Salah Kaprah Minta Naik Upah


Kantong UangUang? Siapa sih orangnya yang tidak butuh uang? Uang adalah sarana penting untuk mencukupi berbagai kebutuhan hidup kita. Mau makan-minum, butuh uang! Mau sekolah, pakai uang! Mau periksa kesehatan ke dokter, tentu saja pakai uang. Mau beli ini beli itu, sudah pasti tidak bisa tanpa uang. Uang seolah telah menjadi kebutuhan paling primer bagi manusia. Bahkan banyak diantara manusia yang terlanjur kebablasan menuhankan uang. Maka kita mungkin pernah mendengar ungkapan “Keuangan Yang Maha Esa”. Seolah uang bisa mewujudkan apapun keianginan manusia. Masalah apapun bisa diselesaikan dengan uang.

Karena semua orang butuh uang, maka motivasi utama ketika orang bekerja adalah mencari uang. Para pegawai pemerintah rajin ke kantor, karena uang. Para pedagang ke pasar, cari uang. Petani menanam padi, palawija, sayur mayur dalam rangka mencari uang. Demikian halnya para buruh pabrik berpeluh keringat siang-malam juga demi uang.

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan hidup, tentu saja uang yang dikumpulkan harus lebih banyak lagi. Namun di sisi lain, harga-harga segala macam barang kebutuhan kita dari hari ke hari semakin merambat naik. Nilai mata uang semakin lama menjadi semakin tidak berharga. Laju inflasi sedemikian pesatnya sehingga hanya dalam waktu tidak kurang dari sepuluh tahun nilai mata uang sudah terpangkas lebih dari seper seratus. Dhuwit tansaya ora ono ajine! Demikian ungkapan simbah dan pakdhe di dusun kami.

Dari berita di berbagai media massa, masa akhir tahun banyak diwarnai dengan pemberitaan mengenai unjuk rasa para buruh menuntut kenaikan gaji. UMR, upah minimum regional yang selanjutnya menjadi acuan umah minimum provinsi dan kabupaten seolah selalu kalah berpacu dengan laju inflasi. Kebutuhan kian melambung tinggi dan semakin tidak terjangkau oleh kalangan kaum urban kota, seperti saudara kita kaum buruh.

Negosiasi dan kompromi biasanya berlangsung. Antara perwakilan para buruh yang ingin senantiasa ada kenaikan upah dan para pengusaha yang berhitung njlimet antar mempertahankan denyut perusahan yang diambang kebangkrutan, memupuk keuntungan, atau menaikkan upah dengan konsekuensi merumahkan sebagian dari para buruhnya. Di sisi lain, pemerintah berusaha bertindak untuk memediasi perseteruan diantara dua kepentingan yang saling berhadapan tadi.

Dengan segala pertimbangan dan batasan waktu deathline, putusanpun lalu diambil. Tidak semua pihak bisa dipuaskan, tetapi ketetapan harus diambil. Pun seandainya tuntutan buruh dikabulkan dan upah dinaikkan, apakah kemudian kemampuan daya beli para buruh untuk memenuhi kebutuhannya meningkat? Nanti dulu, Sedulur!

Berkha kenaikan gaji pegawai dan juga kenaikan upah buruh, lazimnya juga harus bisa dinikmati semua orang. Begitu mendengar berita adanya kenaikan gaji atau upah, buru-buru yang bakulan sayur menaikkan harga dagangannya. Si tukang ojek menaikkan tarif langganannya. Semua pihak intinya juga ingin mendapatkan “anugerah” kenaikan pendapatan. Akhirnya bareng-bareng semua harga berjamaah mengalami kenaikan. Dan jebulnya kenaikan gaji atau upah yang diterima tidak bisa mengimbangi kenaikan harga.

Bulan madu kenikmatan menerima kenaikan upah tidak bisa berlangsung sepanjang tahun. Hanya satu-dua minggu, atau paling panjang satu bulan. Setelah itu keadaan berangsur-angsur kembali “kekurangan” yang nantinya menjelang akhir tahun berikutnya harus diihtiari demo lagi, turun ke jalan lagi, unjuk rasa lagi, minta naik gaji lagi!

Jika hal ini yang terjadi, siklus naik gaji naik harga, demo lagi, unjuk rasa lagi akan selalu terulang setiap tahun dan tidak ada solusi pasti mengenai peningkatan daya beli bagi orang kecil. Yang kaya akan semakin kaya, sementara yang miskin akan semakin terpuruk! Lalu dimanakah hadirnya negara bagi kalangan rakyat miskin kalau yang selalu terjadi setiap tahun adalah laju inflasi yang semakin tidak terkendali?

Alih-alih menuntut kenaikan gaji atau upah, strategi tuntutan ke depan mungkin harus diubah dengan menuntut penurunan harga berbagai barang kebutuhan hidup. Biarpun nilai nominal gaji atau upah kita kecil, tetapi dengan laju inflasi yang terkendali uang menjadi sangat berarti. Uang kembali ada ajinya, ada harganya!

Orang-orang di Eropa, di Amerika tidak perlu gaji berjuta-juta. Mereka mungkin hanya bergaji hitungan ribuan euro atau dollar, tetapi mereka berkecukupan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka dengan leluasa bisa senantias melancong ke negara kita. Sedangkan kita? Gaji hitungan jutaan, tetapi nilai mata uang kita sepersekian puluh ribunya dari mata uang mereka. Saya rasa cukup logis usulan ringan yang saya sampaikan. Ada yang setuju dengan pendapat saya? Monggo direnungkan kembali.

Lor Kedhaton, 25 November 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s