Biyung Tuwo Hardjo Pawiro


biyung1Perempuan tua itu kami sebut sebagai Biyung. Biyung berarti ibu. Memang perempuan tua itu bukan ibu kami. Dia adalah nenek, ibu dari ibu kami para cucunya. Seharusnya kami menyebutnya sebagai biyung tuwo, artinya nenek. Mungkin hanya sekedar memperpendek sebutan biyung tuwo sehingga kami lebih sering memanggilnya hanya dengan Biyung saja.

Biyung kami bernama kecil Dalmi. Ia anak ke dua dari Simbah Buyut Mangunredjo, cikal bakal atau pendiri Dusun Mangunan atau Mangunsari. Ia adik langsung dari Biyung Sarinten. Biyung Dalmi menikah dengan Simbah Kakung Hardjo Pawiro dari Karanglo. Dengan demikian di masa tuanya, Biyung Dalmi lebih sering disapa sebagai Mbah Hardjo Pawiro putri.

Biyung memang menjadi pengasuh kami di kala masih kecil. Biyung di masa mudanya pernah menjalani bakulan telur ataupun sayur-mayur hingga di Pasar Shopping Kota Jogjakarta. Sehari-hari ia dan beberapa karibnya yang lain berjalan kaki hingga jarak lebih dari 5 km untuk mencapai Stasiun Tegalsari. Dari sana, sebuah kereta kluthuk akan mengantarnya ke jantung Kota Sultan Hamengku Buwono. Kisah ini hanya menjadi sepenggal sejarah Biyung yang dulu senantiasa diceritakannya kepada kami, para cucu-cucunya.

Di masa saya kecil, Biyung adalah wanita tangguh nan ulet sebagaimana para perempuan desa pada umumnya. Dalam keseharian, selain sebagai petani yang ngopeni beberapa petak sawah, Biyung adalah seorang pengrajin tempe. Sambil membawa hasil bumi seperti cabe atau sayur-mayur, Biyung biasa ke Pasar Muntilan untuk sekaligus membeli kedelai sebagai bahan baku  pembuatan tempe. Jikapun tidak membelinya sendiri, kedelai biasa juga dibelikan oleh Bapak di kios pojokan Wonolelo ataupun di tengah Pasar Muntilan. Saya masih sangat ingat, Bapak kadangkala membawa karung goni cokelat untuk membawa kedelai di sedel CB merahnya.

biyung3

Di siang hari, beberapa kilogram kedelai di rendam oleh Biyung di dalam ember ataupun dandhang. Setelah beberapa saat direndam, kedelai tersebut kemudian direbus. Hasil rebusan tersebut kemudian direndam kembali selama semalaman.

Pada pagi hari berikutnya, kedelai yang sudah direbus dan direndam tersebut kemudian dibawa dengan tenggo ke Kali Kedhokan. Dengan diwadahi  krombong dari anyaman bambu, kedelai tersebut kemudian diidak. Diidak artinya diinjak. Memang dalam proses tersebut, Biyung senantiasa berdiri sambil berjalan di tempat tepat di tengah-tengah krombong yang berisi dengan kedelai hasil rendaman. Proses ini bertujuan untuk mengupas kulit kedelai. Demikian dibilas bersih dengan air jernih, kedelaipun terkelupas dari kulitnya dan siap untuk dibawa pulang kembali. Pekerjaan ngidak ini selalu dilakukan Biyung sepulangnya dari berjualan tempe di Njlegong ataupun berkeliling kampung sebelah di pagi hari sambil menyongsong mentari tiba.

