama tujuh malam berturut-turut pada saat meninggalnya seseorang digelarlah doa bersama atau tahlilan tadi.

Beberapa waktu yang lalu, tradisi tahlilan yang dihadiri oleh kaum kerabat dan para tetangga dekat, termasuk dari berbagai dusun dan kampung di sekitarnya, digelar selama tujuh malam penuh. Ratusan orang datang berkumpul di rumah shohibul musibah untuk turut memanjatkan doa. Namun dengan berbagai pertimbangan, tradisi pada saat ini yang paling umum diterapkan bahwasanya tahlilan dalam skala besar hanya diselenggarakan selama tiga malam. Adapun malam ke empat hingga malam ke tujuh biasanya hanya diselenggarakan tahlilan skala kecil yang dihadiri kerabat inti dan para tetangga satu dusun saja.

Kembali ke malam ke dua kepergian Biyung Tuwo Hardjo Pawiro tadi. Gerimis yang panjang menyebabkan para kerabat yang datang untuk mengikuti doa dan tahlilan bersama sedikit berkurang. Pelataran rumah yang sudah dipersiapkan dengan tratag dan tatanan kursi untuk para tamu nampak lengang. Hal itu tentu saja sangat dapat dimaklumi karena jarak antar dusun yang tidak dekat tentu saja menjadi hambatan tersendiri apabila disertai dengan hujan yang berkepanjangan.

Menjelang pukul 20.00 WIB rangkaian doa dan tahlilan segera dimulai. Sebelum acara inti, Pak Bayan atau Kepala Dusun Mangunsari menyampaikan beberapa patah kata sambutan mewakiliki shohibul musibah. Selanjutnya rangkaian tahlilan dan doa diruúsi atau dipimpin oleh Kaum Desa Mranggen yang berasal dari Dusun Kedungsari. Dengan tertib jamaahpun mengikuti panduan Pak Kaum dan khusyuk mengumandangkan kalimat tahlil.

Diantara para jamaah yang hadir, ada sebagian diantaranya yang duduk di sisi sayap kanan dan kiri teras rumah. Sebagaimana para hadirin yang berada di ruang dalam, merekapun khusyuk mengikuti tahlil dan doa-doa. Namun diantara para jamaah yang duduk berderet di teras tersebut, nampak ada dua orang bertubuh gemuk yang diam dan hanya menyimak bacaan tahlil serta tidak nampak umak-umik sebagaimana jamaah yang lain. Usut punya usut kedua tamu tersebut ternyata bukanlah ummat muslim sebagaimana sebagian besar hadirin yang lainnya.

Dua tamu yang kita bincangkan di atas memang non-muslim. Lalu kenapa orang non-muslim turut menghadiri acara tahlilan yang dilakukan oleh keluarga muslim?

Berbicara tentang pergaulan, sesrawungan, bahkan hingga kepada kekerabatan dan persaudaraan, ternyata agama bukanlah sebuah penghalang yang memutuskan tali persaudaraan. Agama memang soal keyakinan pribadi masing-masing setiap orang. Biarpun agama tidak sama, tetapi yang namanya saudara ya tetap saudara. Yang namanya tetangga juga tetap tetangga. Yang namanya kerabat ya kerabat. Yang namanya teman ya tetaplah teman. Bukankah setiap agama senantiasa mengajarkan penghormatan dan penghargaan terhadap keyakinan ummat agama yang lain? Bukankah tiada satupun agama yang mengajarkan pemaksaan dalam beragama?

Hadirnya warga atau saudara nonmuslim dalam acara tahlilan sebagaimana contoh di atas adalah hal yang biasa dan wajar di kalangan masyarakat desa. Desa atau dusun atau kampung adalah kesatuan kaum kerabat yang dipersamakan oleh tempat tinggal. Satu sama lain sebagai sesama warga adalah saudara, tanpa memandang agama, asal-usul, kaya atau miskin ataupun batasan-batasan primordial yang lainnya. Saudara adalah saudara!

Kehadiran warga nonmuslim dalam sebuah pertemuan hajat tahlilan bukan berarti mereka mencampur-adukkan antar ajaran agama. Mereka hadir sebagai sesama warga atau saudara. Kehadiran mereka an sich sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum ataupun almarhummah yang masih diakuinya sebagai saudara atau kerabat. Bahwa momentum yang bisa mereka hadiri bersamaan dengan saat-saat digelarnya acara tahlilan tidaklah menjadi persoalan dan penghambat. Dan ketika hadirin memanjatkan tahlil dan doa-doa, merekapun khusyuk mendengar sebagai tanda penghormatan. Dan lebih daripada itu, dengan cara dan keyakinannya, merekapun pastinya turut memanjatkan doa untuk kebaikan almarhum atau almarhummah.

Kerukunan antar ummat beragama merupakan salah satu sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dewasa ini timbul isu-isu maupun provokasi yang memperuncing perbedaan agama. Masyarakat yang sudah adem-ayem hidup tata titi tentrem penuh kerukunan, justru diprovokasi dengan berita-berita yang memanaskan suasana. Kejadian dan kasus yang mungkin hanya terjadi di ibukota Jakarta digembar-gemborkan ke seulurh penjuru tanah air seolah-olah kejadiannya menyangkut hajat hidup semua warga negara.

Kabar angin mengenai penistaan agama segala rupa merupakan kabar yang menodai jalinan kerukunan antar ummat beragama yang sudah terjalin sekian abad, bahkan semenjak Republik Indonesia belum lahir di muka bumi. Sejarah rakyat Indonesia adalah perjalanan kerukunan dan kedamaian dalam keberagaman. Perbedaan agama dan keyakinan bukanlah pemecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Jikapun para elit dan penguasa tinggi di kota-kota besar, saling beradu hanya karena perbedaan agama, biarlah kami warga di desa, di pelosok-pelosok gunung dan lembah, akan tetap memelihara kerukunan antar ummat beragama.

Biarpun kami warga desa, hidup ala kadarnya, tetapi kami ingin menjadi manusia-manusia sejati dengan keyakinan dan agama masing-masing. Tidak ingin berlebih dalam mengklaim sebagai ahli surga ataupun orang yang paling benar,  kami hanyalah segelintir manusia yang ingin senantiasa mengamalkan setiap ajaran agama dengan penuh rasa ketaatan. Dan buah dari ketaatan itu bagi kami adalah keluhuran akhlak serta budi pekerti kami yang harus mampu memberikan rasa aman dan damai dalam jalinan persaudaraan yang sejati, bahkan kepada saudara kita yang nonmuslim sekalipun. Itulah salah satu bukti Islam sebagai rahmatan lil álamin. Dan itu berarti bahwa setiap ummat Islam yang meyakini dan menganut agama Islam, juga harus menjadi rahmat bagi segenap alam semesta.

Ngisor Blimbing, 4 Desember 2016

Foto dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s