Sepulang dari ngidak, Biyungpun bersiap merebus kedelai yang telah terkelupas dari kulitnya tadi. Kedelai di  tempatkan pada soblok yang memiliki sarangan di bagian bawahnya. Kedelai dimatangkan dengan proses penguapan yang dihasilkan dari air yang mendidih di bagian bawah soblok tadi. Sekira satu hingga satu setengah jam, kedelai telah matang. Lalu apa yang dilakukan Biyung selanjutnya?

biyung2

Kedelai yang sudah matang dijereng di atas tampah lebar untuk proses pendinginan secara alamiah. Sekira kedelai setengah hangat, Biyung akan mencapurnya dengan ragi tempe. Ragi tempe yang dibeli dari pasar biasanya tertempel pada daun waru yang dikeringkan. Ragi tersebut diremas hingga lembut agar bisa dicampurkan secara merata ke dalam adoman tempe. Adonanpun siap dikemas alias dibungkusi dengan daun pisang kluthuk. Kegiatan mbungkusi tempe biasanya dilakukan selepas Isya’ dibantu oleh beberapa tetangga terdekat.

Itulah sekilas keseharian Biyung yang senantiasa saya jumpai. Ada beberapa jenis pekerjaan dalam pembuatan yang turut kami bantu sebagai cucu-cucunya, mulai dari turut ngundhuh godhong gedang, nyuwiri tali dari iratan bambu muda, nunggu geni saat perebusan, hingga kadang-kadang turut nggenthuwut menjajakan tempe atau mengantar pesanan tempe. Kami para cucunya sangat bangga sebagai cucu-cucu dari Biyung, si pengrajin tempe dele.

Biyung Dalmi dikarunia dua orang anak perempuan. Yang sulung diberi nama Mursiyem. Adapun si bungsu adalah ibu kami, Sri Komah. Dari dua puteri tersebut Biyung memiliki dua belas cucu. Enam dari anaknya yang pertama dan enam pula dari anaknya yang ke dua.

Selain rutinitas sebagai perajin tempe, Biyung merupakan sosok penganut ajaran Islam yang taat. Soal sholat lima waktu, tentu Biyung tidak pernah ketinggalan. Seminggu sekali di hari Senin, Biyung senantiasa turut rombongan pengajian di Pondok Pesantren Sela Congol atau Watu Congol. Ngaji di tempat Mbah Mad. Selapan atau tiga puluh lima hari sekali, tepatnya di hari Ahad Pon, Biyung tindak pengajian di Masjid Agung Kauman Magelang.

Masjid Demak3

Selain itu, dengan beberapa orang tua yang lain Biyung juga senantiasa menghadiri Grebeg Besar di Masjid Agung Demak. Dari perjalanan inilah Biyung memperkenalkan saya dengan kisah-kisah sejarah Sunan Kalijaga dan para Wali Songo lainnya. Saya termasuk cucunya yang sangat sering diajak ke Demak dan nginep tidur di pendopo masjid pertama di Pulau Jawa tersebut. Selain ziarah ke Kadilangu ke makam Sunan Kalijaga ataupun makam para Sultan di samping Masjid Agung Demak, Biyung juga kerap kali mengajak saya ke Kudus ziarah ke makam Sunan Kudus hingga Gunung Muria ke tempat Sunan Muria.

masjidkudus1

muria1

Jumát Wage, 25 November 2016 bertepatan 24 Safar 1438 H sekitar pukul 13.00 WIB Biyung Dalmi surut ing kasedanan jati pada usia 97 tahun. Biyung meninggalkan dua orang puteri, 12 cucu, dan 21 cicit.

Berita kepergian Biyung untuk menghadap Sang Khalik tentu saja sangat mengejutkan sekaligus sangat menyedihkan kalbu. Setelah kurang lebih selama tiga tahun tubuh Biyung yang semakin renta tidak bisa mengantarkannya untuk sekedar keluar rumah, akhirnya Gusti Allah memberinya jalan yang terbaik. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Segalanya dating dari Allah, dan segalanya kelak kembali kepada-Nya. Yung, doa kami senantiasa menyertaimu. Semoga lapang segala jalan penantianmu menuju ke surga-Nya.

Dari salah seorang cucumu yang tidak akan pernah bisa melupakanmu.

Ngisor Blimbing, 29 November 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Biyung Tuwo Hardjo Pawiro

  1. Eko Magelang berkata:

    nderek belosungkowo njih mas.
    Mugi Biyung diparingi Khusnul Khotimah
    Amin

    Suka

  2. Ping balik: Duka Keluarga Besar Kami | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s